Kajian Tafsir: Beberapa Tanda Kekuasaan Allah

Kajian Tafsir: Beberapa Tanda Kekuasaan Allah

“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”

(Q.S. Ar-Ra’d: 2)

***

Ayat di atas menjelaskan Allah menciptakan langit dunia tanpa tiang. Seperti yang kita lihat, langit tetap berada di atas meskipun tidak ada yang menopangnya. Selama ini kita tidak pernah mendengar sejarah pesawat yang menabrak tiang di langit saat terbang di langit. Tetapi bukan berarti benar-benar tidak ada “tiang” yang menyangga langit. Bisa jadi tiang itu ada tapi kita tidak bisa melihatnya.

Selanjutnya, ayat tersebut menerangkan Allah bersemayam di atas Arasy atau takhta Allah. Oleh karena ini termasuk ayat musyabbihat atau memiliki arti ambigu, mempunyai makna lebih dari satu menurut dua pendapat ulama.

Pertama menurut ulama termasuk Imam Malik yang berpendapat dengan tafwidh atau pasrah, makna bersemayam di sini sesuai firman Allah. Maksudnya semayamnya Allah itu bertempat di Arasy, tetapi tidak sama dengan makhluk-Nya. Yang terpenting makna bersemayam di sini sesuai apa yang pantas untuk Allah. Kita juga harus mengimani bahwa Allah bersemayam di atas Arasy.

Pendapat kedua yaitu takwil, memilih makna yang jauh dan mengesampingkan makna yang dekat. Menurut pendapat ini, semayam dalam ayat ini bermakna kekuasaan Allah. Jadi Arasy menunjukkan betapa berkuasanya Allah. Contoh lainnya adalah “tangan” Allah yang memiliki arti kekuasaan-Nya.

Takwil dalam ayat seperti ini sangat penting agar tidak menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Dalam kitab Al-Baijuri, apabila terdapat ayat Al-Quran atau Hadis yang menuturkan suatu rupa atau anggota badan berhubungan dengan Allah, harus menakwilnya dengan perkara yang pantas untuk-Nya karena Allah memiliki sifat mukhlafah al-hawadits (berbeda dengan makhluk).

Keterangan selanjutnya, Allah mengendalikan matahari dan bulan agar tetap berputar dan beredar pada orbit masing-masing sampai hari kiamat. Mengenai hal tersebut, matahari itu sangat besar. Perbandingannya bumi bagaikan buah ceri sedangkan matahari seperti semangka. Itu masih matahari dan bumi, masih banyak lagi bintang-bintang dan benda luar angkasa lainnya yang jauh lebih besar. Hal ini membuktikan bahwa Allah Maha Besar.

Semua itu Kekuasaan Allah

Semua hal itu merupakan kekuasaan Allah yang membuat kita lebih yakin untuk beriman kepada Allah, sehingga bisa bertemu dengan-Nya setelah bangkit dari alam kubur. Berbeda dengan orang kafir terdahulu, mereka tidak percaya adanya hari kebangkitan. Kalau mati kemudian dikubur, ya sudah. Mereka tidak memiliki pikiran setelah mati akan bertemu Tuhan.

Padahal agama Islam mengajarkan ada kehidupan yang abadi setelah kematian. Hanya saja nanti terbagi menjadi dua, jika ia masuk surga berarti ia mendapatkan kenikmatan selama-lamanya. Sedangkan bila ia masuk neraka, ia mendapatkan kesengsaraan yang sangat lama.  

Namun, banyak orang yang ingin hidup enak di dunia tapi lupa jalan mati husnul khotimah. Padahal kematian seseorang sesuai dengan perbuatannya. Jika ia terbiasa berbuat baik, ia akan mati dalam keadaan baik. Sebaliknya apabila ia sering berbuat dosa, ia akan mati saat melakukan dosa pula.

Adanya kehidupan setelah mati atau alam akhirat sebagai tempat paling adil. Semua yang telah kita perbuat akan mendapat hisab yang sangat adil di akhirat. Berbeda dengan dunia. Hakikatnya dunia tidak ada keadilan. Perbuatan yang manusia perbuatan di dunia tidak tentu mendapat sanksi yang setimpal. Di akhirat, semuanya akan mendapat balasan yang sebanding dengan perbuatannya di dunia.

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II