Isra Mikraj Bukti Logika Harus Tunduk di Hadapan Kuasa Ilahi

Masjid Al-Aqsa di malam hari peringatan Isra Mikraj

annur2.net – Peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan sejarah yang rutin kita peringati setiap tahun. Lebih dari itu, Isra Mikraj adalah maklumat ketauhidan yang menegaskan bahwa batas akal manusia bukanlah batasan bagi kehendak Allah Swt. 

Dalam peristiwa ini, kita diajak untuk memahami bahwa tidak masuk akal bukan berarti tidak mungkin.

Menembus Batas Ruang dan Waktu

Secara logika manusia pada abad ke-7, menempuh perjalanan dari Masjidil Haram, Mekah menuju Masjidil Aqsa, Palestina, lalu naik ke Sidratul Muntaha, dan kembali lagi ke Mekah hanya dalam waktu semalam adalah sesuatu yang mustahil. 

Pada masa itu, perjalanan Mekah-Palestina membutuhkan waktu berbulan-bulan dengan unta maupun kuda terbaik.

Namun, di sinilah letak ujian keimanan. Allah Swt., berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kata Subhana (Maha Suci) di awal ayat ini merupakan sebuah isyarat. Dalam bahasa Arab, kata ini digunakan ketika kita menyaksikan sesuatu yang luar biasa agung atau ajaib. Allah sedang menegaskan bahwa peristiwa ini terjadi bukan karena kekuatan Nabi Muhammad saw., melainkan karena Allah yang memperjalankan. Jika Sang Pencipta alam semesta yang bertindak, maka hukum fisika, ruang, dan waktu—yang juga ciptaan-Nya—bisa ditangguhkan seketika.

Akal sebagai Alat, Wahyu sebagai Pemandu

Seringkali manusia terjebak di dalam kesombongan intelektual, merasa bahwa jika sesuatu tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, maka hal itu tidak nyata. Isra Mikraj meruntuhkan tembok kesombongan tersebut. Peristiwa ini mengajarkan kita bahwa:

Mata kita hanya bisa melihat spektrum warna tertentu, telinga kita hanya bisa mendengar frekuensi tertentu. Begitu pula akal, ia punya titik batas.

Sedangkan Allah adalah Pencipta hukum alam. Sang Pencipta tentu berkuasa mengubah atau meniadakan hukum tersebut kapanpun Dia mau.

Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq mendengar berita ini, beliau tidak bertanya, “Bagaimana caranya?” Melainkan berkata, Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu benar. Inilah level keimanan tertinggi: meyakini bahwa kekuasaan Allah melampaui nalar.

Relevansi dalam Kehidupan Kita

Mengapa kita perlu meyakini hal yang tidak masuk akal ini? Karena dalam hidup, kita sering menghadapi masalah yang menurut hitungan manusia tidak ada jalan keluarnya.

Penyakit yang divonis medis mustahil sembuh, ekonomi yang terjepit dan seolah tidak ada harapan. Doa-doa yang kita rasa terlalu besar untuk dikabulkan.

Melalui peristiwa Isra Mikraj, seolah-olah Allah berpesan: “Jangan gunakan logikamu untuk mengukur kekuasaan-Ku.” Jika perjalanan menembus langit ke tujuh saja bisa dilakukan dalam sekejap.

Maka mengubah nasibmu, menyembuhkan penyakitmu, dan mengabulkan doa-doamu adalah hal yang sangat mudah bagi Allah.

Isra Miraj adalah bukti nyata bahwa bagi Allah, tidak ada istilah mustahil. Segala sesuatu tunduk pada kalimat kun fayakun

Isra Mikraj mengajarkan kita bahwa saat logika tak sampai, ketaatanlah yang bekerja. Salat adalah jembatan yang dibawa Nabi agar kita bisa selalu terhubung dengan Allah Swt.

(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU