annur2.net – Nabi Ibrahim memiliki sebuah keistimewaan. Kecerdikan beliau menyampaikan risalah dengan penuh keberanian dan masuk logika. Ia menentang kemusyrikan seperti kaum serta ayahnya yang menyembah berhala, namun beliau tetap sabar ketika menghadapi ujian.
Suatu malam, Nabi Ibrahim saat para kaumnya sedang mengikuti suatu festival yang kaumnya merupakan penyembah berhala. Berhala tersebut mereka letakkan di suatu tempat pemujaan. Nabi Ibrahim menolak ajakan mengikuti festival dengan berdalih bahwasannya beliau sedang sakit.
Seluruh kaum tersebut mengikuti festival, dan Nabi Ibrahim sebenarnya tidak sakit hanya berpura-pura saja. Jadi sebenarnya beliau diam-diam pergi dengan membawa kapak milik ayahnya. Beliau menuju ke tempat berhala-berhala buataan kaum tersebut di sana termasuk ayahnya sendiri.
Sesampainya disana Nabi Ibrahim melakukan rencananya sesuai ayat Al-Qur’an:
فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ
“Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (QS. Al-Anbiya 58)
Di sana Nabi Ibrahim menyelinap masuk dan mulai menjalankan aksinya yakni menghancurkan Berhala-berhala itu, kecuali berhala terbesar.
Lalu beliau membawa kapak tersebut dan menggantungnya di leher berhala itu, setelah semuanya selesai beliau meninggalkan semuanya dan pergi pulang.
Berhala yang Hancur Tak Berguna
Pada Pagi harinya, ketika kaum tersebut pergi menuju tempat berhala-berhala tersebut terkejut dengan apa yang terjadi.
Mereka panik dan kebingungan bagaimana bisa berhala-berhala tersebut tiba-tiba berhala tersebut dapat hancur dalam semalam dan menyisakan berhala terbesar di sana.
قَالُوا۟ مَن فَعَلَ هَـٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ
“Mereka berkata, ‘Siapakah yang telah melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya 59)
Kemudian kaum tersebut mencoba mencari tahu, ulah siapa yang membuat berhala yang mereka sembah ini menjadi seperti ini.
قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ
“Mereka berkata, ‘Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini, yang bernama Ibrahim.’” (QS. Al-Anbiya’ 60)
Terdapat kabar dari seorang pemuda, bahwa ini ulah Nabi Ibrahim yang menyembah ke suatu hal yakni kepada Allah atau selain berhala-berhala yang mereka sembah ini, apalagi saat tadi malam beliau juga tidak mengikuti pesta.
قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَىٰ أَعْيُنِ ٱلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ
“Mereka berkata, ‘(Kalau begitu) bawalah dia (Ibrahim) dengan hadir di hadapan orang banyak, agar mereka menyaksikan.’” (QS. Al-Anbiya’ 61)
Maka mereka mendatangi rumah Nabi Ibrahim. Di sana mereka mengajak mereka ke tempat berhala-berhala tadi yang telah dihancurkan.
Sesampainya di sana Nabi Ibrahim di tanya sesuai ayat yang berbunyi:
قَالُوٓا۟ ءَأَنتَ فَعَلْتَ هَـٰذَا بِـَٔالِهَتِنَا يَـٰٓإِبْرَٰهِيمُ
“Mereka bertanya, ‘Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?’.” (QS. Al-Anbiya’ 62)
Lalu, Nabi Ibrahim menjawabnya dengan cerdik sebagai ayat:
قَالَ بَلْ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمْ هَـٰذَا فَسْـَٔلُوهُمْ إِن كَانُوا۟ يَنطِقُونَ
“Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung besar inilah yang melakukannya. Maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.’” (QS. Al-Anbiya’ 63)
Mereka Tersadar karena Jawaban Nabi Ibrahim
Jawaban dari beliau menyadarkan kaumnya dengan sindiran. Di mana menyindir dengan menunjukan mereka yang menghancurkan adalah patung terbesar tersebut. Apalagi patung itu membawa kapak dan pasti menghancurkan patung yang terbuat dari batu tidak mudah, maka dari itu menggunakan kapak.
Mereka bingung mana mungkin patung dapat berbuat apa-apa dan bilang dirinya adalah penghancur? Nabi Ibrahim pun menertawakan mereka, sudah tahu patung yang tak dapat melakukan apapun itu mereka sembah.
ثُمَّ نُكِسُوا۟ عَلَىٰ رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَـٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ
“Kemudian mereka tertunduk (malu), lalu berkata, ‘Sungguh, engkau (Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.’” (QS. Al-Anbiya’ 64)
Tak bisa membantah, akhirnya mereka sadar betapa bodohnya perbuatan mereka. Menyembah sesuatu yang tak dapat berbicara, memberikan apalagi menciptakan. Mereka tersadar bahwa yang mereka sembah hanyalah benda mati yang tak layak untuk menjadi tuhan.
(Zihni Maurizio/Mediatech An-Nur II)