Semarak Menghidupkan Al-Qur’an dengan Menyimak di Haul ke-4 Kiai Badruddin

Semarak Menghidupkan Al-Qur’an dengan Menyimak di Haul ke-4 Kiai Badruddin

Senin, 11 Januari 2021, beberapa bacaan wirid terlantunkan dengan baik menandakan pembukaan Khotmil Qur’an dari hufaz Jantiko Mantab dimulai. Segenap santri turut menghadiri kegiatan semaan Al-Qur’an majelis Jantiko Mantab mulai seusai salat Subuh hingga setelah Isya’. Kegiatan tersebut dilakukan secara bergilir oleh tiap kelas. Berbeda seperti pagi biasanya, kali ini tak ada kegiatan pengajian tafsir melainkan kiai Fathul Bari memerintahkan kepada para santri untuk memaksimalkan kegiatan tersebut.

Dzikru Lailan atau Dzikrul Ghofilin?

Selepas Subuh jemaah Jantiko Mantab dan Dzikrul Ghofilin menapaki pondok. Sekitar 15 orang jemaah Jantiko Mantab turut mengisi acara tersebut, namun tidak seluruhnya melafalkan ayat suci Al-Qur’an secara bersamaan, melainkan kegiatan tersebut dilakukan secara bertahap. Setiap orang jemaah dikenai untuk merapal Al-Qur’an dari setiap juz yang diinginkannya. Sejumlah Hufaz An-Nur II yang berjumlah enam orang juga turut menyimak bacaan Al-Quran dari pagi hingga selepas Isya’  yang dilantunkan oleh salah satu jemaah tersebut.

Sebelum pada inti acara Jantiko Mantab, beberapa santri ikut membersihkan area Raudlah dan Masjid pada sore hari yang akan menjadi tempat berlangsungnya acara. Meskipun konsep dalam menjelang acara puncak nampak berbeda dari tahun lalu, yang biasanya menggunakan terop tetapi kali ini tidak, justru dengan hal tersebut keterbukaan santri terhadap suasana saat berjalannya acara menyatukan rasa khusyuk dan antusias.

Para santri turut menghadiri acara pra-haul yang ke-4 ini meski pandemi menjadi penghalang, tetapi para santri tetap bertahan dibalik terkikisnya peradaban. Inti acara pun dimulai setelah Maghrib yakni Dzikir (Dzikrul Ghofilin) yang dilaksanakan hingga menjelang Isya’ kemudian dilanjutkan dengan penutupan Khotmil Qur’an juz ke-30, yang iringi dengan orasi ilmiah oleh gus Sabuth Panoto Projo. 

Walau rintik hujan turut menyertai seisi pondok, hal tersebut tidak menyurutkan para santri beranjak kembali ke kamar. Malahan para santri begitu antusias menyimak beberapa pesan moral dari gus Sabuth selaku Khadimul Majelis tersebut. Acara kali ini dihadiri oleh sejumlah masyayikh salah satunya adalah Habib Hamid bin Walid Mauladawilah yang ikut berperan serta dalam inti acara.

“Kita harus bisa meneladani perjuangan kiai dan belajar berakhlak kepada para masyayikh.” Pesan  ustaz Iskar Ardian selaku sekretaris jemaah Jantiko Mantab saat salah satu anggota Mediatech bertanya seputar majelis. “Dulu malah ada seorang preman yang bertaubat dan menjadi salah satu pembesar Jantiko Mantab berkat dorongan beliau Kiai Hamim Djazuli atau biasanya dipanggil gus Miek.” cerita pak Slamet salah satu jemaah yang hadir bersama sekretaris Jantiko Mantab. 

Dulu nama dari majelis yang didirikan oleh Kiai Hamim Tohari Djazuli tersebut adalah Dzikru Lailan kemudian melihat majelis berkembang pesat kemudian berganti nama menjadi Dzikrul Ghofilin (dzikirnya orang-orang lalai) dan mengapa disebut demikian? sebab umat manusia tidak luput dari kelalaian atau lupa terhadap sesuatu dan kita selalu diajarkan untuk mengingat Allah.

Iman Kuat Sesuai Tingkatan Zaman

“Semoga bersama Kiai Bad bareng-bareng kita menghuni surga.” Ujar gus Sabuth saat mengawali sambutannya. Beliau memberikan beberapa wawasan terhadap para santri seolah kata tersebut menjadikan motivasi dalam berlomba-lomba menegakkan agama. Beliau juga berasumsi bahwa orang pada zaman dahulu kuat beribadah karena minimnya berbagai macam godaan berbeda jika dibandingkan dengan zaman sekarang.

Meninjau zaman sekarang yang begitu canggih dan modern, namun hal tersebutlah yang menyebabkan berbagai macam godaan tiba. Intinya iman diukur dari seberapa kuat kita dalam mengarungi tiap zaman, dan itulah yang menjadi tolak ukur diri kita. Seberapa besar Allah menguji para hambanya untuk menyembahnya.

Allah SWT menurunkan bencana yang luar biasa atas kewafatan para ulama tak lain adalah bencana besar bagi dunia karena para ulama yang menjadi tombak dari segala kesaksian bumi, salah satunya adalah Almaghfurlah KH. Badruddin Anwar, beliau adalah kiai yang patut kita teladani. Zikir, Tafakkur dan hormat kita kepada kiai merupakan perkara sebagai peredam kemurkaan Allah. Pun saat ini juga merupakan acara peringatan beliau kiai Bad.

“Jika kita mau untuk menerapkan setiap perjuangan ulama kejayaan dunia dan akhirat akan kita dapatkan.” Pungkas beliau sembari menutup acara dengan doa. Suasana terlihat begitu hening ketika Habib Hamid menutup acara dengan doa terakhir. 

Arkan Wiranata/Mediatech An-Nur II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: