24 September, 2018
  • 24 September, 2018
iman-taat, kufur-maksiat

IMAN=TAAT, KUFUR=MAKSIAT

By on 15 April, 2012 0 89 Views

Lentera Hidup

 

IMAN=TAAT, KUFUR=MAKSIAT

Judul di atas merupakan rumus hasil pembacaan dan perenungan saya selama mengajar. Rumus tersebut bukanlah rumus matematis, masih bisa berubah, masih ada mustatsnayat (pengecualian).

 

Hakikat Iman

Secara tegas Al-Qur’an menjelaskan bahwa di antara ciri-ciri orang beriman adalah yu’minun bil ghaib (iman kepada hal gaib) sebagaimana dalam awal surat al-Baqarah. Perkara gaib bisa berupa sesuatu yang sudah ada dan tidak nampak dan sesuatu yang akan ada. Dalam konteks al-Qur’an, biasanya mufassir menafsiri hal gaib dengan sesuatu yang ada dan tidak kasat mata seperti malaikat, jin, akhirat, Allah, dan sebagainya.

 

Penafsiran ini didasarkan pada teks-teks hadis yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. Penafsiran yang demikian lazim disebut dengan penafsiran bil riwayah (penafsiran al-Qur’an berdasarkan riwayat hadis). Penafsiran bil riwayah akan sangat relevan bila digunakan untuk meenafsirkan ayat-ayat ketauhidan, ibadah mahdhah (murni) dan sebagainya yang tidak bisa kita ketahui kecuali berdasarkan riwayat hadis dari Nabi saw. Sementara untuk permasalahan lain, hemat saya, tafsir bil ra’yi dengan aneka macamnya lebih tepat.

 

Namun, dalam konteks permasalahan ini saya mengusulkan agar penafsiran terhadap “hal gaib” di sini diperluas. Hal gaib bukan hanya sesuatu yang sudah ada dan tidak bisa kita lihat, tetapi juga mencakup hal-hal yang akan ada dan tentunya masih gaib bagi kita. Allah, malaikat, jin, akhirat, surga, neraka, dan sebagainya merupakan hal gaib. Rezeki, jodoh, kematian, kesuksesan, kegagalan, dan sebagainya juga merupakan hal gaib.

Iman = Taat

Kajian ini sebenarnya berawal ketika saya menguji pemahaman murid-murid saya di saat pengajian tauhid. Saya bertanya kepada mereka, salah satu sifat Allah adalah wujud (ada), apa buktinya? Adanya alam semesta. Kok tahu bahwa penciptanya adalah Allah? Berdasarkan Qur’an, hadis dan keterangan para guru. Kalian percaya Allah itu ada? Sangat percaya (iman). Apa buktinya kalau kalian percaya?

 

Ketika pertanyaan terakhir saya lontarkan ternyata tidak ada satupun yang bisa menjawab, padahal kiranya pertanyaan ini sangat mudah dipahami dan dimengerti. Akhirnya saya memberi analog sederhana dan yang paling dekat dengan mereka. Anak-anak, perhatikan!  Kalian, sebagai santri, percaya apa tidak terhadap manfaat dan barokah? Percaya. Apa buktinya kalau kalian percaya? Kami meentaati peraturan pondok dan pengasuh, serta meninggalkan larangan. Hemmm, jawaban yang sangat bagus. Jadi konsekuensi dari kepercayaan itu adalah ketaatan. Begitu juga kalau kalian percaya Allah itu ada, maka kita akan mentaati aturan Allah SWT.

 

Saya masih merasa belum puas dengan jawaban  dan pemahaman tersebut. Lalu saya mengeksplorasi lebih lanjut tentang konsep percaya (iman)=taat. Setiap hari kita makan nasi beserta lauk-pauknya. Kenapa kita makan benda-benda tersebut? Karena kita percaya bahwa (biasanya) benda-benda tersebut membuat kita kenyang, menyuplai tenaga dan kebutuhan gizi tubuh kita. Konsekuensi Kepercayaan kita terhadap Makanan adalah memakannya. Kita percaya bahwa air (biasanya) memberikan kesegaran dan menghilangkan kehausan dari tubuh. Konsekuensinya, kita mengkonsumsi minuman tiap hari.

 

Contoh Tentang Konsep Iman

Akhir-akhir ini kita ikut prihatin terhadap berita demonstrasi dan bentrokan yang terjadi di negara Mesir. Kenapa kita merasa prihatin dan sedih? Ya karena mendengar berita buruk itu. Dari mana kita tahu berita tersebut? Dari berbagai media televisi dan koran. Ini berarti bahwa kita sebenarnya percaya (iman) terhadap Televisi, koran, dan sebagainya sebagai pembawa berita. Konsekuensi dari keimanan kita terhadap media massa tersebut adalah ikut merasa sedih bila berita yang disajikan berupa berita buruk, dan sebaliknya bila berita bagus yang kita dengar, kita akan merasa bahagia pula. KITA TIDAK PERNAH BERKATA KEPADA MEDIA MASSA TERSEBUT, “AH, KAMU INI BOHONG. MANA ADA BENTROKAN SEBESAR ITU DI MESIR, MANA ADA BERITA KAYAK ITU”.

 

Lebih lanjut, dalam kamus manusia terdapat hukum kausalitas (kalau dalam kamus Tuhan tidak ada hukum kausalitas, semuanya terserah tuhan). Biasanya, kalau kita giat bekerja, akan menjadi kaya. Kalau giat belajar dan membaca, akan meenjadi pandai. Kalau Rajin beribadah akan masuk surga, dan contoh-contoh lainnya. Kepercayaan kita terhadap konsep tersebut dan hal-hal gaib yang dikandungnya (kaya, miskin, pandai, bodoh, masuk neraka atau surga merupakan hal gaib) akan mendorong kita untuk giat bekerja, belajar, beribadah dan sebagainya.

 

Dengan demikian sudah sangat jelas bahwa KETIKA KITA BERIMAN, PASTI AKAN MELAKUKAN KONSEKUENSI DARI KEIMANAN TERSEBUT.

 

Sebaliknya, bila kita mendapati seseorang yang kerapkali maksiat, durhaka, menentang aturan Tuhan, bisa dipastikan bahwa orang ini tidak memiliki keimanan sama sekali atau memiliki keimanan yang sangat minim. Bila kita mendapati santri yang seringkali melanggar aturan pondok pesantren, bisa dipastikan ia tidak memiliki KEIMANAN terhadap adanya barokan dan manfaat. Bila kita mendapati orang enggan makan dan minum, enggan bekerja dan belajar, dan sebagainya bisa dipastikan orang ini tidak memiliki KEIMANAN terhadap hal-hal tersebut di atas.

 

Maka, jangan mengaku beriman bila belum ta’at. Jangan mengaku mukmin bila masih menerjang aturan…… Sebab rumusnya sudah jelas: “IMAN = TA’AT, KUFUR=  MAKSIAT”.

 

Oleh: Helmi, S.S.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: