Istikamah di Jalan Allah

, Istikamah di Jalan Allah, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

ONE DAY ONE HADITH

Dari Abu ‘Amrah Sufyan bin ‘Abdullah RA, ia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

“Wahai Rasulullah SAW, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan menanyakannya kepada orang lain, Rasulullah bersabda: ‘Katakanlah Aku beriman kepada Allah, kemudian beristikamahlah kamu.” [HR Muslim]

Catatan Alvers:

Kata Istikamah merupakan derivasi (musytaq) dari akar kata “qama” yang berarti “berdiri”. Maka istikamah diartikan tegak lurus. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istikamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Menurut

Al-Jurjani dalam At-Ta’rifat mengatakan Istikamah menurut Istilah ahli haqiqat adalah:

الوفاء بالعهود كلها، وملازمة الصراط المستقيم برعاية حد التوسط في كل الأمور، من الطعام والشراب واللباس، وفي كل أمر ديني ودنيوي،

“Memenuhi semua janji (komitmen) dan menetapi jalan yang lurus dengan menjaga batasan tawassuth (moderat) dalam semua urusan seperti urusan makan, minum, pakaian, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia.”

Istikamah seperti inilah yang sesungguhnya menjadi tolak ukur dari karamah (kemuliaan) di sisi Allah. Bukan seperti anggapan sebagian orang yang menilai karamah dari kesaktian seseorang. Karena, kalau tolak ukurnya adalah kesaktian, maka setan mungkin menjadi mahluk yang paling dianggap mulia karena ia mampu menempuh perjalanan yang amat jauh, dari ujung timur ke ujung barat hanya ditempuh dengan beberapa menit saja. As-Syinqithi menukil perkataan Ulama’:

 إذا رأيــت رجـــلاً يــطـيــر. وفوق مـــاء البحر قد يسيرُ ولم يقف عند حدود الشرع . فـإنــه مستدرجٌ أو بدعي

“Jika engkau melihat seseorang mampu Terbang ataupun Mampu berjalan di atas air. Sedang dia tidak berdiri di batas-batas hukum Syara’, maka sesungguhnya dia adalah seorang yang di istidrajkan atau seorang pelaku bid’ah.” [Adlwa’ul Bayan]

Maka dari itu, jangan jadikan karamah sebagai tujuan. Bukankah istikamah itu sendiri lebih baik dari seribu karamah? Abu ‘Ali al-Jawjaza’i berkata :

كن صاحب الاستقامة، لا طالب الكرامة،

“Jadilah engkau sebagai pemilik istikamah, jangan kau menjadi pencari karamah.”

Boleh jadi kau tergerak untuk mencari karamah, padahal Allah memerintahkanmu istikamah. [Risalah Qusyairiyah]

 Al-Fayruzabadi berkata: Maka perumpamaan Istikamah dan keadaanmu seperti ruh dan jasadmu. Jika jasad tanpa ruh akan mati, maka begitu pula keadaanmu tanpa istikamah maka akan rusak (mati). [Basha’ir Dzawit Tamyiz]

Ingatlah Meraih kebaikan dan kesuksesan adalah hal yang sulit dan yang lebih sulit lagi adalah mempertahankannya dan melakukannya dengan istikamah. Maka hal yang terpenting dalam meraih istikamah adalah urusan hati. Rasul SAW bersabda:

لَايَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ.

“Tidaklah bisa istikamah Iman seorang hamba sampai istikamah hatinya” [HR Ahmad] Maka beliau mengajarkan doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.” [HR. Ahmad]

Istikamah adalah hal yang berat sampai-sampai Rasul SAW bersabda “Surat Hud menjadikan rambutku uban.” Karena dalam surat tersebut, terdapat perintah istikamah yaitu “fastaqim kama umirta” (Istikamahlah kamu sebagaimana diperintahkan). Istikamah juga berarti mengumpulkan antara melaksanakan perintah dan menjauhi maksiat. [at-Ta’rifat]

Rasul SAW sendiri mencontohkan amalan Istikamah. ’Alqamah Ibn Qays pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah RA mengenai amalan Rasulullah SAW, “Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah RA lalu menjawab:

لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً

“Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (Istikamah).” [HR Bukhari]

Mengapa harus istikamah? Karena inilah amalan yang terbaik. Rasul SAW pernah ditanya mengenai amalan apa yang paling dicintai Allah SWT. Kemudian beliau bersabda:

 أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang dilakukan secara kontinu (istikamah) walaupun itu sedikit.” [HR Bukhari]

 Walaupun itu sedikit? Ya walaupun itu sedikit… karena manusia tidak akan mampu melakukan hal besar dan berat dengan istikamah. Rasul SAW menyarankan kita:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

“Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” [HR Bukhari]

Orang yang beramal secara istikamah, ia akan tetap mendapatkan pahala amalan yang biasa dilakukan meskipun ia berhalangan. Nabi SAW bersabda:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seseorang sakit atau melakukan safar (perjalanan), maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan istikamah yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat. [HR Bukhari]

Istikamah di jalan Allah dibutuhkan keteguhan hati dari ucapan-ucapan yang mengganggu dan berpaling darinya, tetap mengikuti jalan petunjuk-Nya. Maka orang yang istikamah itu bak batu karang yang tegar menghadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti, tidak mudah kendor dalam perjalanan amalnya.

Alvers, dalam kisah yang populer dikisahkan, bahwa pada suatu hari seorang bapak telah memasuki pasar dengan menaiki seekor himar (keledai), sedangkan anaknya mengikutinya dari belakang. Melihat tingkah laku Sang bapak itu, orang-orang berkata, “Lihat itu! orang tua yang tidak berbelas kasih, anaknya dibiarkan berjalan kaki.”

 Setelah mendengarkan perkataan dari orang-orang tersebut, maka sang Bapak pun turun dari himarnya lalu didudukkanlah anaknya di atas himar itu. Melihat keduanya, maka orang di pasar itu berkata pula, “Lihat orang tua itu! tidak mendidik tatakrama kepada anaknya dengan benar, sungguh kurang ajar anaknya itu.”

Setelah mendengar kata-kata itu, sang Bapak pun naik ke punggung himar itu bersama anaknya. Kemudian orang-orang berkata lagi, “Lihat dua orang itu! keduanya menaiki seekor himar, mereka sungguh menyiksa himar itu.”

 Merespon percakapan orang tersebut sang Bapak dan anaknya turun dan berjalan kaki dibelakang dari himarnya, kemudian terdengar lagi orang berkata, “Sungguh aneh, dua orang berjalan kaki sementara mereka memiliki himar yang tidak dikendarai.” Dalam perjalanan pulang, sang bapak menasihati anaknya mengenai sikap manusia dan ucapan-ucapan mereka. Ia berkata:

بنيّ العزيز هل نظرت الى ان إرضاء الناس لا يدرك ؟ فلا تلتفت اليهم واشتغل برضى الله جل جلاله

“Wahai Anakku, engkau telah melihat sendiri bahwa mencari rida manusia adalah hal yang tidak mungkin tercapai, maka janganlah perdulikan ucapan mereka. Sibukkan dirimu dengan mencari rida Allah swt.

Simaklah Janji Allah:

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

“Dan seandainya mereka itu bersikap istikamah di atas jalan kebenaran, maka pastilah Kami siramkan kepada mereka air yang melimpah (maksudnya: rizki yang melimpah).” [QS. Al-Jin:16].

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk istikamah dalam semua urusan kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: