Kajian Tafsir: Kisah Nabi Daud, Petani dan Penggembala
annur2.net – Nabi juga manusia, ada juga kurangnya walaupun begitu nabi memiliki mukjizat yang Allah berikan dari kepintaran, kekuasaan, dan sebagainya. Nabi pun di dunia juga berusaha untuk menanam kebaikan di dunia seperti kita dengan berbagai hal tapi sesuai tugasnya masing-masing.
وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu,” (QS. Al-Anbiya: 78)
Kisah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, Dari kata “tanaman” dalam ayat yang dikatakan oleh Nabi saw:
الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ
“Dunia adalah ladang (tempat menanam) untuk akhirat.”
Jika sudah matang nanti akan kita petik di akhirat. Kita di dunia menanam kebaikan, ketika di akhirat nanti tanaman tersebut akan kita petik menjadi penolong ketika kita di sana kelak.
Usulan Nabi Sulaiman Menggantikan Keputusan Nabi Daud
Pada saat itu, ada seorang petani yang meminta keadilan kepada Nabi Daud. Ia menuntut karena ada kambing-kambing milik seorang pengembala merusak ladangnya. Langsung saja, Nabi Daud memutuskan untuk memberikan semua kambing penggembala tersebut kepada petani.
Tapi sebelum itu, Nabi Sulaiman yang masih muda mengusulkan dengan usulan yang bijak seperti ayat berikut:
فَفَهَّمْنَـٰهَا سُلَيْمَـٰنَ ۚ وَكُلًّا ءَاتَيْنَا حُكْمًۭا وَعِلْمًۭا ۚ وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُۥدَ ٱلْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَٱلطَّيْرَ ۚ وَكُنَّا فَـٰعِلِينَ
“Maka Kami fahamkan hal itu kepada Sulaiman; dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu. Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semuanya bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya.” (QS. Al-Anbiya: 79)
Jadi pengembala itu harus mengurus ladang tersebut hingga kembali semula. Lalu pemilik ladang juga dapat memanfaatkan hasil kambing tersebut seperti susu dan bulu hingga ladangnya selesai.
Bukannya Nabi Daud itu salah, tapi beliau memberikan pendapat sesuai pengetahuan dan pengalamannya. Jadi Nabi Daud dan Nabi Sulaiman belajar dari pengalaman semasa hidupnya walaupun hal kecil. Selain itu, mereka juga mendapat ilmu serta hikmah dari pengalaman itu.
Walaupun para Nabi mendapatkan Mukjizat, sebagaimana ayat tadi “Dan Kamilah yang melakukannya.” Semua itu semata-mata adalah kuasa milik Allah, dan hal itu tak bisa ditiru oleh siapapun apalagi manusia biasa seperti kita. Maka kita cukup bertasbih, berdoa dan belajar hingga meraih ilmu yang Allah ridai.
(Zihni Maurizio/Mediatech An-Nur II)
