Kajian Hikam: Allah Sudah Menentukan Takdir, tapi Jangan Malas

اللهم اجعل لي نوراً في قلبي، ونوراً في قبري، ونوراً في سمعي، ونوراً في بصري، ونوراً في شعري، ونوراً في بشري، ونوراً في لحمي، ونوراً في دمي، ونوراً في عظامي، ونوراً من بين يدي، ونوراً من خلفي، ونوراً عن يميني، ونوراً عن شمالي، ونوراً من فوقي، ونوراً من تحتي، اللهم زدني نوراً، وأعطني نوراً، واجعل لي نوراً

“Ya Allah, berikanlah cahaya di hatiku, cahaya di kuburku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya di rambutku, cahaya di kulitku, cahaya di dagingku, cahaya di darahku, cahaya di tulang-tulangku, cahaya di antara tanganku, cahaya di belakangku, dan cahaya di sebelah kananku, dan cahaya di sebelah kiriku, dan cahaya di atasku, dan cahaya di bawahku. Ya Allah, tambahkanlah cahaya padaku, berikanlah aku cahaya, dan jadikanlah cahaya untukku.”

annur2.net – Doa tersebut banyak menyebutkan cahaya saking pentingnya. Mata bisa melihat karena cahaya. Telinga bisa mendengar karena ada “cahaya”. Begitu juga hal lainnya. Dalam artian cahaya yang dimaksud adalah sesuatu yang baik. Berarti doa tersebut menginginkan semoga mata melihat sesuatu yang baik, telinga mendengarkan yang baik-baik, dan sebagainya.

Dalam cerita Laila Majnun. Suatu hari Qais, lelaki yang mencintai Laila, berjalan di depan orang yang salat. Ada seseorang yang menegurnya, “Hai, kenapa kamu ke sana kemari di depan orang yang salat?” Qais itu menjawab, “Aku tidak bisa melihat apa pun kecuali Laila.” Orang itu pun mengkritik, “Lalu bagaimana bisa kamu menghadap Allah tapi yang kamu lihat adalah diriku?”

Maka, manusia bisa menerima kepada kebaikan melalui cahaya. Selain cahaya tidak ada yang ia lihat lagi. Kajian lebih lengkapnya ada di kitab Muraq Al-Ubudiyah Syarah Bidayah Al-Hidayah karya Imam Nawawi Al-Bantani.

Jangan Malas Menggapai Kebaikan

‌دع ‌التكاسل فِي الْخيرَات تطلبها … فَلَيْسَ يسْعد بالخيرات كسلان

“Tinggalkanlah kemalasan dalam mencari kebaikan-kebaikan karena seseorang yang malas tidak akan pernah mendapatkannya.”

Lafaz الْخيرَات di dalam tafsir adalah kebaikan-kebaikan yang manusia sukai. Tidak boleh malas untuk mendapatkannya. Ada sebuah kaidah kullun , “Seseorang akan mudah mendapatkan terhadap apa yang akan diberikan.” Tanda Allah akan memberi adalah mudah melakukan kebaikan.

Jika tidak begitu, maka orang tersebut belum mendapatkan apa yang Allah takdirkan. Begitu juga tanda orang ahli surga ialah orang yang banyak melakukan ibadah dan berperilaku baik. Namun ini hanya tanda. Adakalanya valid dan tidak. Terkadang ada orang yang berperilaku sebaliknya tapi menjadi ahli surga.

Untuk mendapatkan kebaikan ini tidak boleh malas, sebagaimana keterangan sebelumnya. Nabi Muhammad saw., melakukan ibadah bahkan kaki beliau sampai bengkak. Sayyidah Aisyah mempertanyakan hal itu. Tapi Nabi hanya menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?” Beliau sangat bersemangat dalam melakukan kebaikan.

Dalam perang Khandaq, perang dengan membuat parit, Nabi sampai mengikat perutnya dengan batu untuk menahan lapar. Saat itu seorang sahabat tidak mampu mengangkat batu yang besar dan berat. Mereka pun menghadap Nabi tentang masalah itu. Akhirnya Nabi turun tangan.

Kemudian Nabi memukul batu itu sebanyak tiga kali. Sedikit demi sedikit batu itu hancur. Setiap pukulan, Nabi menggambarkan bahwa umat Islam akan menguasai berbagai daerah. Sampai-sampai Islam menyebar dari dunia ujung timur hingga barat. Setelah tiga kali pukulan, batu itu pun hancur.

Malas adalah Sumber Kegagalan

[كتب] على عصا ساسان: “‌الحركة ‌بركة والتواني هلكة، والكسل شؤم والأمل زاد العجز

Raja Sasan, salah satu penguasa Persia, pernah mengungkapkan, “Bergerak itu berkah. Menunda-nunda adalah kebinasaan. Malas adalah kesialan. Terlalu panjang angan-angan menjadikan lemah.” Ada juga yang mengatakan bahwa anjing yang berkeliling lebih baik daripada singa yang hanya diam saja.

Di dalam kitab Faidh Al-Qadir, “Anjing yang diikat lebih mahal daripada anjing yang dilepaskan.” Maksudnya kalau ada orang yang menahan diri lebih berkualitas daripada yang sering keluar untuk meningkatkan kualitas diri. Jika tidak, maka nilainya akan turun. Kiai Badruddin mengibaratkan, “Santri ora gelem ngaji koyok wedhus ora gelem suket.

Kekecewaan hasil dari dua hal: malas dan gagal. Parahnya, kemalasan adalah pintu kefakiran. Sedangkan kelambanan mewariskan kehinaan. Meskipun lebih baik daripada yang tidak melakukan. Sebagaimana nasihat Lukman Al-Hakim untuk anaknya, “Anak-anakku, jangan malas. Jika kita malas tidak akan bisa menunaikan hak. Kalau bosan maka tidak bisa menanggung kewajiban.”

Allah Sudah Menentukan Tadir Semuanya

Imam Al-Muqri mengatakan, “Setiap penyakit ada obatnya kecuali kefakiran yang bercampur dengan kemalasan.” Jika tidak malas, masih ada kemungkinan untuk bangkit. Beliau juga mengatakan, “Manusia akan mendapatkan apa yang Allah takdirkan setelah memenuhi ketentuannya.” Apapun  yang manusia lakukan, kalau sudah takdirnya maka akan datang. Namun manusia tidak mengetahui takdirnya. Beliau melanjutkan untuk menyikapi takdir dengan tenang dan yakin.

“Aku tidak mengatakan bahwa orang yang berusaha akan mendapatkannya. Aku juga tidak mengatakan orang yang leha-leha tidak akan mendapatkannya.” Jadi manusia ada di tengah-tengahnya. Maka manusia harus bersungguh-sungguh karena ketentuan berada di tangan Allah. “Tetapi tempuhlah jalan tengah dalam mencari rezeki, melewati cara yang halal, karena semuanya ada sebabnya.”

“Manusia berjalan bersama takdir ke mana pun ia pergi.” Tetapi manusia tetap mendapatkan pilihan. Bahkan semua hal yang terjadi kepada manusia adalah pilihan. Hanya saja Allah telah memberikan ketentuan. Ada ungkapan, “Tidak ada tumbuhan yang tumbuh tanpa pupuk. Juga tidak ada orang yang memiliki anak kecuali menikah dahulu.”

Jadi Allah telah menentukan takdir kita. Kita hanya perlu berusaha untuk mendapatkan apa yang telah Allah takdirkan. Allah berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ

 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu.” (QS. Ali Imran: 133)

Nabi Muhammad juga bersabda,

بادِروا بالأعمالِ سبعًا : هل تنظرون إلَّا فقرًا مُنسِيًا، أو غنًى مُطغِيًا، أو مرضًا مُفسِدًا، أو هِرَمًا مُفنِّدًا أو موتًا مُجهِزًا ، أو الدَّجَّالَ، فشرٌّ غائبٌ يُنتَظرُ، أو السَّاعةُ فالسَّاعةُ أدهَى وأمرُّ.

“Bersegeralah kamu beramal saleh sebelum datang tujuh perkara: Apakah yang kamu tunggu-tunggu itu hanyalah penyakit yang dapat membinasakan, atau usia tua yang dapat melemahkan, atau kekayaan yang dapat menyesatkan, atau kemiskinan yang dapat menyebabkan lupa, atau kematian yang dapat membinasakan, atau Dajjal, maka itulah yang paling buruk yang ditunggu-tunggu, atau Hari Kiamat yang saat kemunculannya paling buruk dan paling pahit.”

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU