Kebodohan Orang Kafir Makkah
Bagaimana jika ada seekor kelinci menantang singa untuk bertarung atau sekedar saling menjambak. Siapa yang akan menang? Tidak usah menjadi pertanyaan pun semua tahu kenyataan singa pemenangnya. Namun, bagaimana jika seseorang hamba hina lagi lemah, punya banyak kekurangan menantang Tuhan?
“Tidaklah mungkin Al-Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (turun) dari Tuhan semesta alam.” Surat Yunus, ayat 37. Merupakan cerita tentang tindakan orang kafir yang menantang Allah.
Yakni orang-orang kafir yang tidak bisa menjaga mulut dan perilaku. Mulutnya yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah buatan Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi mereka mengingkari kebenaran jika Al-Qur’an berasal dari Allah SWT.
Padahal sebelum Nabi menerima wahyu pertama dan diperintah untuk berdakwah, orang kafir Makkah itu menjuluki Nabi sebagai orang paling jujur, paling amanah, dan paling putih hatinya. Akan tetapi kenapa setelah Nabi mulai berdakwah, seakan-akan semua yang keluar dari mulut beliau adalah dusta. Padahal kebodohan mereka sendiri yang menyebabkan mereka buta.
Buktinya sesuai yang tercantum dalam Surah Al-A’raf ayat 195, “Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku. tanpa memberi tangguh (kepada-ku)”.
Allah menjelaskan betapa bodohnya mereka menyembah hal yang tidak bisa bergerak, apalagi mengabulkan doa. Berhala-berhala itu hanyalah sebuah batu yang tidak bisa menggerakkan kakinya. Mereka juga tak mampu menggerakkan tangannya. Bahkan hanya mendengar dan melihat mereka tiada mampu. Lalu kenapa mereka menyembahnya?
Gara-gara kebodohan ini, mereka sampai mengingkari Al-Qur’an berasal dari Allah. Mereka megatai bahwa Al-Qur’an adalah hasil salin tempel kitab-kitab terdahulu. Semisal mereka berpikir, titik terang bakal terlihat. Namun, kenapa mereka malah tetap menyalahkan dan tidak mau percaya.
Nabi adalah orang yang umi, tidak bisa baca tulis. Maka bagaimana cara menyalin kitab-kitab orang terdahulu. Oleh karenanya, Nabi umi bukanlah sebuah kekurangan. Melainkan beliau menjaid utusan dalam keadaan seperti itu adalah untuk menolak gagasan orang-orang kafir itu.
Kalaupun Nabi bisa baca dan tulis Al-Qur’an tetaplah bukan buatan Nabi. Allah pun menantang orang-orang kafir untuk membuat padanan Al-Qur’an. Membuat sebuah kalimat dalam bahasa Arab dengan benar dan indah. Namun keindahannya tidak boleh menyalahi aturan tatanan bahasa Arab dan memiliki arti mendalam dan luar biasa.
Tantangan Allah tidak ada yang bisa memenuhinya, tidak ada yang berhasil. Tidak pernah ada orang yang mampu membuat padanan Al-Qur’an. Tantangan dari Allah bertahap.
Awalnya, membuat 30 juz semisal Al-Qur’an. Tidak ada yang bisa. Allah menyuruh membuat 10 surah. Tidak ada yang mampu. Allah menantang untuk membuat satu surah saja. Tetap tidak ada yang mumpuni. Akhirnya hanya satu ucapan yang sebanding dengan Al-Qur’an. Meski begitu, tidak ada yang bisa menjawab tantangan Allah.
Sudah jelas sekali Allah yang Mahabenar adalah pemenang. Mana bisa seorang manusia biasa yang gak bisa apa-apa tanpa Allah, dengan sombongnya mengingkari Al-Qur’an dari Sang Mahakuasa. Tindakan orang-orang kafir itu malah mencerminkan kebodohan mereka, bukan membuatnya tanpak keren dengan menantang Tuhan.
(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)