Kesaksian Murid: Kiai Bad Hafal Bulughul Marom Beserta Madlulnya

Kesaksian Murid: Kiai Bad Hafal Bulughul Marom Beserta Madlulnya

“Hooop!!!!!” Terdegar sangat riuh jeritan kelas 2 Tsnawiyah sore itu, puluhan tahun yang lalu, berusaha menyetop guru yang terlalu kencang baca makna.

Dengan sedikit tertawa, K. Saifudin Zuhri bercerita kesan saat diajar Almaghfurlah Kiai Badruddin semasa nyantri di Sidogiri. Ust. Badruddin, panggilnya dulu, kalau mengajar aneh. Beliau datang, duduk dan membuka kitab di depan mejanya.

Tanpa berhaha-hihi, beliau lantas bertanya “Sampai lafaz mana?” Halaman sekian Ustaz, jawab para muridnya. Setelah mengerti, kitabnya ditutup. Dan langsung memulai baca kitab beserta maknanya. “Waktu itu beliau mengajar kitab Bulughul Marom. Kalau pas baca kitabnya ditutup.” Tutur Kiai Sai mengingat diajar Kiai Bad.

Masa itu, lanjut Kiai Sai asal Sidomulyo Sumawe ketika ditemui Media Tech An-Nur II, Kiai Bad jadi salah satu pengajar di Sidogiri. Beliau biasa dipanggil Ustaz Bad atau Gus Bad, sapaanya. Kebetulan beliau punya jadwal ngajar seminggu sekali di kelas 2 Tsanawiyah, kelas Kiai Saifuddin beserta 34 teman sekelasnya. Kitab ajarnya Bulughul Marom, kumpulan hadis terkait fikih yang cukup tebal.

Gaya mengajar beliau

Gaya mengajar beliau sangat khas. Setelah nyaman duduk beliau langsung menanyakan batas terakhir sampai mana. Kemudian kitab ditutup dan membaca dengan cepat tanpa melihat. Tidak heran kalau kemudian anak-anak berteriak “Hooooop!!!” saking kencang bacanya. “Dan sangat jarang pengajar seperti beliau ini.” Ucap Kiai kelahiran 1954 seusai pertemuan Alumni Sidogiri se-Malang Raya di Ponpes An-Nur II Al-Murtadlo (14/01).

Cara beliau mengajar terkesan santai. Untuk mengetahui kefahaman santri, Kiai Bad paling pintar cari peluang. Beliau mendadak ngetes satu persatu secara bergilir. “Waduh. Maaf Kiai. Masih belum hafal”. Jawab Kiai Sai, mengingat dirinya pernah ditanya tentang Madlul hadis oleh Kiai Bad. Hebatnya, Kiai tidak marah. “Itu istimewanya beliau. Paling Cuma bilang ‘Ya besok harus hafal’ pada saya”. Tuturnya menafsiri sosok Kiai.

Demikian istimewa Kiai Bad sebagai guru fak hadis. Para santri kelas 2 Tsanawiyah, termasuk Kiai Sai sendiri, belum tahu betul apa memang beliau benar-benar hafal atau mungkin saja sebelum datang ke kelas beliau hafalkan dulu. Presepsi yang masih tagu itu akhirnya terang ketika Kiai Bad bercerita pengalaman mondoknya di PP. Al-falah, Ploso.

Begini, Kiai Bad sempat diutus Kiai Jazuli, sesepuh dan pendiri Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, merawat 5 ekor kambing. Sebenarnya jumlah kambing milik Kiai Jazuli sebanyak 20 ekor. Sebab barokah ikhlas dan telaten angon kambing itulah, Kiai Bad dapat menghafal sebanyak 5 macam kitab. Salah satunya Bulughul Marom beserta ‘Madlulnya’ (tafsir untuk sebuah hadis). Kata beliau, Kiai Bad “Seandainya Kiai Jazuli menyerahkan semua kambingnya, niscaya ‘20 kitab akan saya hafal’”.

loyalitas beliau

Loyalitas Kiai Bad terhadap gurunya sangat tinggi. Beliau memosisikan guru di puncak teratas. Sampai beliau pernah dawuh “Kalau Kiai Kholil (Sidogiri) dan Kiai Jazuli (Ploso) mengutus saya, sampai mati pun saya lakukan”.

Kiai Sai juga mengakui, saat menjadi ketua IASS (Ikatan Alumni Santri Sidogiri) Malang Raya, bahwa beliau amat menghormati gurunya. Ketika diajak membantu material demi pembangunan gedung Sidogiri, lantas Kiai bilang “50 Sak semen, kurang?”.   

Selaras dengan yang dikutip dari Kiai Zainuddin, putra beliau, bahwa “Abah sangat hormat terhadap gurunya. Bahkan sampai putra dan cucunya. Terkadang kami sebagai putra-putri beliau merasa iri, sebab walaupun keturunan gurunya masih kecil tapi beliau hormat dan memperlakukan dengan baik”. Ucap beliau, saat ditemui Media Tech An-Nur II pada januari lalu.

(Ilham Romadhan/Mediatech An-Nur 2)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II