Kajian Tafsir: Perintah Memaafkan dan Istilah Sab’an min Al-Matsani
“(85) Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik. (86) Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (87) Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung.” (Q.S. Al-Hijr: 85-87)
***
Pada akhir ayat 85, Allah memerintahkan Rasulullah untuk memaafkan orang kafir Makkah yang menentang ajaran rasul. Namun, ayat ini turun sebelum ayat Saif, yaitu ayat berisi perintah berperang. Ayat Saif terdapat di surah Al-Hajj: 39 sebagai berikut,
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
Artinya: “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu,”
Pada ayat ini Allah mengizinkan berperang untuk membela diri bukan untuk menguasai. Adanya perubahan nasakh perintah untuk memaafkan menjadi perintah memerangi kafir Makkah dalam Al-Quran bukan berarti Al-Quran itu plin-plan,tapi Al-Quran menyesuaikan zaman dan keadaan.
Ada kisah ketika orang muslim melihat tujuh kabilah yang datang ke suatu golongan dengan membawa harta dan memakai perhiasan yang banyak. Kemudian orang muslim berandai jika mereka memiliki harta dan perhiasan yang banyak mereka pasti akan bahagia dan menginfakkannya di jalan Allah.
Kisah di atas tadi merupakan asbab an-nuzul atau penyebab turunnya surah Al-Hajj ayat 87. Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan kepada kita agar tidak iri kepada orang yang memiliki banyak harta karena Allah telah memberi kita sab’an min al-matsani dan Al-Quran yang agung. Keduanya lebih baik dan banyak daripada harta yang dimiliki tujuh golongan tersebut.
Tentang Sab’an min Al-Matsani
Sab’an min al-matsani yaitu surat Al-Fatihah. Alasan sebutan sab’an pada surah Al-Fatihah karena terdiri dari tujuh ayat. Penghitungan tujuh ayat tersebut berbeda-beda. Pendapat pertama seperti yang kita gunakan yaitu bacaan بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ merupakan ayat pertama dan ayat ke tujuh yaitu صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ .
Ada juga pendapat yang menghitung bacaan بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ dan ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِين menjadi satu ayat pertama surat Al-Fatihah. Sedangkan bacaan صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ adalah ayat keenam dan bacaan غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ialah ayat ketujuh.
Selanjutnya, sebutan min al-matsani pada surah Al-Fatihahkarena pembacaan yang berulang-ulang dalam salat. Ada juga yang mengatakan karena dalam surat Al-Fatihah mengandung dua tujuan yaitu untuk Allah dan untuk hamba-Nya. Ayat 1-3 merupakan pujian kepada Allah dan ayat 4-7 merupakan ayat yang menerangkan hamba-Nya.
Bukan karena itu saja, ada juga yang mengatakan karena terdiri tatanan “dua-dua” seperti ٱلرَّحۡمَٰنِ dan ٱلرَّحِيمِ. Alasan lainnya karena Allah menurunkan surah Al-Fatihah dua kali, di kota Mekkah dan Madinah dengan 70.000 malaikat yang mengawalnya.
Dalam surat Al-Fatihah mengandung seluruh makna yang terdapat dalam Al-Quran. Seluruh makna surah Al-Fatihah terkandung pada lafaz بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. Makna Basmalah terkandung pada huruf Ba’. Makna huruf Ba’ terkandung pada titik yang artinya semua akan kembali kepada satu titik yakni Allah subhanahuwata’ala. Maka dari itu, Al-Fatihah merupakan surat yang mulia karena tidak ada surat yang dapat menandingi, baik dari kitab Taurat dan Injil meskipun surat itu dari Al-Quran.
(ABU RAIHAN E./MEDIATECH ANNUR II)
