“(23) Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi. (24) Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada-mu dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (daripadamu).” (Q.S. Al-Hijr: 23-24)
***
Berabad-abad sebelum adanya Nabi Muhammad Saw., tidak sedikit orang yang mengaku-ngaku sebagai tuhan. Padahal Allah Swt., memiliki sifat mematikan juga menghidupkan. Jika kita melihat beberapa fakta yang ada, orang yang dapat menghidupkan manusia kembali hanyalah beberapa utusan Allah Swt. Mereka dapat melakukan itu pula atas izin Allah Swt., bukan dari kehendaknya sendiri.
Maka yang dapat membedakan antara Allah Swt., dan makhluk-Nya ialah sifat mematikan dan menghidupkan. Walaupun manusia dapat mematikan, tapi ia tidak akan bisa untuk menghidupkannya kembali, seperti apa yang dapat Allah Swt., lakukan.
Bukti lain yang dapat membedakan Allah Swt., dengan mahkluk-Nya ialah sifat Yang Maha Tahu. Allah Swt., mengetahui segala hal, bahkan hal yang sangat kecil sekalipun. Ia tahu, siapa yang akan mati lebih dahulu dan siapa yang akan mati terakhir saat hari kiamat kelak. Sedangkan makhluk hanya tahu kalau ia pasti mati, tapi tidak tahu waktu dan tempatnya.
Hal yang beda lainnya juga terdapat pada sifat-Nya, yakni abadi atau kekal. Tidak seperti makhluk yang bisa mati kapan pun. Seperti apa yang telah Allah Swt., firmankan dalam surah Ali ‘Imran ayat 185,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ … (185)
Artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian….”
Beda Diksi Beda Cerita
Diksi atau pemilihan kata sangat penting dalam kehidupan kita, mengapa? Terdapat sebuah kisah dari salah satu kerajaan, yang mana sang raja bermimpi, bahwa dua giginya tanggal. Lantas ia memanggil seorang peramal untuk meramalkan mimpinya tersebut.
Peramal pertama datang dan menafsiri mimpi sang raja. “Gawat raja! Anda akan ditimpa musibah. Anak dan istri anda akan meninggal.” Lantas raja tidak senang dengan tafsir mimpi dari peramal tersebut. Ia mengira peramal tersebut menyumpahi anak dan istrinya agar segera meninggal. Sehingga raja memerintahkan prajuritnya untuk memenjarakan peramal itu.
Kemudian raja memanggil peramal kedua. “Selamat raja! Ini kabar gembira karena anda akan diberi umur yang lebih panjang dibandingkan umur istri dan anak anda.” Sang raja sangat senang, yang kemudian ia memberi peramal tersebut hadiah.
Sebenarnya maksud dari kedua peramal tersebut sama. Hanya saja diksi atau pemilihan kata yang mereka gunakan berbeda. Hal sekecil ini dapat mengubah akhir yang begitu besar. Andaikan peramal kedua mengucapkan hal tersebut dengan diksi yang sama dengan peramal pertama, mungkin ia juga akan masuk ke dalam sel tahanan kerajaan. Tetapi diksi yang ia pakai dapat membuat raja senang, ia pun mendapat pujian dan hadiah dari sang raja.
(Farkhan Wildana S./Mediatech)