Jasad Firaun, Pembelajaran untuk Seluruh Insan

Jasad Firaun, Pembelajaran untuk Seluruh Insan

Dulu, di Mesir ada seorang raja yang memiliki sifat tidak logis. Ia menisbatkan dirinya, bahwa ialah tuhan yang merajai semesta alam. Padahal itu adalah kedoknya agar semua orang bisa menjadi budaknya. Ia bernama Firaun. Maka, Nabi Musa yang Allah utus untuk menyebarkan kebenaran dan kebaikan, berdakwah kepada Firaun dan kaum-kaumnya.

Masa-masa Nabi Musa mulai lahir hingga ia mulai dakwah terang-terangan bukanlah hal yang mudah. Sebab Firaun mendapatkan mimpi di mana ada seorang laki-laki yang menaiki tahtanya dan memakai mahkotanya, ia pun memanggil ahli takwil mimpi. Para ahli tafsir mimpi sepakat, jika akan ada orang yang akan melengserkan dirinya.

Maka, ia punya kebijakan tidak jelas dan tidak ada bijaknya. Yaitu dua tahun sekali bayi laki-laki tidak boleh ada. Semisal ada yang lahir, Firaun dan pasukannya akan membunuhnya. Sayangnya, Nabi Musa terlahir di tahun yang dilarang ada anak bayi laki-lakinya. Ujian dari Allah sudah menimpa beliau semenjak kecil.

Hingga, ia dewasa dan mulai menyebarkan ajarannya dengan terang-terangan. Masalah masih ada. Firaun menolak percaya keyakinan yang Nabi Musa bawa. Ia bahkan memfitnah Nabi Musa. Ia berkata, “Apakah Kamu ingin memalingkan Kami dari ajaran nenek moyang. Kemudian Kamu akan menjadi penguasa. Kami tidak akan beriman.”

Sampai akhirnya hari eksekusi Firaun tiba. Firaun beserta pasukannya mengejar Nabi Musa. Aksi kejar-kejaran itu membawa Nabi Musa dan kaumnya tiba di pinggir lautan. Sehingga tidak ada jalan lagi kecuali melewatinya. Akhirnya Nabi Musa menampakkan mukjizatnya dengan membelah lautan.

Perjalanan Nabi Musa dengan kaumnya aman-aman saja, mereka bisa tiba di sisi lain lautan dengan sehat sentosa. Namun, tatkala Firaun dan pengikutnya melewati lautan itu, laut yang terbelah itu mulai menyatu kembali. Firaun juga pasukannya pun tenggelam oleh air lautan.

Detik-detik ia menemui ajalnya, ia mulai percaya dengan ajaran Nabi Musa. Ia mulai meyakini jika hanya ada satu Tuhan saja yang hakiki di dunia ini. Ialah Tuhannya Nabi Musa dan pengikutnya. Yaitu Allah SWT. Hanya saja, taubat saat azab Allah tampak itu tidak memungkinkan, karena pintu taubat sudah tertutup. Meski begitu, malaikat Jibril membungkam mulut Firaun dengan pasir laut. Malaikat Jibril takut Allah akan memaafkannya.

Firaun yang tenggelam itu menghembuskan napas untuk terakhir kalinya. Ia yang terkenal tidak pernah sakit, mati karena tenggelam. Ia yang mengaku-ngaku sebagai tuhan karena kuatnya dan berkuasanya itu, telah hilang nyawanya. 

Lantaran semasa berkuasa ia tidak pernah sakit, meski batuk saja, pengikutnya banyak yang tidak percaya kalau Firaun telah mati. Mereka percaya Firaun itu hebat banget. Mereka yakin Firaun itu adalah tuhan yang kuat. Jadi, ketika mendengar kabar kematian Firaun pengikutnya banyak yang tidak percaya.

Jasad Firaun Allah sengaja awetkan. Jasad itulah yang berfungsi sebagai bukti, jika kisah antara Nabi Musa dan Firaun benar-benar pernah terjadi. Jasad itu untuk meyakinkan pengikutnya jika ia memang sudah tiada. Jasadnya itulah yang menjadi pembelajaran agar umat-umat ke depannya tidak mengulangi perbuatan Firaun.

*Bersumber dari pengajian tafsir bareng Dr. KH. Fathul Bari, S. S., M.Ag

(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU