Kajian Tafsir: Sejarah Ilmu Nahu dan Pengharakatan Al-Quran

“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (Q.S. Ar-Rad: 37)

***

Al-Quran ialah salah satu mukjizat Nabi Muhammad Saw., yang paling besar. Bagaimana tidak, bahkan Kalamullah dapat membuka rahasia-rahasia dunia yang belum kita ketahui. Lebih kerennya lagi, Al-Quran sudah ada sejak tahun 610 Masehi, sedangkan rahasia-rahasia dunia yang ada di dalamnya baru terbukti beratus-ratus tahun setelahnya.

Mengapa Al-Quran bisa sangat menakjubkan? Al-Quran sendiri berisikan kalam Allah Swt., yang di mana kalam Tuhan kita Yang Maha Esa ini pasti selalu benar. Maka dari itu secara tidak langsung kita telah mendapat kisi-kisi masa mendatang dari Penciptanya.

Al-Quran tidak hanya memuat hal-hal menakjubkan seperti keterangan di atas. Akan tetapi Al-Quran juga memuat hukum-hukum dalam menjalankan agama Islam, dan beberapa hukuman bagi yang tidak taat kepada hukum yang telah tertera, juga bagi penentang agama Islam. Maka dari itu kita bisa mendapat sebuah kesimpulan, jika kita taat kepada Al-Quran, maka itu seperti halnya kita taat kepada Allah Swt.

Al-Quran memakai salah satu bahasa yang sangat kaya akan kosakata, yakni bahasa Arab. Mengapa Al-Quran memakai bahasa Arab? Karena bahasa Arab ialah bahasa yang istimewa, seperti keterangan yang di atas. Di sisi lain orang-orang kota Makkah juga menggunakan bahasa Arab. Jika Al-Quran memakai bahasa yang lain, mungkin pemeluk agama Islam tidak seberapa, karena Nabi Muhammad sendiri lahir di kota Makkah.

Sejarah Ilmu Nahu dan Pengharakatan Al-Quran

Pernahkah kalian melihat adanya harakat pada tulisan bahasa Arab? Tahukah kalian, dahulu Al-Quran tidak memiliki harakat bahkan tanpa tanda titik, jadi hanya sebatas tulisan dalam bahasa Arab. Lantas mengapa sekarang ada harakat juga titiknya? Karena terjadi banyak sekali kesalahan pembacaan Al-Quran oleh orang-orang Awam pada masa itu.

Salah satu kesalahan pembacaan terjadi pada masa khalifah Umar bin Khattab. Pada suatu saat datang salah seorang Badui (Orang pedalaman Arab) kepadanya, dan ia ingin belajar agar bisa membaca Al-Quran. Saat ia membaca salah satu ayat yakni,

أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهُ……(3)…..

Ini ialah surah At-Taubah ayat 3. Orang Badui tersebut salah membaca pada lafaz “وَرَسُولُهُ”, ia membaca “له” dengan harakat kasrah. Padahal itu berharakat damah (ُ), apa bedanya? Jika kasrah, maka nantinya ia akan athaf atau ikut ke “الْمُشْرِكِينَ”, dan hal ini menyebabkan kesalahan pemahaman. Yang seharusnya, “Allah Swt., dan utusannya melepas diri dari orang-orang musyrik.” Malah, “Allah Swt., melepas diri dari orang musyrik dan utusannya.” Maka hal ini tidak diperbolehkan.

Setelah kejadian tersebut, Sayyidina Umar pun memerintahkan Imam Abu Al-Aswad Ad-Du’ali untuk merumuskan ilmu yang bernama ilmu Nahu. Fungsinya agar orang-orang bisa membaca Al-Quran dengan benar, dan tidak terjadi kesalahan seperti yang ada di atas. Ilmu Nahu ini berisikan kaidah kebahasaan bahasa Arab, mulai dari cara baca, hingga penyusunan kalimat.

Pada awal perumusannya, Imam Abu Al-Aswad hanya memberi titik guna membedakan satu huruf, dengan huruf yang lain, tapi masalah masih tetap saja ada. Dahulu ada seorang tabib yang belajar secara otodidak. Suatu hari ada seorang pasiennya yang sakit dan telah mencoba berbagai obat tapi belum sembuh juga. Akhirnya tabib ini membaca salah satu buku dan di sana tertera,

الحَيَّةُ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ

Artinya, “Ular hitam adalah obat dari segala penyakit.” Tabib itu pun segera mencari ular hitam dan mencoba untuk menangkapnya. Beberapa saat kemudian tabib tersebut tergeletak dengan tubuh yang telah teracuni oleh ular hitam tersebut. Setelah melakukan penelusuran, ternyata tulisan yang benar ialah,

الحَبَّةُ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ

Artinya, “Jinten hitam ialah obat dari segala penyakit.” Karena hal ini, maka terdapat harakat seperti sekarang ini guna mengurangi kesalahan yang ada.

(Farkhan Wildana S./Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU