Mulia Dermawan
Sifat dermawan merupakan suatu perilaku yang identik dengan suka memberi. Dalam artian, memberi sesuatu yang pantas kepada orang lain dengan senang hati tanpa mengharap imbalan apapun. Baik itu berupa pujian, kedudukan, balasan, atau hanya sekedar mengharapkan kata “terima kasih” dari orang yang kita beri.
Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa seseorang mendapat sebutan dermawan tatkala orang itu memberikan sesuatu kepada orang lain dengan ikhlas. Jadi, semisal seseorang telah memberi sesuatu tapi hatinya mengharapkan imbalan, orang ini masih belum sampai derajat dermawan.
Oleh karena itu, marilah kita menjadi pribadi yang suka memberi sesuatu yang layak kepada orang lain. Karena Allah Swt menyukai hamba-Nya yang dermawan, walaupun perkara yang ia berikan itu hanya berupa sebiji kurma.
Jangan sampai kita menjadi orang yang kikir, karena Allah SWT tidak menyukai perilaku tersebut. Selain itu, kita tidak boleh mempersulit suatu perkara terhadap seseorang, karena jika demikian, Allah akan mempersulit pekerjaan kita juga.
Mulianya Sifat Berani
Pada umumnya berani merupakan sebuah perilaku yang menjalani suatu hal yang berisiko tinggi terhadap diri seseorang. Dalam pandangan agama Islam, keberanian merupakan keteguhan hati dan kekuatan pendirian dalam membela dan mempertahankan kebenaran secara bijaksana dan terpuji.
Maka dari itu, sikap keberanian perlu ada di hati mereka yang senantiasa istikamah di jalan Allah Swt. Karena dengan keberanian, mereka akan mengungkapkan kebenaran walaupun ungkapan tersebut pahit dan ketika memberi persaksian mereka yakin akan pertolongan Allah SWT.
Dengan keberanian, seseorang akan terdorong untuk melakukan pekerjaan berat dan mengandung risiko demi mempertahankan kehormatannya. Namun, jika sikap keberanian diaplikasikan ke dalam ranah yang salah, justru akan menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam kehinaan.
Keutamaan Menjauhi Perkara Syubhat
Perkara yang syubhat merupakan suatu perkara yang tidak ada kejelasan atau samar akan status hukum barang tersebut. Maka dari itu, Allah Swt menyukai hamba-Nya yang memiliki pandangan yang kokoh dan mampu menahan diri dari perkara syubhat yang ada di hadapannya.
Selain itu, Allah SWT juga menyukai hamba-Nya yang masih memiliki akal yang sempurna dan ia bisa menguasai dirinya apabila ada hal yang menimbulkan syahwat menimpanya.
Dengan demikian, kedermawanan, keberanian, serta menjauhi dan menjaga diri dari perkara yang syubhat merupakan sifat-sifat yang mulia. Oleh karena itu, Allah Swt menyukai hamba-hamba-Nya yang memiliki dan menerapkan sifat-sifat tersebut.
Seperti yang telah diriwayatkan dalam hadis pada kitab al-Arba’una fi at-Tashawwuf karangan Imam Abdurrahman as-Sulami:
عن عمران بن حصين قال: أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بطرف عمامتي من ورائي, ثم قال: يا عمران إن الله يحب الإنفاق ويبغض الإقتار فكل وأطعم ولا تصره صرا فيعسر عليك الطلب واعلم أن الله يحب البصر النافذ عند مجيء الشبهات والعقل الكامل عند نزول الشهوات ويحب السماحة ولو على تمرات ويحب الشجاعة ولو على قتل حية.
Dari Imron bin Hashin, beliau berkata:
“Suatu ketika Rasulullah saw memegang pucuk surbanku dari arah belakangku. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ‘Wahai Imron, sesungguhnya Allah Swt menyukai hamba yang menginfakkan hartanya dan Allah Swt membenci hamba-Nya yang kikir, maka makanlah dan berilah makanan. Jangan engkau kikir dalam saling memberi makanan karena itu akan mempersulit dirimu dalam mencari sesuatu.
‘Ketahuilah, sesungguhnya Allah Swt menyukai hamba-Nya yang memiliki pandangan yang kokoh tatkala perkara syubhat menghampiri, hambanya yang masih memiliki akal yang sempurna tatkala syahwat menimpa dan Allah Swt menyukai hamba-Nya yang dermawan walaupun hanya sebatas beberapa kurma serta orang yang berani walaupun ia hanya membunuh seekor ular.’”
(Asleh Hamidun/Lingkar Pesantren)
