Kaya Kufur, Miskin Tambah Kufur
(Tafsir Surah Hud: 9-11)
“(9) Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. (10) Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, (11) kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.”
***
Manusia itu punya kerumitan tersendiri dalam kehidupannya. Seperti dalam ayat di atas, lika-liku hati milik manusia yang tidak menentu arahnya. Terkadang lurus, tapi bisa juga tiba-tiba kesasar ke arah lain. Masih untung kalau bisa balik ke arah yang benar. Akan tetapi, jika sampai terjatuh ke jurang bagaimana?
Ayat itu menerangkan tentang manusia yang kufur kepada Allah SWT. Awalnya, ia merupakan orang yang memiliki harta banyak. Allah memberikannya rezeki yang lancar. Bukan hanya kaya, tubuhnya itu sehat tanpa cacat.
Akan tetapi, kekayaan yang hanya titipan saja itu, suatu hari kembali lagi. Ia yang awalnya kaya berubah menjadi orang yang minta-minta. Badannya yang dulunya sehat menjadi sakit-sakitan. Bukannya menyadari jika hartanya hanyalah titipan, ia malah mengeluh.
Padahal sebelumnya ia sudah menerima harta yang banyak. Kehidupan sebelumnya itu seharusnya patut ia syukuri. Ketimbang kehidupan orang yang dari awal miskin cacat lagi tubuhnya, ia masih beruntung pernah merasakan manisnya dunia. Orang-orang seperti ini suka menyalahkan keadaan tanpa introspeksi dulu.
Kehidupan orang seperti itu mudah tertelan keputusasaan. Bukannya malah melangkah ke depan dan hidup bahagia, mereka akan tenggelam dalam amarah dan hanya bisa mengeluh saja. Akhirnya, karena terlalu putus asa, bertambahlah kufurnya kepada Allah SWT.
Kemudian tatkala Allah SWT mengembalikan lagi masa-masa jayanya, ia tidak bersyukur. Seakan-akan ia tidak pernah mengalami keterpurukan, ia menjadi orang yang sombong ketika hartanya kembali. Ia berkata kepada orang-orang bahwa semua kekayaan miliknya adalah hasil usahanya sendiri.
Mengambil Pelajaran dari Qarun dan Nabi Sulaiman
Kesombongan miliknya itu seperti Qarun. Padahal Qarun dan Nabi Sulaiman sama-sama termasuk orang yang hartanya banyak. Namun, kenapa orang-orang mengenal Nabi Sulaiman sebagai sosok yang luar biasa. Sedangkan untuk Qarun, orang-orang mengenalnya dengan pandangan yang buruk.
Qarun memilii harta yang banyak. Bahkan untuk membawa kunci-kunci gudangnya yang menjadi penyimpanan hartanya membutuhkan budak yang banyak. Itu masih kuncinya, belum harta yang ada di gudang itu. Akan tetapi, ia mengatakan jika semua kekayaan miliknya adalah murni dari dirinya, bukan dari Allah. Ia pun mati terkubur bersama hartanya.
Nabi Sulaiman juga kaya. Saking kayanya ia pernah berniat untuk memberi makan seluruh kota denga uangnya sendiri. Namun, ketika ada yang bertanya dari mana seluruh kekayaannya itu, beliau menjawab bahwa hartanya ini merupakan keutamaan dari Allah dan ini merupakan ujian baginya. Apakah ia akan beriman atau kufur.
Orang-orang yang beriman harus mencontoh Nabi Sulaiman. Ketika memiliki harta tidak sombong dan saat berada dalam keterpurukan tidak menyalahkan keadaan dan putus asa. Kemudian nikmat yang mereka punya mereka gunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan mendapatkan pengampunan dari Allah serta pahala yang besar, surga.
(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)