KAJIAN TAFSIR: Kunci Kebahagian di Kehidupan Penuh Ujian

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.” (QS. Al-Furqan: 20)

annur2.net – Demi memudahkan para manusia memahami syariat-syariat Islam, Allah mengirim utusan-utusan (rasul)-Nya yang dipilih dari kalangan manusia itu sendiri. Maka dia seperti halnya manusia biasa; makan dan pergi ke pasar.

Tetapi orang-orang kafir pada zaman Nabi Muhammad saw., hal itu menjadi bahan olokan. Dalam benak mereka seorang nabi adalah “manusia super”. Tidak makan maupun pergi ke pasar. Gampangannya nabi itu malaikat menurut orang-orang kafir.

Kuncinya Adalah Sabar

Tetapi Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad dan mereka bahwasannya setiap manusia sudah memiliki pasangan ujian. Allah Swt., berfirman:

…وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

Artinya: “…Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.”(QS. Al-Furqan: 20)

Allah menciptakan ujian bagi manusia dari sebagian manusia itu sendiri. Misal orang kaya akan mendapat ujian dari Allah berupa orang miskin dan sebaliknya.

Orang kaya tersebut bisa saja memunculkan sifat sombong terhadap orang miskin. Sedangkan orang miskin tersebut akan menjadi iri, hasud terhadap orang kaya. Begitu pula orang sakit X orang sehat atau orang mulia X orang hina.

Maka orang kafir itu berpikiran mengapa tidak mereka saja yang Allah pilih menjadi nabi. Ataupun orang-orang terdekatnya.

Ujian-ujian itu bertujuan menguji tingkat kesabaran yang umat manusia miliki:

…أَتَصْبِرُونَ…

Artinya: “…Maukah kamu bersabar?…” (QS. Al-Furqan: 20)

Dalam hal harta duniawi, Islam mengajarkan untuk selalu menerima pemberian Allah Swt., (qanaah). Tidak iri terhadap kenikmatan orang lain. Nabi Muhammad saw., bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Artinya: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR. Bukhari, Muslim)

Tetapi perkara yang berhubungan dengan akhirat Islam mengajarkan untuk selalu menambah, berlomba-lomba, dan melihat ke atas. Sebab akhirat adalah tempat keagungan yang sebenarnya.

من نظر في دينه إلى من هو فوقه فاقتدى به، ومن نظر في دنياه إلى من هو دونه فحمد الله على ما فضله به عليه كتبه الله شاكرا صابرا

Artinya: “Barangsiapa yang dalam urusan agamanya melihat kepada orang yang lebih atas darinya lalu ia meneladaninya, dan dalam urusan dunianya melihat kepada orang yang lebih bawah darinya lalu ia memuji Allah atas kelebihan yang diberikan-Nya, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan bersabar.” (HR. At-Tirmidzi)

Maka jangan tukarkan keagunganmu dengan hasud terhadap kenikmatan orang lain. Sabar, qanaah, dan rida terhadap pembicaraan Allah adalah kunci kesuksesan yang sesungguhnya.

“Maka hidup bahagia kuncine dingkluk o (melihat ke bawah).” Dawuh Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., dalam Kajian Tafsir Jalalain.

(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II