قُلْ أَذَٰلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۚ كَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا
Artinya: “Katakanlah: ‘Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa?’ Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka?” (QS. Al-Furqan: 15)
annur2.net – Allah telah mengatur setiap sesuatu yang sudah berlalu maupun akan terjadi di masa depan. Ada balasan-balasan yang setimpal bagi hamba Allah yang patuh dan yang mendustakannya.
Tentunya balasan kenikmatan yang agung berupa surga akan mereka dapatkan bagi yang mematuhi segala perintah dan larangan Allah. Sebaliknya, hamba yang mendustakan-Nya akan mendapat siksa yang pedih di dalam neraka.
Kenikmatan Surgawi Tanpa Batas
لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ خَالِدِينَ ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ وَعْدًا مَسْئُولًا
Artinya: “Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki, sedang mereka kekal (di dalamnya). (Hal itu) adalah janji dari Tuhanmu yang patut dimohonkan (kepada-Nya).”
Seorang Muslim yang patuh mendapatkan kenikmatan yang tidak dapat dibayangkan saat di dunia. Semua hal apapun yang diminta akan mereka dapat.
Tetapi timbul pertanyaan apakah mereka dapat meminta kenikmatan yang Allah berikan kepada para nabi? Pada ayat Al-Qur’an, semua permintaan di surga akan Allah kabulkan.
Ternyata, pembagian nikmat surga oleh Allah kepada para hamba-Nya ada derajatnya. Tidak semua hamba mendapat kenikmatan surga yang sama.
“Ahli surga itu hanya orang-orang yang ada di surga itu menerima dengan senang hati apapun yang diberikan Allah Swt. Gak ada lagi iri dengki.” Penjelasan Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., pada saat pengajian kitab Tafsir Jalalain.
Maka dari penjelasan tersebut seseorang yang ada di suatu level surga tidak akan terbesit keinginan mendapat kenikmatan level di atasnya. Mereka akan puas dengan nikmat yang Allah berikan sesuai kepantasan derajat mereka.
Allah berfirman pada surah Al-Hijir ayat 47:
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ
Artinya: “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.”
Surga Tetap Butuh Ulama
Tokoh ulama yang ada di dunia masih dibutuhkan terkait kehidupan di surga. Bukan untuk menjadi penentu suatu hukum. Kemudian untuk apa?
Banyak orang yang ingin merasakan rasa senang tapi bingung minta apa kepada Allah. Maka mereka perlu menanyakan kepada ulama, apa yang harus ia pintakan kepada Allah Swt.
(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)
