[polor_menu]
[polor_menu]

Isra Mikraj dan Lailatulqadar, Mana yang Lebih Mulia?

Dalam khazanah fadilah Islam ada beberapa waktu yang memiliki kemuliaan lebih tinggi daripada waktu yang lain. Ada yang berdasar pada Al-Qur’an dan Hadis, ada juga yang berorientasi pada hal lain dan masih berhubungan dengan waktu tersebut. Malam Isra Mikraj merupakan salah satu waktu yang mulia dalam islam.

Malam Isra Mikraj merupakan malam Rasulullah menempuh perjalanan dari Baitulharam menuju Baitulmaqdis kemudian naik ke Sidratulmuntaha dalam waktu satu malam. Hal itu yang menyebabkan malam ini mulia. Dari sekian malam yang memiliki kemuliaan, banyak yang membandingkan malam satu dengan malam yang lain, salah satunya malam Lailatulqadar dan malam Isra Mikraj.

Imam Ibnu Taimiyah membahas perbandingan kemuliaan malam Isra Mikraj dan Lailatulqadar ini dengan seksama dan mendalam. Hal ini tidak pernah dilakukan ulama salaf dan ulama generasi pertama, terlebih di zaman sahabat dan Rasulullah.

Imam Ibnu Taimiyah dan Kemuliaan Malam Isra Mikraj

Imam Ibnu Qayim, murid imam Ibnu Taimiyah, berkata, “ada yang pernah bertanya kepada imam Ibnu Taimiyah mana yang benar antara pendapat seorang pemuda ‘malam Isra lebih mulia daripada malam Lailatulqadar,’ dan pendapat pemuda yang lain ‘malam Lailatulqadar yang lebih mulia’?”

“Kemudian imam Ibnu Taimiyah menjawab ‘seseorang yang berkata, malam Isra lebih mulia daripada malam Lailatulqadar, dengan maksud bahwa beribadah dan berdoa di malam tersebut lebih utama daripada saat malam Lailatulqadar, maka termasuk kesalahan besar dan tidak ada yang berpendapat demikian sebelumnya.’”

Artinya, malam Isra Mikraj memiliki keutamaannya sendiri. Namun, kita tidak boleh menghubungkannya dengan keutamaan berdoa dan beribadah di malam tersebut. Karena hal tersebut termasuk pendapat yang salah dan tidak berdasar.

“Beliau melanjutkan, ‘ketika kemuliaan yang dimaksud adalah karena Rasulullah mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkan pada malam yang lain, tanpa menghubungkan keutamaannya dengan ibadah dan doa, maka ini merupakan pendapat yang benar.’”

Kesimpulan dari pendapat di atas, kita boleh membandingkan kemuliaan malam Isra Mikraj dengan kemuliaan malam lain. Namun, perbandingannya mengerucut pada alasan kemuliaannya, bukan keutamaan doa dan ibadah.

(Muhammad Abror S/Mediatech)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex