annur2.net – Pepatah, “Rumput tetangga selalu lebih hijau,” tidak asing di telinga kita. Anggapan bahwa nikmat yang orang lain miliki selalu lebih baik daripada milik kita justru mengobrak-abrik perasaan. Melihat orang lain sering berlibur sedangkan kita hanya berwisata di kasur. Hati kecil kita bisa menangis melihat itu. Namun itu masih lebih baik daripada iri atau hasud.
Hasud adalah harapan hilangnya nikmat orang lain. Orang yang hasud akan senang ketika nikmat orang lain hilang, tetapi merasa susah dan gelisah apabila orang lain memiliki nikmat yang lebih besar darinya. Ia ingin nikmat terbesar hanya miliknya. (Ihya Ulumuddin)
Tentunya kita harus menjauhi sifat hasud. Jika kita sampai hasud atau iri, kebaikan yang kita miliki akan terkuras. Kita sudah banyak melakukan sedekah, salah sunah, dan kebaikan lainnya sehingga memiliki banyak pahala. Namun karena kita hasud kepada tetangga karena memiliki motor baru, pahala itu sia-sia.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.:
الْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ، كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Hasud atau iri menghapus kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis tersebut telah menunjukkan bahwa hasud tidak diperbolehkan. Kebaikan yang kita lakukan selama ini bisa habis seperti kayu yang terbakar. Ke mana? Pahala itu telah diantar kepada orang yang kita hasudi. Pastinya tidak mungkin kita menginginkan hal itu.
Cuma Ingin atau Menghilangkan Nikmat Orang Lain?
Namun, hasud juga memiliki beberapa tingkatan. Kita buat contoh kalau tetangga di sebelah rumah kita baru membeli mobil Pajero Sport seharga 500 juta rupiah untuk menjelaskan tingkatan hasud.
Pertama, kita hanya ingin memiliki mobil tersebut tanpa berharap mobilnya rusak atau hilang. Perasaan kita tetap normal tanpa ada sakit di dalam hati. Tidak ada permusuhan di dalamnya. Tingkatan hasud paling rendah ini dimaafkan oleh Allah dan tidak mendapat dosa, asalkan iri dalam urusan duniawi.
Beda halnya jika mengetahui tetangga itu rajin salat malam, misalnya. Justru sunah hasud dalam perkara ukhrawi seperti ini. Berharap mendapatkan pahala lebih banyak daripada tetangga. Berlomba-lomba dalam kebaikan, fastabiqul khairat.
Tingkatan selanjutnya hampir sama dengan yang pertama. Kita bekerja keras sampai lembur untuk bisa membeli mobil Pajero Sport seperti tetangga. Tapi jika tidak tercapai, hati kita langsung dengki. Amarah di dalam diri kita memberikan motivasi untuk berbuat buruk kepada tetangga itu dan berharap nikmatnya hilang.
Kategori kedua ini memiliki dua sisi. Sisi pertama yaitu kepingin memiliki nikmat yang sama dengan orang lain. Ini tidak apa-apa. Tetapi buruk juga karena adanya harapan jelek saat kita tidak bisa menggapainya.
Yang ketiga ialah ingin merebut nikmat orang tersebut. Gambarannya kita melakukan hal-hal yang membuat mobil Pajero Sport itu lepas dari tangan si tetangga. Setelah tetangga menjual mobil itu, kita membeli mobil itu, apalagi dengan harga lebih murah karena second.
Kategori ini bukan berharap nikmat orang lain hilang darinya, tapi nikmat itu sendiri. Dalam contoh itu, kita ingin mobil itu karena limited edition misalnya. Contoh lainnya ketika bunga desa, gadis tercantik sedesa, sudah mendapatkan tunangan. Sedangkan kita, para remaja, sangat ingin menikah dengan gadis itu. Jadi yang dibenci adalah kita tidak memiliki nikmat tersebut, bukan karena orang lain memilikinya.
Terakhir dan yang paling tinggi adalah berusaha melepas mobil tersebut dari tetangga meskipun kita tidak mendapatkannya. Dalam kondisi ini orang yang hasud sudah gelap mata. Bagaimanapun caranya, mobil itu atau nikmat orang lain harus hilang dari tangannya. Ini adalah puncak dari keburukan hasud.
Setelah mengetahui hal ini, tentunya kita sudah bisa mengendalikan diri kita dari hasud. Kita bisa membedakan mana yang boleh dan tidak boleh. Tidak apa-apa kita menginginkan nikmat yang sama seperti orang lain, mobil Pajero Sport yang persis. Tapi tidak boleh kita merebut dan menghilangkannya dari pemiliknya. Allah Swt., berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.” (QS. An-Nisa’: 32)
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)