JMC Berselawat di Sumber Manten Bareng An-Nur II

Senandung selawat terdengar semenjak bakda Isya. Rintikan gerimis menemani walau hanya sebentar. Namun para jemaah Majelis Selawat Lil Habib Ja’far bin Utsman Al-Jufri tidak goyah dari tempat duduknya dan tetap membuka mulutnya untuk berselawat. Sabtu (11/6/2022).

Bertempat di Sumber Manten, acara berlangsung. Sumber Manten merupakan tanah milik Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata) yang rencananya akan digunakan untuk lokasi pembangunan STAI Bad. Namun pembangunannya masih belum dimulai. Sehingga tempatnya masih berupa tanah yang ditumbuhi rerumputan. Akan tetapi para jemaah tetap semangat berselawat.

Lantunan selawat terus terdengar semenjak bakda Isya, menunggu kedatangan para habib dan kiai. Bukan berarti selawatnya berhenti ketika mereka datang. Melainkan saat mereka datang disambut dengan selawat “Tola’al badru.” Hingga mereka sampai datang di panggung. Kemudian acara selawatan itu bertambah meriah.

Selawat terus berkumandang hingga Kiai Ahmad Zainuddin Badrudin kebagian mandat untuk memberikan sambutan mewakili An-Nur II. Beliau menjelaskan seluar biasa apa Habib Ja’far itu beserta para jemaahnya.

Kepribadian dan Ketampanan Habib Ja’far

Setelah mikrofon sampai di tangan Kiai Zainuddin, beliau segera memberi salam dan membacakan sajak tentang Habib Ja’far yang merupakan tanda cinta terhadap pecinta selawat ini. beliau memulai dengan menyanjung suara indah milik Habib Ja’far.

Suara pecinta selawat ini, begitu merdu di telinga. Ditambah apa yang beliau senandungkan adalah selawat kepada Nabi Muhammad SAW, insan mulia dan sempurna dalam segala aspek kemanusiaan. Dalam sajak tersebut Kiai Zainuddin berkata, “Suaranya sangat merdu.”

Selanjutnya Kiai Zainuddin memuji ketampanan Habib Ja’far. Betapa tampannya hingga tidak ada satupun yang memungkirinya. Paras wajahnya dipenuhi wibawa, bersih dan terang. Begitulah gambaran ketampanan si pemuji manusia tertampan yang pernah ada.

Habib Ja’far ini mempunyai hobi menaiki motor trail. Seorang habib kenapa memiliki hobi sebarbar itu? Ditanya begitu, Habib Ja’far menjawab, “Selama bukan maksiat dan masih bisa berdakwah ngapain harus gengsi?” Jelas Kiai Zainuddin dalam sajaknya.

“Jemaah milik Habib Ja’far sangatlah banyak, hingga mengular panjang.” Ucap Kiai Zainuddin di dalam sajak yang beliau bacakan di atas panggung. Para jemaah Habib Ja’far, orang-orangnya sangatlah gemar berselawat. Sampai-sampai-Kiai Zainuddin mengibaratkan-meski langit mengguyur dengan hujan, bumi bergetar hebat, ataupun angin bertiup kuat, mereka terus menggerakkan mulutnya untuk berselawat.

Gara-gara kekhusyukan inilah Kiai Zainuddin mengundang JMC (Ja’far Mania Comunity), berharap agar STAI Bad segera berdiri dan menjadi tempat yang berkah. Apalagi Habib Ja’far adalah keturunan dari Nabi Besar Muhammad SAW.

Selain itu, alasan lain dari diundangnya JMC adalah menyambung silaturahmi. “Sudah dari dulu, Kiai Zainuddin ingin ngundang. Buat mempererat hubungan, juga anaknya kan mondok di An-Nur II.” Ucap Ustaz Zamroni, salah satu panitia di majelis selawatan ini. Anak di sini adalah Yik Hasan, santri yang masih berada di jenjang MI/SD.

“Semoga dengan diadakannya majelis selawatan ini, Sumber Manten manfaatnya dapat menyebar ke seluruh dunia.” Harap Ustaz Zamroni. Sumber manten sebenarnya sudah menjadi tempat yang keramat di Bululawang ini. karena sumbernya itu, katanya bisa menyembuhkan penyakit.

Setelah menyampaikan sambutan, acara berlanjut pada mauidoh dari Kiai Lukmanul Hakim. Beliau terkenal dengan sebutan “Kiai Gaul” di masa kini. Dalam mauidoh tersebut beliau menyampaikan bahwa selawat itu serba guna, bisa untuk apa-apa.

Selawatan kembali terdengar setelah Kiai Lukmanul Hakim meyelesaikan mauidohnya. Hingga bagian Mahallul Qiyam seluruh jemaah berdiri. Beberapa ada yang menitikan air, sebab rindunya kepada Nabi Muhammad walau tidak pernah bertemu.

(Ahmad Firman Gani Maulana/Mediatech)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex