[polor_menu]
[polor_menu]

Kajian Tafsir: Tidak Semua Beriman Kepada Dakwah

“Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al-Qur’an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS. Yunus: 40)

***

Sudah jelas, Al-Qur’an adalah firman Allah yang kemudian Dia wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, mengapa masih banyak yang tidak mempercayai hal tersebut? Seperti kaum kafir Quraisy? Nyatanya, masalah itu ada pada diri mereka sendiri. Mereka lah yang membuat diri mereka tidak percaya kepada wahyu yang turun kepada Nabi.

Imam Al-Bushiri menjelaskan dalam karyanya kasidah Burdah, “Terkadang mata mengingkari pada terangnya sinar matahari karena sakit mata. Segarnya air terkadang mulut pungkiri karena sakit yang menyelimuti.”

Jadi, bukan karena Al-Qur’an tidak bisa membuktikan dirinya sebagai mukjizat Nabi Muhammad. Juga bukan karena Nabi Muhammad sendiri yang tidak bisa menyampaikan ajarannya. Namun, karena diri mereka yang tidak ingin mempercayai Al-Quran dan ajaran Nabi. Sebagaimana lidah yang tidak dapat merasakan kesegaran air. Hal itu karena lidahnya yang sakit.

Tatkala Al-Qur’an turun, ada yang beriman seperti Abu Bakar dan ada yang tidak seperti Abu Lahab. Lagi-lagi itu karena mereka sendiri yang tidak mau percaya. Jadi bukan karena Nabi yang tidak bisa membuktikan kenabiannya, tapi karena diri orang kafir itu sendiri.

Dalam kasidah Burdah, Imam Al-Bushiri juga menerangkan, “Nabi Muhammad saw bagaikan matahari, tampak kecil bagi kedua mata yang melihat dari jarak jauh. Padahal mata tiada akan mampu melihat apabila berdekatan dengannya.”

Berdakwah Mesti Istikamah

Maksudnya, Nabi Muhammad SAW itu bagaikan matahari. Ketika melihat matahari dari jauh terlihat kecil. Sedangkan dari dekat tampak silau tak terlihat. Begitu juga Nabi, ketika terlihat dari jauh, Nabi nampak seperti manusia biasa. Sedangkan dari dekat, Nabi itu tak terlihat seperti nabi menurut orang kafir. Maka, tak heran jika ada yang mengikuti dakwah Nabi Muhammad.

Maka dari itu, tatkala dakwah dan ada yang tidak mengikutinya, jangan kecil hati. Mungkin saat ini mereka tidak menerimanya, tapi ada peluang mereka sadar di lain waktu. Begitu juga Nabi. Beliau sangat sabar meski banyak yang mencaci maki.

Imam Syafi’i berkata, “Kepuasan manusia adalah satu tujuan yang tidak bisa digapai….” Artinya saat berdakwah terlalu berharap semua orang akan ikut. Pasti ada yang tidak. “… Sedangkan rida Allah adalah satu tujuan yang tidak bisa ditinggal.” Makanya, yang menjadi tujuan utama bukan turutnya manusia tapi rida Allah SWT.

Selain itu, ada sebuah faktor yang memengaruhi dakwah, yaitu derajat manusia di “mata” Allah. Semakin tinggi derajat manusia, semakin tinggi pula penolakan terhadap dakwah. Sebagaimana game, semakin tinggi levelnya semakin sulit pula tantangannya.

Maka untuk mengatasinya hal tersebut bukan dengan memaksa tapi dengan istikamah. Bahkan ada yang pernah menawari Nabi untuk berhenti berdakwah dengan harta sebagai imbalannya. Akan tetapi, Nabi tetap istikamah meneruskannya. Alhasil, Islam bisa berkembang sangat pesat seperti sekarang ini.

(Riki Mahendra Nur C/Mediatech)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex