22 Mei, 2018
  • 22 Mei, 2018

Ketika Petasan Beradu dengan Sholawatan

By on 1 Januari, 2018 0 0 Views

Ketika Petasan Beradu dengan Sholawatan

 

Mungkin, sekarang ini, orang-orang di luar sana sudah beramai-ramai merayakan “tahun baru”. Berkumpul dengan keluarga, membakar jagung di depan rumah sambil menikmati petasan yang membumbung ke langit. Juga para muda-mudi yang sibuk di jalanan, kafe-kafe, alun-alun kota, stadion dan tempat umum lainnya. Tidak bukan yang mereka lakukan adalah menikmati malam pergantian tahun dengan canda-tawa dan berbagai euforia tiada batas.

 

Dan jauh dari segala perayaan memperingati tahun baru masehi, santri-santri Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” menghadapi 31 Desember malam dengan gema sholawat nabi. Seluruh santri-santri dari SMP, SMA, STIKK hingga pengurus menggemakan sholawat maulid Ad-Dibai secara bersama-sama. Gema sholawat yang dilaksanakan di depan masjid An-Nur 2 bagi santri SMA dan di Aula SMP An-Nur bagi santri SMP itu telah mengalahkan suara petasan yang meletus-letus di angkasa.

 

Karena, bagi para santri, berpindahnya tanggal 31 Desember 2017 ke 1 Januari 2018 tidak lebih adalah bentuk kesempurnaan bumi berevolusi mengitari matahari. Maka dari itu, bukan petasan yang meramaikan langit An-Nur II, melainkan rahmat Allah yang turun berkat sholawatan.

 

Seperti yang disampaikan oleh Syahrial Ahmad dan Al-rafif Diffa dalam sebuah puisi yang mereka bawakan pada rentetan acara selanjutnya. Dengan gaya khas mereka serta sebuah puisi yang dibawakan secara tanya jawab ini berhasil menghipnotis para santri SMA itu. Dari puisi yang menggambarkan kedua sosok sisi pro dan kontra tahun baru ini menyadarkan para santri akan pentingnya menjaga sikap moral di pesantren. Seperti ini cuplikan puisi itu dibacakan,

“Senja menggantikan fajar yang hilang, dan esok nanti engkau temui harapan suci yang baru.”

“Salah! Seharusnya kita sedang berpesta! Menyalakan sumbu ledakan pelangi bersama-sama, tiup terompet serta menari.”

“Alangkah lebih berfaidah?! Bila tutup masa penghabisan ini sambil merapal pujian pada Rasulillah, sampai dengan taubat untuk ilahi!”

“Wahai! Tidak kah kalian ingin mengecap ultah dunia yang sekejap?! Kuseru kalian yang masih bertahan!”

“Wahai! Tahuulah kalian segala malam ini bisa menjadikan jalan yang haram!”

Para santri terdiam, lalu riuh tepuk tangan terdengar.

 

Apa yang telah dipuisikan oleh kedua santri kelas 6 Diniyah itu merupakan sebuah penggambaran pemuda masa kini. Setelah di malam hari merayakan dengan petasan, baru lah di hari esok diramaikan dengan liburan. Tetapi, santri An-Nur II tetap menjalani hari esok dengan tafsiran, ro’an, hafalan, setoran, sorogan, menyelesaikan cucian dan tak lupa mayoran.

 

Setelah tampilnya dua komedian amatiran, dan tim acapela yang mengaransemen sholawat dengan lagu pop masa kini, giliran Ahmad Matofani maju ke atas pentas. Santri stand up komedi ini adalah yang paling ditunggu-tunggu. Nasihat-nasihat berkaitan dengan sikap kesantrian berhasil ia kemas dalam lelucon-leluconnya yang segar dan menghibur. Maka tak heran kalau seluruh santri hilang rasa kantuknya meski hari semakin malam.

 

Dalam nasihat yang dikemas dalam joke­-nya itu, ada satu kalimat yang paling mengena di hati para pendengarnya. Yaitu, “Bagaimana bila aksi tiup terompet itu diikuti oleh malaikat Isrofil dengan sangka-kalanya? Jadi apa yang mereka rayakan?” penonton riuh.

 

(MFIH)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.