Kajian Tafsir: Abu Bakar yang Memutus Bantuan kepada Kerabatnya

Sayidina Abu Bakar tidak lagi membantu kebutuhan Misthah bin Utsatsah

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

***

Pada kisah Hadîtsul Ifk, penuduhan kepada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa telah berzina dengan sahabat yakni Safwan. Mereka dituduh oleh beberapa sahabat yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay. Ayat di atas menceritakan kisah Abu Bakar yang memutus bantuan kerabatnya bernama Misthah bin ‘Utsatsah. Setiap beberapa pekan sekali ia memberi bantuan kepada kerabatnya itu berupa nafkah akan tetapi tiba-tiba ia memutus bantuan tersebut kepadanya.

Alasan Abu Bakar ra., menghentikan bantuannya kepada Misthah karena ia merupakan termasuk salah satu dari mereka yang menuduh Sayidah Aisyah berzina. Ia bersumpah dan berkata seperti ini: “Demi Allah, aku akan menghentikan nafkah kepada Misthah setelah ia berkata begitu tentang Aisyah!” Saat itu Abu Bakar marah besar dan melampiaskannya dengan melakukan hal itu. Bagaimana tidak ia marah, seorang Ummul Mu’minin apalagi Sayidah Aisyah sendiri juga merupakan anak kandung Abu Bakar. 

Akan tetapi setelah Abu Bakar menyatakan hal tersebut Allah mengingatkannya dengan turunnya ayat tersebut. Ayat itu mengingatkan agar tidak memutus untuk memberi bantuan kepada kerabatnya yang sedang susah seperti dalam segi ekonominya. 

Setelah turunnya ayat tersebut, Abu Bakar langsung menangis dan mengucapkan: “Demi Allah, aku ingin Allah mengampuniku.” Lalu, ia kembali memberikan bantuan kepada Misthah seperti biasanya. Abu Bakar adalah sahabat yang memiliki tingkat iman yang sangat tinggi, dari hal itu ia tetap akan memaafkan untuk mendapatkan ridho dari Allah Swt. 

Balasan Orang yang Bersabar

إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” (QS. An-Nur: 23)

Bagi mereka yang telah menuduh wanita baik akan dilaknat Allah di dunia dan akhirat dengan azab yang besar untuknya. Oleh karena itu orang yang bersabar dan memaafkan, Allah akan menolongnya dalam segala hal terjadi. Jadi sabar adalah penolong bagi mereka, seperti dalam Al-Qur’an disebutkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Bagi orang-orang mukmin yang sabar akan diberi pertolongan oleh Allah, “Sabar itu cahaya.” (HR. Muslim). Seperti dalam perjuangan Nabi Muhammad bersama Abu Bakar dalam menghadapi cemoohan Kaum Quraisy, Abu Bakar dianiaya ketika membela Nabi. Di sana Nabi baru menjadi rasul, bersama Abu Bakar merupakan orang pertama kali beriman dan masuk ke dalam islam. 

مَا دَعَوْتُ أَحَدًا إلَى الْإِسْلَامِ إلَّا كَانَتْ فِيهِ عِنْدَهُ كَبْوَةٌ ، وَنَظَرٌ وَتَرَدُّدٌ، إلَّا مَا كَانَ مِنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي قُحَافَةَ، مَا عَكَمَ عَنْهُ حِينَ ذَكَرْتُهُ لَهُ، وَمَا تَرَدَّدَ فِيهِ

“Aku tidak mengajak seorang pun masuk Islam melainkan ia tidak langsung memberikan jawaban, kecuali Abu Bakar bin Abi Quhafah. Ia tidak lamban memberikan jawaban dan tidak ragu-ragu ketika aku mengajak kepada Islam.” (HR. Ibn Hibban, As-Sîratun Nabawiyyah)

Abu Bakar adalah orang yang tak ada keraguan sedikitpun terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah. Tanpa meminta bukti seperti mukjizat, hanya karena sifat yang dimiliki oleh beliau ia Abu Bakar langsung percaya kepadanya. Setelah Abu Bakar memeluk Islam, ia mengajak sahabat-sahabat terdekatnya untuk ikut juga dalam memeluk agama islam.

Oleh karena itu, kalau kita yang memiliki kerabat yang sedang susah hendaknya saling membantu. Walaupun mereka telah melakukan perbuatan kepada kita, tetap saja kita harus saling menolong sesama saudara. Sabar adalah kuncinya, dengan berlapang dada Allah akan menolong dalam berbagai hal yang kita lakukan, dengan membantu semua pasti terdapat hikmahnya. 

Seperti halnya kisah perjuangan Rasulullah yang pertama kali diutus bersama Abu Bakar pemeluk islam pertama. Abu Bakar sendiri memeluk islam tanpa keraguan sedikitpun. Bersama Rasulullah mereka berjuang dalam mensyiarkan agama islam melewati berbagai rintangan dalam menghadapi Kaum Quraisy. Banyak pengorbanan dan kesabaran yang dihadapi, tapi dari hal itu akan ada Hikmah dan sesuatu yang diperoleh dari hal itu.

(Zihni Maurizio/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU