24 September, 2018
  • 24 September, 2018
jujur mujur, bohong kufur

JUJUR MUJUR, BOHONG KUFUR

By on 15 April, 2012 0 181 Views

Lentera Hati

والفتنة أكبر من القتل

“Fitnah itu lebih besar (dosa dan bahayanya) daripada membunuh”

(QS. Al-Baqarah: 217).

Ayat di atas merupakan ungkapan singkat namun sarat dengan makna. Membunuh, menurut Al-Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi pengarang kitab Al-Kaba’ir, dikategorikan sebagai al-kabirah ats-tsaniyah (dosa besar urutan kedua), setelah dosa syirik kepada Allah. Bahkan Rasulullah saw. menganggap bahwa ada dua dosa yang tidak ada kemungkinan diampuni oleh-Nya; mati dalam keadaan kafir dan membunuh orang mukmin.

 

Namun, berdasarkan firman Allah di atas, ternyata memfitnah seseorang itu lebih besar dosa dan dampaknya ketimbang dosa dan dampak membunuh. Fitnah memang merupakan aktifitas sederhana (kesalahan dalam mengucap), akan tetapi ia  bisa menimbulkan berbagai dampak negatif. Dengan fitnah bisa timbul pertengkaran, perceraian, pembunuhan, peperangan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, tidak salah bila dikatakan “Lidah lebih tajam daripada pedang”.

 

Aktifitas memfitnah berarti merupakan ketidak sesuaian antara ucapan dengan kenyataan, dengan kata lain bahwa dalam fitnah pasti terkandung unsur pendustaan dan ketidak-jujuran. Memfitnah berarti menisbatkan sesuatu yang keliru terhadap seseorang. Misalnya, si A difitnah sebagai pencuri, koruptor, pezina, dan sebagainya padahal kenyataannya ia tidak pernah melakukan pencurian, korupsi, ataupun berzina.

 

Islam mengajarkan ummatnya untuk menghindari kedustaan dan kebohongan, sebab kedua hal ini tidak sesuai dengan ruh keislaman, yaitu menciptakan kedamaian, kesejahteraan, dan ketentraman. Rasulullah saw. dengan tegas menegasikan (meniadakan) “status mukmin” dari pendusta, sebagaimana tercermin dalam hadits:

يا رسولَ الله هل يكونُ المؤمِنُ شَحِيحاً فقال نعم فقيل يا رسولَ الله فهل  يكون المؤمِنُ سَيِّئ َالْخُلُق قال نعم فقيل يا رسول الله فهل يكون المؤمن جَباَّناً  قال نعم فقيل يا رسول الله فهل يكون المؤمن كذاباً قال لا.

 

“Ya Rasulallah, apakah orang beriman ada yang pelit? Beliau menjawab, ya. Lalu ada yang bertanya kepada beliau, apakah orang beriman ada yang berbudi pekerti jelek? Beliau menjawab, ya. Ada yang bertanya lagi kepada Rasulullah, apakah orang beriman ada yang penakut? Beliau menjawab, ya. Ada lagi yang bertanya, apakah orang beriman ada yang pendusta? Dengan teegas beliau menjawab, tidak”.

 

Hadits di atas menunjukkan bahwa kejujuran merupakan perangai orang beriman, sementara kedustaan adalah sikap orang kafir (tidak beriman). Senada dengan hadits tersebut, Allah berfirman:

إنما يفتري الكذب الذين لا يؤمنون بأيات الله وأولئك هم الكاذبون

 

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta” (QS. An-Nahl: 105).

 

Jujur dalam arti sempit adalah kesesuaian ucapan lisan dengan kenyataan. Dalam pengertian yang lebih umum adalah kesesuaian lahir dan batin. Ketika seseorang berkata bahwa ia mencintai Rasulullah saw., ia dikatakan jujur bila perilaku kesehariannya menunjukkan kecintaan terhadap Rasulullah saw. Sebaliknya, bila perilakunya tidak menunjukkan hal itu, berarti bisa dipastikan ia sebagai pendusta, munafik. Allah swt. mengatakan kemunafikan sebagai kebalikan dari kejujuran:

 

“Supaya Allah memberikan Balasan kepada orang-orang yang benar itu (jujur) karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik….” (Al-Ahzab: 24).

 

Orang jawa sering mengucapkan pepatah “Jujur iku Mujur”, jujur itu membawa keberuntungan, ketenangan, dan faedah-faedah lainnya. Bila ditelisik lebih lanjut, sebenarnya pepatah tersebut di atas merupakan simplifikasi (penyederhanaan) dari keterangan yang ada dalam al-Qur’an, hadits Nabi, maupun perkataan ulama’.

 

Kejujuran akan berujung kepada kebaikan dan kenikmatan yang abadi, surga. Rasulullah saw. bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ…..

“Kamu harus selalu bersifat jujur, sebab kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkanmu ke surga” (HR. Muslim: 4721).

 

Dengan kejujuran, juga akan tercipta kehidupan yang damai dan tentram, sebaliknya kebohongan akan menimbulkan keraguan, kekacauan, dan kegelisahan. Hasan ibn Ali ra berkata:

فإن الصدق طمأنينة والكذب ريبة

“Jujur adalah ketenangan dan dusta adalah keraguan”

Kejujuran membawa pelakunya bersikap berani, karena ia kokoh tidak lentur, dan karena ia berpegang teguh serta tidak ragu-ragu. Oleh karena itu disebutkan dalam salah satu definisi,, jujur adalah berkata benar di tempat yang membinasakan. Al-Junaidi rahimahullah mengungkapkan hal itu dengan ucapannya: Hakekat jujur adalah bahwa engkau jujur di tempat yang tidak bisa menyelamatkan engkau darinya kecuali bohong.

 

Mari kita budayakan kejujuran kapanpun, dengan siapapun, dan dimanapun. Sebab jujur iku mujur, goroh iku ajur lan kufurWallahu A’lam.

 

Oleh: Helmi, S.S.* Penulis adalah santri An Nur II asal probolinggo dan sedang menempuh studi pascasarjana Islamic Studies UIN Maliki Malang.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: