Jantiko Mantab: Percayalah Adanya Berkah

Mauizah hasanahpada acara Majelis Semaan Al-Quran Jantiko Mantab di Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” oleh H. Agus Ferry Husni Ma’ab, Selasa, 12 Desember 2023. Beliau menjelaskan, kita harus yakin akan adanya berkah pada orang-orang mulia seperti Almaghfurlah KH. M. Badruddin Anwar di tengah gencaran akhir zaman.

Selanjutnya, Gus Ferry menceritakan rutinan beliau ke Makam Sunan Bungkul setiap malam Jumat Legi. Ketika memasuki area makam, ada yang merekam dan meng-upload-nyake media sosial, bahkan sempat viral. Pada akhirnya, banyak yang berkomentar, entah baik maupun tidak baik. Salah satu komentar yang tidak baik yaitu “Ini penyembah kubur”, “ini ajaran sesat”, dan “ini bidah”. Gus Ferry tidak menanggapinya karena terdapat di media sosial. Beliau lebih memilih untuk bertemu langsung dengan mereka dan menjelaskan pada mereka tentang itu semua.

Berkah dalam Perjalanan Nabi Muhammad

Ketika Isra’ Mi’raj, Malaikat Jibril mengajak Nabi Muhammad saw., berkunjung ke beberapa tempat, salah satunya tempat kelahiran Nabi Isa. Malaikat Jibril pun berkata ke Nabi Muhammad,“Ya Rasulullah, kamu berhenti sebentar, saya minta salat di sini.” Kemudian Nabi bertanya ke Malaikat Jibril, “Ya Jibril, ini tempat apa?” Kemudian Malaikat Jibril menjawab, “Di sinilah tempat kelahiran Nabi Isa.” Kemudian Nabi Muhammad salat di sana.

Apa kelebihan tempat kelahiran Nabi Isa dan apa tujuan Nabi salat di sana? Jelasnya untuk mencari berkah. Nabi yang sudah penuh dengan keberkahan masih mencari keberkahan dari pendahulunya. Begitu juga para jemaah mencari keberkahan dari Kiai Badruddin di raudlah beliau.

Kemudian Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril melanjutkan perjalanan Isra’ Mi’raj. Di tengah perjalanan, Malaikat Jibril mempersilahkan Nabi untuk berhenti di suatu tempat. Kemudian Nabi bertanya ke Malaikat Jibril, “Tempat apa ini, ya, Jibril?” Malaikat Jibril menjawab, “Ini tempat yang biasanya yang digunakan Nabi Musa untuk salat.” Kemudian Nabi pun salat di sana. Apa kelebihan tempat tersebut dan apa tujuan Nabi salat di sana? Tujuannya sama yaitu mencari berkah.

Sesudah Nabi wafat, di Madinah tidak pernah hujan bertahun-tahun. Kemudian para sahabat sowan ke Siti Aisyah. “Ya Ummul Mu’minin, bagaimana ini? Di Madinah tidak pernah hujan lagi setelah wafatnya Nabi Muhammad.” Kemudian Siti Aisyah menjawab, “زروا قبر نبيكم (Berkunjunglah ke makam Nabi kalian).” Setelah itu para sahabat menjalankan perintah Siti Aisyah. Sesudah dari makam Nabi, salah satu sahabat bermimpi bertemu dengan Beliau. Nabi berkata, “Allah sebentar lagi menurunkan hujan.”

Selain itu, ada kisah dari Imam Syafii. Beliau pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad. Dalam mimpi itu Nabi berkata, “Sampaikan salamku ke muridmu, Ahmad bin Hambal, sampaikan padanya untuk bersabar.”

Kemudian Imam Syafii mengirim surat ke muridnya itu. Ahmad bin Hambal menerimanya dengan bahagia karena ia merasa Nabinya memerhatikannya. Kemudian Hambal melepas jubahnya dan membungkus jubahnya untuk gurunya, Imam Syafii.

Pada suatu ketika Imam Syafii sakit lama dan tidak  lekas sembuh. Beliau pun memerintah seseorang untuk mengambilkan jubah pemberian muridnya untuk ia basahi. Imam Syafii ingin meminum air dari perasan jubah tersebut dengan mengharap keberkahan dari muridnya. Dengan izin Allah, Imam Syafii sembuh.

Tiga Bekal Menuju Akhirat

Salah satu hikmah besar itu untuk mengingat kematian. Muslim yang cerdas sadar bahwa dunia ini hanya sementara. Tetapi mati bukan akhir segalanya melainkan pintu gerbang ke alam Barzah. Maka ada tiga bekal terbaik untuk di akhirat nanti yaitu ampunan, rahmat, dan rida Allah.

Ada beberapa kisah yang menjelaskan tiga bekal di atas. Yang pertama kisah Allah menghukum Nabi Adam keluar dari surga dan turun ke dunia ini. Maka dari itu, Nabi Adam meminta ampunan Allah sebagai perbuatan pertamanya di Bumi.

Kedua ialah kisah seseorang yang hidup 500 tahun di suatu bukit terpencil. Di sana, Allah menumbuhkan pohon yang berbuah setiap malamnya dan satu mata air untuk dia bersesuci. Suatu hari dia berdoa kepada Allah untuk mencabut nyawanya dalam keadaan sujud dan membangkitkannya di akhirat dalam  keadaan sujud juga. Allah pun mengabulkan doanya.

Ketika di akhirat, Allah memerintahkan malaikat untuk memasukkan hamba-Nya tersebut ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Namun, orang tersebut tidak mau masuk surga dengan rahmat Allah. Ia ingin masuk surga dengan pahala ibadahnya selama selama 500 tahun. Allah tetap menyuruh Malaikat untuk memasukkan hamba-Nya tersebut ke dalam surga dengan rahmat-Nya.

Hamba tersebut tetap angkuh dengan permintaannya. Ia ingin masuk surga karena ibadah yang dia lakukan selama 500 tahun. Oleh karena itu, Allah menyuruh Malaikat untuk menimbang amal hamba tersebut dengan kenikmatan yang sudah Allah berikan kepadanya. Ternyata kenikmatan yang Allah berikan lebih berat daripada pahala ibadah selama 500 tahun. Sesudah itu, Allah memerintah Malaikat untuk memasukkan hamba-Nya tersebut ke dalam neraka. Mendengar hal itu orang tersebut pun berkata, “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena rahmat-Mu.”

Sedangkan yang ketiga yaitu kisah Imam Ghozali. Ketika beliau mengarang kitab, ada seekor lalat yang hinggap ke tinta beliau dan meminum tinta tersebut. Imam Ghozali membiarkan lalat itu. Akan tetapi, karena hal sepele itu, Allah meridai Imam Ghozali dan memasukkannya ke surga. Jadi beliau masuk surga bukan karena banyak mengarang kitab tetapi membiarkan lalat minum di tinta beliau.

(Abu Raihan E./Mediatech An-Nur II)  

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex