Inovasi Pesantren, untuk Indonesia yang Lebih Nyantri

“Bukanlah yang terkuat yang akan terus hidup, melainkan yang paling adaptif” (Charles Darwin)

 

Bagaimana cara semut mengalahkan ikan hiu? Tentu saja dengan bertarung di darat. Cukup menunggu beberapa saat, hiu akan mati dengan sendirinya, sekuat apapun hiu itu. Ia hanya akan kuat di laut bukan di darat. Karena selamanya ia tak akan bisa beradaptasi di daratan. Maka dari itulah, pantas kita sebut semut lebih kuat daripada hiu, sekali lagi, di daratan.

 

Tetapi, manusia bukanlah hiu-tentu saja-yang gagal beradaptasi di darat, manusia selalu bisa menyesuaikan dirinya dengan lingkungan di sekitarnya. Bahkan, dengan akal pikirannya, manusia bisa hidup di luar bumi sekalipun. Manusia selalu bisa bertahan dari perubahan-perubahan yang terjadi, terlebih dari perubahan yang diciptakannya sendiri. Perubahan sosial,  salah satunya.

 

Dunia telah berubah, dan akan terus berkembang. Kotak pos telah tergantikan dengan kotak masuk di e-mail, kuda bendi sudah tergantikan kuda besi, dan sekarang bukan zamannya anak-anak kecil bermain kelereng . Selamat datang di era globalisasi! Pengetahuan dan informasi berkembang bebas tanpa batas. Perubahan tak dapat lagi dihindari.

 

Globalisasi ditengarai oleh modernisasi, dan modernisasi sendiri tak lain layaknya pisau dapur, bisa membawa manfaat tapi juga membawa petaka. Dan petaka itulah yang menjadi PR besar bagi dunia pendidikan yang dihadapkan berbagai permasalahan yang kompleks. Kalaupun dunia pendidikan masih saja merasa aman di zona nyamannya, maka ia akan hilang ditelan zaman. Dan kegagalan dunia pendidikan dalam menghadapi permasalahan itu, tentu saja menjadi cerminan bagi kegagalan kelangsungan hidup suatu bangsa.

 

Jauh sebelum era globalisasi, Indonesia telah mempunyai lembaga pendidikan yang menjadi salah satu benteng pertahanan umat islam dan pusat dakwah, pondok pesantren namanya. Tidak sebatas menjadi lembaga pendidikan yang mengajarkan keilmuan agama islam, pesantren juga membentuk moralitas umat melalui budaya dan pendidikannya.

 

Dalam perkembangannya, pesantren mengalami pasang surut dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Sebagai lembaga pendidikan, tentunya pesantren punya peran yang kompleks dalam menata kehidupan sehari-hari. Seperti yang dipaparkan dalam buku “Abdurrahman Wahid”, KH. Said Aqil Siradj mengatakan bahwa pesantren hadir untuk merespon perubahan sosial, terlebih di era globalisasi ini.

 

Dan di era ini, benturan antara pesantren sebagai penjaga gawang tradisi bangsa dengan modernisasi tidak dapat terhindarkan. Namun, pesantren sebenarnya sudah punya resep ampuh dalam mengahadapi perubahan zaman yang tak terkendalikan ini. Resep itu tidak lain yakni tetap memegang hal-hal lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik, (al-muhafadzah ‘ala al-qodim al-salih wa al-akhdu bi al-jadid al-aslah). Dengan slogan ini, pesantren tentu dapat beradaptasi sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Sehingga, peran pesantren akan terus hidup dalam melayani masyarakat dengan mengikuti perubahan sosial tanpa kehilangan identitasnya. Al-muhafadzah ‘ala al-qodim as-salih, sebagai cerminan tradisi pesantren dan wa al-akhdu bi al-jadid al-aslah, sebagai cerminan modernisasi.

 

Inovasi Pendidikan

 

Inovasi yang harus dilakukan pesantren adalah mengaktualisasi sistem pembelajaran, mengintegrasikan pendidikan formal dengan pendidikan salaf serta memperbarui lingkungan pesantren. Karena tiga faktor itulah yang banyak menjadi pertimbangan orang tua ketika memilih lembaga pendidikan yang tepat untuk buah hatinya.

 

Bagi pesantren salaf, budaya sorogan[1], bandongan[2] , lalaran[3] dan syawir[4] adalah sistem pembelajaran wajib yang masih bertahan hingga kini. Sedang kurikulum pesantren sendiri mengacu pada kitab-kitab kuning yang merupakan karangan ulama muslim terdahulu yang membahas tentang akidah, fiqh, ilmu alat, ahlak, dan lain-lain. Dan hingga sekarang, kurikulum itu tidak pernah mengalami perubahan, sehingga timbul anggapan pesantren itu kolot atau kuno.

 

Namun, sebenarnya, dengan mempertahankan kurikulum itu, menunjukkan relevansi kitab kuning yang masih bertahan di zaman modern. Tidak seperti kurikulum pendidikan di negri ini yang sudah beberapa kali diperbarui, tetapi masih saja dinilai kurang dalam menghadapi perubahan zaman.

 

Salah satu pesantren yang telah berinovasi dengan memperperbarui sistem pembelajarannya adalah Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”. Tetap berpegang teguh pada nilai-nilai salaf, pesantren ini telah menerapkan beberapa metode baru dalam pembelajarannya, salah satunya adalah metode cepat membaca kitab “Al-Miftah Lil ‘Ulum”. Metode yang dicetuskan oleh Pondok Pesantren Sidogiri ini, telah disebarkan dan juga diterapkan pada beberapa pesantren di Indonesia.

 

Metode yang menarik dan menyenangkan ini dianggap sukses dalam meningkatkan minat santri untuk belajar kitab kuning. Kaidah-kaidah ilmu nahwu yang cenderung rumit dan banyak, dapat dipermudah dengan dibuatnya lagu-lagu sehingga mudah dihafal. Tatanan lafadz pada kitab kuning yang mononton, dirubah menjadi lebih menarik dengan empat jilid buku warna-warni. Di dalamnya, juga telah disisipkan gambar bagan-bagan yang dapat mempermudah belajar. Dan terbukti, dalam satu bulan, dengan dua jam pembelajaran wajib per hari, para santri An-Nur II itu dapat membaca kitab Fath Al-Qorib tanpa harakat beserta pemahaman ilmu nahwu, saraf dan memahami isinya.

 

Meski lulusan pesantren sudah mendapat kesetaraan ijazah dengan lulusan pendidikan formal, banyak orang tua yang ingin anaknya tetap melanjutkan pendidikan di sekolah. Maka dari itu pesantren harus berhasil ‘menikahkan’ pendidikan kurikulum pesantren dengan pendidikan formal. Hal ini telah dijawab oleh beberapa pondok pesantren yang mulai mendirikan madrasah-madrasah setara SD, SMP dan SMA. Jadi mondok sambil sekolah merupakan solusi terbaik untuk membekali anak dengan ilmu agama dan ilmu umum.

 

Selain metode pembelajaran, lingkungan pesantren yang, entah mengapa, dicap kumuh dan kotor harus dirubah menjadi suatu tempat belajar yang asri dan nyaman. Salah satunya dengan membentuk lingkungan pesantren yang terkonsep indah, bersih dan menyenangkan. Dan konsep ini juga sudah diterapkan di Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”. Dengan mengusung brand “Pesantren Wisata”-nya, An-Nur II berhasil menyajikan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.

 

Taman-taman dibangun luas di sekitar wahana-wahana wisata yang tetap islami. Seperti Taman Qur’ani yang ditumbuhi macam-macam tumbuhan yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan replika cincin Rasul yang dibuat besar seukuran manusia. Dengan begitu, stigma-stigma negatif tentang pesantren dapat disangkal. Pesantren bukan lagi tempat kumuh, melainkan pesantren adalah tempat belajar yang asyik dan menyenangkan.

 

Maka dari itu, sudah saatnya bagi pesantren untuk hadir sebagai lembaga pendidikan modern yang tidak kehilangan identitasnya di era globalisasi ini. Dengan terus berkembang mengikuti alur zaman, pesantren akan terus bisa memepertahankan eksistensinya. Dan sebagai lembaga pendidikan, pesantren akan terus berkontribusi untuk kemajuan dengan mencetak generasi-generasi santun dan bermoral tinggi, bersama santri membangun negri.

[1] Metode santri membaca kitab kuning di depan sang guru/kiai

[2] Guru membacakan makna pada lafadz kitab kuning dan menjelaskan keterangan kepada santri. Biasanya juga disebut Ngaji Kuping.

[3] Mengahafalkan dan mengulang-ulang nadzam atau lafadz pada kitab.

[4] Musyawarah para santri secara berkelompok tentang suatu bahasan dalam kitab yang dipelajari.

 

*Oleh santri kelas 6 diniyah Pondok Pesantren An-Nur II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: