Jangan Balas Kejelekan

kejelekan, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo
Dangerous man abusing and terrrozing in anger.

Kejelekan Tidak Dibalas Keburukan

One Day One Hadith

Diriwayatkan dalam As-Syama’il Al-Muhammadiyah bahwa Aisyah RA berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُنْتَصِرًا مِنْ مَظْلَمَةٍ ظُلِمَهَا قَطُّ

“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasul SAW membalas atas kezaliman yang menimpa pribadi beliau.” [HR Tirmidzi]

Catatan Alvers

Kebanyakan orang mengira bahwa “husnul khuluq” (budi pekerti) itu adalah berbuat baik kepada orang lain. Mereka lupa bahwa hal itu tidaklah cukup, tetapi ada yang lain dan ini justru lebih penting. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Ghazali:

فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ اِحْتِمَالُ الْأَذَى

“Sesungguhnya budi pekerti itu menerima (dengan sabar) perbuatan jelek orang lain (kepada kita).” [Ihya Ulumiddin]

Rasul SAW tidak membalaskan kezaliman yang menimpa pribadi beliau, sebagaimana hadis utama di atas. Al-Qurtubi meriwayatkan bahwa ketika terjadi perang Uhud, gigi Rasul SAW terlepas dan wajah beliau terluka dan hal ini menjadikan para sahabat merasa berat sekali. Mereka berkata: “Doakan saja mereka agar segera binasa! Maka beliau menjawab:

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَلَكِنِّي بُعِثْتُ دَاعِيًا وَرَحْمَةً، اَللهم اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Aku tidaklah diutus untuk melaknat (mendoakan jelek) namun aku diutus untuk mengajak mereka dan menebarkan kasih sayang. Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui (kebenaran).” [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an]

Rasul SAW tidak ingin membalas kejelekan dengan keburukan walaupun sekedar dengan doa kejelekan, karena mendoakan jelek kepada orang yang berbuat jelek kepada kita itu artinya kita membalas kejelekan dengan kejelekan. Rasul SAW bersabda:

مَنْ دَعَا عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ فَقَدِ انْتَصَرَ

“Barang siapa mendoakan jelek kepada orang yang menzaliminya maka sungguh ia telah membalasnya.” [HR Tirmidzi]

Rasul SAW adalah pribadi yang bersabar atas perbuatan jelek orang lain. Anas bin Malik RA berkata: “Aku berjalan bersama Rasulullah SAW, ketika itu beliau mengenakan kain (selimut) Najran (daerah antara Hijaz dan Yaman) yang kasar ujungnya, lalu ada seorang Arab badui (pedalaman) yang menemui beliau dan Ia langsung menarik beliau dengan keras. Hingga Aku melihat permukaan bahu beliau membekas lantaran ujung selimut akibat tarikan Arab badui yang kasar tadi. Arab badui tersebut berkata:

مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ

“Berikan kepadaku dari harta Allah yang ada padamu,” maka beliau menoleh kepadanya diiringi senyum serta menyuruh salah seorang sahabat untuk memberikan sesuatu kepadanya. [HR Bukhari]

Perilaku seperti ini bukanlah pekerti khusus untuk beliau karena beliau juga menganjurkan kepada para sahabat. Ada seorang lelaki mendatangi Rasul SAW guna mengadukan kezaliman yang menimpanya. Rasul SAW mempersilahkan orang tersebut agar duduk. Ia ingin membalaskan kezalimannya lalu beliau bersabda:

 إِنَّ الْمَظْلُوْمِيْنَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang dizalimi, mereka itulah orang-orang yang beruntung pada hari kiamat kelak.” Setelah mendengar hadis ini maka ia tidak lagi ingin membalaskan dendamnya kepada orang yang telah menzaliminya. [Ihya Ulumiddin]

Suatu ketika ada seorang lelaki berkata kepada Rasul SAW: “Sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku selalu menyambung tali silaturahim dengan mereka tetapi mereka selalu memutuskannya, aku berbuat baik kepada mereka akan tetapi mereka berbuat jelek kepadaku, aku berlaku bijak (dalam berucap) akan tetapi mereka berlaku bodoh (dengan perkataan jelek mereka).” Rasul SAW kemudian bersabda:

لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنْ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Jika demikian keadaannya maka engkau seakan-akan memberi makanan kepada mereka berupa abu yang panas dan Allah senantiasa akan memberikan pertolongan kepadamu atas mereka selama kau dalam keadaan seperti itu.” [HR Muslim]

Mengapa Rasul SAW menjawab demikian? Rasul SAW menyamakan perbuatan baik yang mereka terima seperti makanan, tapi karena mereka tidak mau membalas kebaikannya maka makanan tadi diserupakan dengan abu yang panas yang membahayakan diri mereka sendiri. Di sisi lain, sama sekali tidak ada bahaya yang mengenai orang yang memberikannya.

Ulama terdahulu meneladani perilaku Nabi SAW ini dengan baik. Dikisahkan bahwa pada suatu hari Ibrahim bin Adham sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat. Di tengah jalan, Ibrahim bertemu dengan seorang tentara. Tentara itu berkata: “Apakah kamu seorang hamba?” Ibrahim menjawab: “Iya.”

 Tentara bertanya: “Di mana letak pemukiman? Ibrahim menunjuk ke arah kuburan. Merasa dipermainkan maka tentara itu memukul kepala Ibrahim hingga berdarah. Beberapa saat kemudian banyak orang berdatangan dan memberi tahu bahwa orang yang dipukul itu adalah Syekh Ibrahim bin Adham. Mengetahui hal itu maka sang tentara langsung turun dari kudanya dan bersimpuh, mencium tangan dan kaki Syekh Ibrahim sembari meminta maaf kepadanya. Syekh Ibrahim berkata: “Ketika tentara itu memukul kepalaku maka saat itu aku memohonkan surga untuknya. Orang-orang bertanya kepo: “Mengapa bisa demikian, bukankah engkau dizalimi?”

Syeikh Ibrahim menjawab:

عَلِمْتُ أَنَّنِي أُؤْجَرُ عَلَى مَا نَالَنِي مِنْهُ فَلَمْ أُرِدْ أَنْ يَكُوْنَ نَصِيْبِي مِنْهُ الْخَيْرَ وَنَصِيْبُهُ مِنِّي الشَّرَّ

“Aku menyadari bahwa aku mendapat pahala dari perbuatannya maka dari itu aku tidak ingin (aku saja yang) mendapatkan kebaikan darinya sementara ia mendapatkan kejelekan dariku.” [Ihya Ulumiddin]

Bersabar atas perbuatan jelek orang lain dan memaafkannya merupakan salah satu puncak kemuliaan budi pekerti. Rasul SAW bersabda kepada Uqbah bin Amir RA: 

يَا عُقْبَةُ ، أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ أَخْلَاقِ أَهْلِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ  تَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ

“Wahai Uqbah, maukah aku beritahu akhlak terbaik dari penduduk dunia akhirat? Yaitu engkau menyambung tali silaturahim kepada kerabat yang memutuskan hubungannya denganmu, engkau memberi kepada orang yang menghalangi pemberiannya kepadamu dan engkau memaafkan orang yang menzalimimu.” [HR Al-Hakim]

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk senantiasa berbuat baik kepada orang lain dan bersabar atas perbuatan jelek mereka bahkan dengan ikhlas memaafkan setiap perbuatan jeleknya.

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Home
PSB
Search
Galeri
KONTAK
%d blogger menyukai ini: