Terbaru

Kartu Lebaran vs Silaturahmi

By on 10 Agustus, 2012 0 18 Views

Oleh: Helmi

Tak terasa, umat Islam sudah melaksanakan ibadah puasa lebih dari dua puluh hari. Ibadah puasa tinggal beberapa hari lagi. Bulan puasa akan digantikan dengan bulan baru, bulan Syawal, hari-hari kebahagian dan “kebebasan” umat Islam dari peraturan-peraturan puasa. Moment lebaran dijadikan ajang kemesraan relasi baik antar family, partner kerja, sesama teman, atau dengan komunitas sosial lainnya. Menjalin kemesraan hubungan tersebut bisa dengan berbagai cara, metode dan sarana.

 

Kartu lebaran menjadi salah satu cara efektif, ekonomis, namun tidak menghilangkan kesan elegan, dalam menjalin keakraban dan kemesraan dengan berbagai relasi sosial di atas. Kartu lebaran, bila ditelisik dari aspek historis, secara gradual mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Bermula dari hanya secarik kertas polos dengan tinta yang mewakili ungkapan seseorang, berkembang menjadi selembar kertas berwarna-warni, dengan berbagai model, dibumbui aroma harum parfum, lalu dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat dan dahsyat, kartu lebaran tampil dengan tampilan yang lebih praktis, elegan, variatif. Dan yang terkini, kartu lebaran itu disulap dalam bentuk video dengan menggunakan fitur I-Video. Hebatnya lagi, fitur ini tidak hanya bisa digunakan via komputer/ laptop, tetapi juga bisa diakses dari handphone yang sudah dilengkapi dengan fitur ini.

 

Perkembangan “fenomena kartu lebaran” ini di satu sisi memberikan keuntungan dan kemudahan yang luar biasa bagi umat Islam dan manusia secara keseluruhan. Dengan kartu lebaran, kita tidak perlu menempuh perjalanan panjang untuk mengutarakan permohonan maaf kepada rekan atau family. Kita tidak perlu lagi membelikan mereka oleh-oleh. Kita tidak perlu lagi mengeluarkan budget yang tinggi untuk melakukan silaturahmi, berkunjung kepada mereka. Namun, esensi dan substansi dari niat tulus kita, yakni memohon maaf dan mengucapkan selamat lebaran, masih tersalurkan dan tersampaikan dengan baik.

 

Ditelisik dari aspek agama, fenomena “kartu lebaran” bisa dikategorikan ke dalam diskursus silaturahmi. Silaturahmi secara sederhana diartikan sebagai usaha seseorang untuk melestarikan dan menyambung ikatan kekeluargaan dan kekerabatan. Mengenai metode, cara dan aktualisasinya bisa bervariasi; dengan berkunjung ke rumah keluarga, sekedar bertatap muka, sekedar mengucapkan salam, mengirimkan hadiah (parcel), mengirimkan surat, kartu lebaran atau hanya sekedar mengirimkan pesan singkat via internet atau handphone. Sepanjang berbagai metode itu memuat substansi dan esensi silaturahmi, maka bisa dipastikan bahwa berbagai cara dan metode tersebut termasuk silaturahmi. Rasulullah saw. pernah berpesan: “Ta’allamū min ansābikum ma taṣilūna bihī arḥāmakum, fa inna ṣilat al-raḥim maḥabbat fi al-ahl, matsrāt fi al-māl, mansa’at fi al-atsar” (Pelajarilah tradisi margamu dalam menyambung silaturahmi, sebab silaturahmi membuat keluarga semakin mesra, penuh kasih sayang, menambah pundi-pundi kekayaan, dan memperpanjang usia). Dalam redaksi tersebut, tujuan utama silaturahmi versi Rasulullah saw. ialah mempererat jalinan keluarga dan membuat kerabat semakin akrab. Mengingat urgensi silaturahmi yang sangat mendasar ini, Rasulullah juga berpesan: “Ṣilū arḥāmakum walaw bi al-salām”, (Sambunglah silaturahmi walaupun hanya dengan mengucapkan salam). Dari redaksi hadis tersebut, jelas Nabi Muhammad saw. mengirimkan satu pesan akan urgensitas silaturahmi. Nabi memahami bahwa tiap orang memiliki kewajiban, strata sosial, dan kesibukan yang variatif sehingga bisa jadi ada seseorang yang terlalu sibuk untuk duduk bersama dan bercengkrama dengan kerabat dan keluarga. Nabi memberikan win-win solution terhadap kemungkinan tersebut, beliau memberikan solusi “Silaturahmi dengan tingkatan terendah (cukup dengan mengucapkan salam)”. Dengan ucapan salam tersebut ,yang berarti doa keselamatan untuk lawan bicara (keluarga dan sebagainya), setidaknya si pengucap salam mengirimkan dua pesan; ia tidak sedang memiliki unge-uneg jelek atau problem dengan lawan bicaranya, ia juga mendoakan agar saudaranya tersebut senantiasa dalam keadaan sehat, selamat dan sejahtera. Atau dengan kata lain, ia tidak sedang dalam situasi “memutus tali persaudaraan dan kekerabatan”.

 

Silaturahmi selain memuat value menjalin keakraban dan mempererat kekerabatan, juga memuat efek positif lainnya dalam perjalanan kehidupan orang yang membudayakan silaturahmi. Setidaknya, efek positif itu tercermin dalam empat hal. Pertama, silaturahmi sebagai bukti keimanan seorang muslim. Keimanan ini menjadi basis fundamental dalam setiap aktifitas seorang muslim. Islam, sebagai salah satu agama di muka bumi ini, pertama harus dipahami dan dihayati dengan hati yang menjadi lokus keimanan seseorang, bukan dengan akal pikirannya. Ketika Allah memberikan instruksi secara langsung (lihat QS. Al-Baqarah, 27;Al-Ra’d, 25; Al-Nisa’, 1) atau melalui rasul-Nya kepada umat manusia untuk menyambung tali kekeluargaan, maka tanpa pikir panjang ia akan melakukan perintah tersebut dengan maksimal dan total. Ia tidak perlu melakukan perenungan, perhitungan dan penafsiran terlebih dahulu terhadap efek-efek yang ditimbulkan dari perintah tersebut. Nabi Muhammad saw. bersabda: “Man kāna yu’minu bi Allah wa al-yawm al-ākhir fal yukrim ḍayfahu, wa man kāna yu’minu bi Allah wa al-yawm al-ākhir fal yaṣil raḥimahu, wa man kāna yu’minu bi Allah wa al-yawm al-ākhir fal yaqul khair aw li-yaṣmut”, (Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, muliakanlah tamu. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, sambunglah silaturahmi. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, ucapkanlah perkataan yang baik atau diamlah). Hadis itu secara tersurat dan tersirat mengandung perintah untuk menyambung silaturahmi. Mafhūm mukhalafah dari hadis tersebut, siapa yang dengan sengaja memutus silaturahmi, dipastikan tidak ada lagi keimanan dalam hatinya. Rasul dengan tegas menegasikan keimanan dari hati orang tersebut. Wal ‘iyādz billah.

 

Kedua, dengan silaturahmi, seseorang bisa menambah pundi-pundi kekayaannya. Yang perlu digaris bawahi, unsur paling utama dalam “memperkaya diri” adalah dengan memperbanyak relasi dan jaringan. Relasi dan jaringan ini tidak bisa diperoleh kecuali dengan menjalin hubungan yang baik dengan keluarga, kerabat, sahabat, rekan bisnis, pelanggan dan seterusnya secara kontinue. Walhasil, seorang muslim yang rajin silaturahmi memiliki kesempatan lebih besar untuk menjadi kaya. Ketiga, silaturahmi membuat awet muda dan memperpanjang usia. Kesehatan, tanpa melihat takdir Tuhan, akan terjaga dengan baik bila suasana hati dan kejiwaan sedang dalam kondisi bahagia, senang dan tanpa beban. Ajang silaturahmi menjadi salah satu sarana bagi seseorang untuk terus menjaga kondisi bahagia tersebut. Saat berbincang, bercengkrama, bermu’amalah dengan orang lain, ia harus menjaga sikap agar selalu tampil sumringah dan muka berseri-seri. Rasulullah saw. empat belas abad yang lalu sudah menginformasikan efek-efek positif silaturahmi tersebut melalui sabdanya: “Man aḥabba an yubsaṭa lahu fi rizqihi wa yunsa’a lahu fi atsarihi, fal yaṣil raḥimahu”, (Siapa yang ingin diperluas rezekinya dan diperpanjang usianya, hendaklah menyambung silaturahmi). Keempat, Rasulullah saw. mengecam dan mengancam orang yang suka memutuskan tali persaudaraan. Beliau dengan tegas mengatakan : “La yadkhulu al-Jannata qāṭi’”, (pemutus silaturahmi tidak akan masuk surga). Sebaliknya, orang yang dengan tekun dan tanpa bosan menjalin silaturahmi, dijamin memiliki kesempatan lebih besar untuk masuk surga.

 

Selanjutnya, fenomena kartu lebaran bila dianalisa dari aspek sosial dan psikologi, tidak memuat efek-efek positif yang dipaparkan di atas. Seseorang yang mengirimkan kartu lebaran baik via pos, internet, atau handphone, berarti dia tidak bisa berjabat tangan dan bertatap muka dengan orang yang dikirimi kartu lebaran tersebut. Padahal, berjabat tangan dan bertatap muka dengan orang lain memiliki faedah yang luar biasa yang tidak bisa diperoleh hanya dengan mengirimkan kartu lebaran saja. Lebih jauh, perkembangan teknologi dan informasi dengan merebaknya jejaring sosial dan fitur-fitur baru dari handphone membuat siapapun yang menjadi penggunanya memiliki sikap dan sifat individual, kurang sosialis, bahkan terkesan pendiam di depan komputer, laptop atau handphonenya. Untuk menyambung silaturahmi, ia tidak perlu beranjak dari depan komputernya atau tidak perlu jauh-jauh dari handphonenya. Intensitas bertemu dengan komunitas sosialnya menjadi berkurang. Ia lebih berkomunikasi jarak jauh via dunia maya.

Pilihan di tangan Anda; menjadi muslim sosialis atau muslim individualis?

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: