Kajian ‘Unwan Al-Hikam: Sedekah Pengganda Rezeki
Pengajian Ahad Legi | 4 Mei 2025
Oleh: Kiai Zainuddin Badruddin, M.M.
annur2.net – Kebaikan merupakan perilaku yang bisa kita lakukan setiap waktu. Namun adakalanya kita tidak berkesempatan untuk melakukannya. Padahal berbuat baik memiliki banyak kelebihan bagi pelakunya.
Oleh karenanya, selagi kita sempat untuk berbuat baik, berbuatlah baik karena tidak selamanya kita bisa melakukannya. Misalnya mengaji atau membaca Al-Quran. Apabila terdapat waktu luang, maka lakukan itu. Ada saatnya kita tidak memiliki waktu untuk melakukannya.
Contoh lain adalah orang kaya. Selagi ada uang banyak, sempatkan untuk bersedekah. Kalau menunda-nunda, bisa jadi harta itu hilang terlebih dahulu. Kekayaan tidak bertahan selamanya. Apalagi kalau dia sakit, pasti membutuhkan biaya yang banyak. Kemungkinan juga itu cara Allah untuk mengambil kembali harta orang kaya tersebut.
Sebaik-baik sedekah adalah dari orang yang masih sehat dan muda. Terlebih lagi masa seperti ini enggan bersedekah. Tetapi derajat paling bawah adalah sedekah dari orang yang sudah tua dan sakit. Kalau sudah meninggal, tidak ada kesempatan lagi untuk bersedekah.
Sedekah Menggandakan Rezeki
Lagipula Allah akan mengganti sedekah berkali-kali lipat. Allah berfirman:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)
Sebuah kisah menceritakan tentang seseorang yang mengetuk pintu rumah Sayidina Ali. Lalu Sayidina Ali menyuruh salah satu anaknya untuk meminta uang kepada ibu untuk bersedekah kepada orang tersebut.
Awalnya istri Sayidina Ali menolak. Ia berkata kalau uang itu untuk membeli kebutuhan keluarga. Sayidina Ali pun berkata,
لا يصدق ايمان عبد حتى يكون بما في يد الله سبحانه أوثق منه بما في يده
“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia lebih percaya kepada apa yang ada di kekuasaan Allah daripada apa yang ada di tangannya.”
Setelah mendengarnya, Sayidah Fatimah memberikan enam dinar kepada Sayidina Ali untuk orang tersebut. Itu pun semua uang di rumahnya. Akhirnya, beliau tidak memiliki uang sama sekali selama beberapa waktu.
Suatu saat, Sayidina Ali berjualan suatu barang yang harusnya seharga 60 dirham, laku dengan harga 120 dirham. Allah langsung mengganti enam dinar sebelumnya. Lalu Sayidina Ali mengucapkan kutipan surah Al-An’am ayat 160,
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (QS. Al-An’am: 160)
Rezeki Berlipat Ganda Karena Sedekah
Ada pula cerita dari Fudhail bin Iyadh tentang pasangan suami-istri. Si istri berprofesi sebagai penjahit dan suaminya yang menjual hasilnya. Saat pulang dari jualan, Suami itu bertemu dengan dua orang yang bertengkar perkara satu dirham.
Suami pun melerainya. Ia memberikan uang satu dirham hasil jualannya kepada salah satu orang yang bertengkar. Akhirnya kedua orang tersebut sama-sama memiliki satu dirham. Padahal satu dirham tersebut adalah untung dari jualan hari itu. Setelah itu, ia pulang ke rumah.
Sampai di rumah, istrinya bertanya tentang hasil penjualannya. Ia mengatakan bahwa telah memberikan uang itu kepada orang lain. Istrinya mengeluh, tapi Sang Suami menenangkannya bahwa mereka memiliki untung yang lebih besar nanti. Istrinya pun melanjutkan jahitannya.
Keesokan harinya, Sang Suami berangkat berjualan lagi. Ternyata ia tidak mendapat pembeli satu pun dari pagi hingga malam. Oleh karena di rumah tidak ada makanan, ia menuju penjual ikan.
Saat hendak membeli, ia berkata, “Aku ingin membeli tapi tidak punya uang. Bagaimana kalau aku membeli ikanmu dengan kainku ini?” Penjual ikan setuju dan mereka saling barter. Ia pun membawa ikan itu ke rumah.
Sesampainya di rumah, ia langsung membelah ikan tersebut. Ternyata di dalamnya ada mutiara yang bernilai sangat mahal. Harganya mencapai 1200 dirham. Ia pun menjualnya. Secara tidak langsung, uang ini menjadi ganti dari satu dirham yang ia berikan kepada orang yang bertengkar sebelumnya.
Pada suatu malam, ada orang yang mengetuk pintu rumahnya. Setelah Sang Suami bertanya ada apa, orang itu menjawab, “Aku punya banyak hutang dan butuh uang 500 dirham.” Ia pun memberinya uang.
Setelah satu jam, ada orang yang mengetuk pintu tadi. Orang itu mengembalikan uang 500 dirham sebelumnya lalu berkata, “Aku adalah malaikat yang diutus untuk mengujimu.” Ia juga berkata kalau Suami itu mendapatkan jatah harta di dunia dan akhirat.
Ketika sebagian orang mendapatkan kekayaan, akan enggan untuk memberikannya kepada orang lain. Berbeda dengan Suami yang selalu memberikan hartanya untuk membantu orang lain tanpa mempermasalahkan nominalnya.
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)