“(39) Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (40). kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.” (Q.S. Al-Hijr: 39-40)
***
Dalam ayat ini Iblis telah bersumpah kepada Allah untuk menyesatkan keturunan Nabi Adam as., (manusia) dan menghiaskan maksiat agar dunia ini terlihat indah. Para iblis mempunyai misi dan tekad yang bulat untuk menyesatkan manusia dengan berbagai cara, seperti firman Allah di dalam Al-Quran:
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Artinya: “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Q.S. Al-A’raf: 17).
Maka kita harus menjaga diri kita dari godaan-godaan setan. Jangan sampai kita terjerumus godaannya yang menggiurkan kita tanpa kita sadari. Sebagaimana keterangan dari Imam Al-Bushiri dalam Qasidah Burdah:
كَمْ حَسّنَتْ لَذّةً لِلْمَـــــــرْءِ قَاتِلَةً ۞ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنّ السَّمَّ فِي الدَّسَم
“Betapa banyak kenikmatan justru membunuh karena tidak menyadari bahaya racun yang terkandung di dalamnya”.
Salah Satu Wujud Sumpah Iblis
Maka berhati-hatilah dengan godaan setan yang menggiurkan kita karena sejatinya itu adalah racun bagi kita. Seperti contoh yang Imam Ghozali berikan di kitab Ihya’ Ulum Ad-din, ada seorang rahib ahli ibadah yang digoda setan untuk melakukan maksiat dengan 8 langkah.
Pertama, setan mencekik wanita sampai sesak nafas dan kesakitan.
Kedua, setan mendatangi keluarga wanita itu dan membisikkan ada orang yang bisa mengobati putrinya, yaitu rahib yang ahli ibadah. Keluarganya pun membawa wanita tersebut ke sana. Sesampainya di sana, rahib menolak permintaan keluarganya. Namun akhirnya rahib pun mau untuk mengobatinya karena merasa kasihan.
Setelah itu, keluarga wanita itu pun meninggalkannya. Di saat itulah setan melakukan langkah ketiga yaitu merayu rahib untuk berzina dengan wanita itu sampai rahib melakukan perbuatan tersebut.
Wanita itu pun hamil dan rahib tidak ingin namanya tercemar. Setan pun membisikinya untuk membunuh si wanita sebagai langkah keempat.
Kelima dan keenam, setan mendatangi keluarga wanita itu dan memberitahu semua kejadian sebelumnya. Keluarganya pun mengetahui kabar tersebut dan berencana membunuh rahib tersebut.
Sedangkan rahib yang bingung bagaimana bisa terlepas dari masalah ini. Kemudian setan melanjutkan langkah ketujuh dengan membisiki rahib bahwa semua itu adalah skenarionya. Jika dia ingin selamat, ia harus bersujud kepada setan sebanyak 2 kali.
Kedelapan, pada saat rahib sujud tidak diduga dia meninggal dalam keadaan su’ul khatimah.
Itulah contoh setan merayu manusia.
Di akhirat, Allah akan meminta pertanggungjawaban orang-orang yang terayu setan. Tetapi setan tidak ikut-ikutan karena setan takut kepada Allah seperti firman Allah dalam Al-Quran:
كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam”.”
Maka dari itu kita harus mengingkari nafsu kita dan godaan-godaan dari setan seperti keterangan Imam Al-Bushiri dalam kasidah Burdah:
وَ خَالِفِ النَّفْسَ وَ الشَّيْطَانَ وَ اعْصِهِمَا # وَاِنْ هُمَا مَحَضَاكَ النُّصْحَ فَاتَّهِمِ
“Lawanlah hawa nafsu dan setan durhaka, dan awasilah keduanya. Jika mereka tulus menasihati, maka engkau harus mencurigainya.”
(Abu Raihan E./Mediatech An-Nur II)