<strong>Kajian Tafsir: Ada Apa Setelah Azab Turun?</strong>

(Tafsir Surah Yunus Ayat 50-52)
(50) Katakanlah: “Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaan-Nya di waktu malam atau di siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu meminta disegerakan juga?” (51) Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kemudian itu kamu baru mempercayainya? Apakah sekarang (baru kamu mempercayai), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan? (52) Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim (musyrik) itu: “Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan.”

***

Semisal ada seseorang yang berdiri di depan jurang. Tidak masalah. Namun jika orang itu berjalan terus menuju jurang, aneh bukan? Atau orang itu berlari sekuat tenaga menuju jurang dengan wajah berseri-seri bahagia padahal ia tahu akan mati jika sampai terjatuh, aneh bukan? Namun, kelakuan seperti itu nyata dan terjadi di dunia, meski dalam konteks berbeda.

Al-Qur’an, sebagian besar isinya membahas cerita-cerita kelakuan umat terdahulu yang terkena azab dari Allah karena kebandelan mereka. Dari sini muncul kesimpulan bukan berarti Allah berbuat tidak adil kepada mereka. Hanya saja umat terdahulu susah sekali untuk “jinak”. Sudah tidak jinak, menindas nabinya pula. Maka tidak kaget jika Allah menghujani mereka dengan azab.

Banyak sekali dalam Al-Qur’an cerita Allah mengazab umat terdahulu, menunjukkan bahwa belajar dari kesalahan adalah hal urgen. Al-Qur’an mewanti-wanti umat Nabi Muhammad agar tidak mengulangi perbuatan buruk pendahulunya. Minimal, agar tidak dapat azab Allah lagi. Namun, lain cerita semisal mereka tetap mengulang kesalahan fatal umat terdahulu.

Ayat di atas menerangkan bagaimana orang-orang kafir Makkah berlari menuju jurang yang membunuh diri mereka sendiri. Meski Nabi Muhammad sudah menasehati agar mereka tidak terjun ke jurang mengerikan itu.

Orang Kafir Menantang Azab

Jadi, ayat tersebut, menerangkan orang-orang kafir yang menantang Nabi Muhammad agar menimpakan azab kepada mereka. Bagai orang yang rela agar orang-orang melecehkannya, orang-orang kafir itu dengan lapang dada meminta Nabi agar menurunkan azab kepada mereka dengan nada sinis dan meremehkan. Bukankah kelakuan ini juga bisa memakai penggambaran orang yang rela terjun ke jurang (tanpa pengaman).

Padahal, semisal azab itu benar-benar turun apa yang terjadi setelahnya? Contohnya saja, jika pada siang bolong, cuaca cerah, tiba-tiba turun hujan batu sebesar kepala. Akhirnya, rumah rusak semua sekaligus kepala-kepala mereka. Lalu, kenapa semisal azab itu benar-benar turun? Apa pengaruhnya pada keyakinan mereka?

Jika memang benar azab itu turun menghujani mereka, apakah mereka bakal beriman? Apakah hati dan lisan mereka sempat untuk mengucapkan syahadat? Tidak ada jaminan. Walaupun begitu, mereka tetap menantang Nabi agar menimpakan azab kepada mereka.

Ayat ini juga menyiratkan agar kita tidak menunda-nunda taubat. Dalam ayat di atas, orang-orang kafir meminta azab turun. Namun Islamkah mereka setelah Allah menurunkan azab? Tidak mungkin. Taubat di saat hukuman tiba itu artinya telat. Mana bisa, sudah hidup berhari-hari mencapai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, taubatnya saat kengerian dari Allah terlihat jelas.

Malaikat Jibril saja juga kurang setuju Allah menerima taubat orang di ambang kematian. Contohnya saja, Firaun. Ketika laut akan menelannya ia langsung percaya bahwa Allah adalah Tuhan sebenar-benarnya. Maka, sesegera mungkin malaikat Jibril menjejali mulutnya dengan pasir. Malaikat Jibril takut jika Allah menerima taubatnya.

Intinya, orang kafir itu berbuat hal aneh. Tindakan mereka yang ingin tertimpa azab itu aneh. Apalagi, mereka menantang Nabi bukan meminta secara baik-baik. Lalu, kalau azab itu benar-benar turun di hadapan mereka, akankah mereka beriman? Maaf saja, tidak bisa. Pintu taubat sudah tutup. Semoga kita selalu terhindar dari hal demikian.

(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II