Kajian Shahih Bukhari: Ikhlas dan Surah Al-Ikhlas Kunci Surga

Kajian Shahih Bukhari: Ikhlas dan Surah Al-Ikhlas Kunci Surga

Pengajian Ahad Legi | 4 Mei 2025

Oleh: Dr. KH. Fathul Baru, S.S., M.Ag.

annur2.net – Anas bin Malik, salah satu pelayan Nabi Muhammad saw., menceritakan mengenai Imam Masjid Quba yang mendapat protes dari makmum-makmumnya. Imam itu berasal dari Kaum Ansar (Madinah).

Permasalahan muncul karena Imam selalu membaca surah Qulhu atau Al-Ikhlas setelah surah Al-Fatihah. Ia membacanya dia setiap rakaat salat. Meski sudah membaca satu setelah Al-Fatihah, dia masih membaca surah lain setelah surah Al-Ikhlas.

Padahal hal seperti itu tidak pernah Nabi lakukan. Maka dari itu, para imam memprotes. “Sebenarnya kamu sudah membaca surah Qulhu, tetapi merasa tidak cukup dan membaca surah lain. Mengapa tidak menentukan salah satu saja dari dua surah tersebut?” Tanya makmum kepadanya.

Imam itu menjawab, “Aku tidak akan meninggalkan surah tersebut. Jika kalian tetap ingin aku menjadi imam, akan aku lakukan. Jika kalian tidak suka, aku akan meninggalkan kalian.” Medengar jawaban itu makmum bingung. Apalagi orang kepercayaan sahabat Ansar percayai untuk menjadi imam hanya ia saja.

Akhirna imam Masjid Quba tetap orang tersebut. Sampai pada suatu hari Nabi Muhammad berkunjung ke sana, para sahabat melaporkan masalah imam masjid Quba. Mendengar itu Nabi mengklarifikasi langsung dengan memanggil imam tersebut.

“Wahai Fulan, apa yang membuatmu tidak mengikuti permintaan para sahabat Ansar dan apa yang menyebabkanmu tetap membaca surah Qulhu?” Tanya Nabi Muhammad saw. Imam itu menjawab,

 إِنِّي أُحِبُّهَا  

“Sesungguhnya aku mencintai surah Qulhu.” 

Mendengar jawaban itu Nabi membalas,

حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الجَنَّةَ 

“Kecintaanmu ke surah itu menyebabkanmu masuk ke dalam surga.”

Ini harus sesuai dengan niatnya. Imam tersebut membaca surah Al-Ikhlas karena telah cinta yang amat dalam, maka ia pantas mendapat ganjaran masuk surga.

Asal Usul Penamaan Surah Al-Ikhlas dan Makna Ikhlas

Kebanyakan penamaannya  surah dalam Al-Qur’an sesuai dengan salah satu lafaz yang ada di dalamnya. Misal surah Al-Falaq dan An-Nas. Setiap surah itu pasti salah satu ayatnya mengandung lafaz yang sesuai dengan namanya. Berbeda dengan Al-Ikhlas. Meski memiliki nama Ikhlas, tidak ada satupun ayatnya yang mengandung lafaz ikhlas.

Ini menunjukkan arti sejatinya ikhlas. Ikhlas tidak harus tampak secara lahir karena tempatnya ada di dalam hati. Antara surah Al-Ikhlas dan orang yang Ikhlas memiliki fadilah dan pahala yang agung.

Jika seseorang membaca surah Al-Ikhlas sebanyak tiga kali, sama halnya ia mendapat pahala khatam membaca Al-Qur’an sekali. Sedangkan fadilah orang ikhlas adalah ibadah sekecil apapun, tapi bersamaan dengan rasa ikhlas, maka Allah akan menerimanya. Setiap ibadah harus besertaan dengan rasa ikhlas dan mengharap rida-Nya.

(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU