Holy Journey: Petualangan Bersepeda Alumni An-Nur II ke Benua Afrika

Hakam Mabruri memeluk anak perempuannya yang masih baru bisa berjalan itu sebelum mengayuh sepedanya. Tujuannya jauh ke timur, ke Benua Afrika. Dari gerbang Pondok Pesantren An-Nur II, ia memulai petualangan suci ini, Selasa, 10 September 2019/10 Muharram 1441 H.

Hakam memulai perjalanan lintas negara ke-tiganya ini dari pesantren tempat belajarnya dulu, An-Nur II. Lulus tahun 1997, aumni pesantren wisata ini membawa misi perdamaian dunia. “Saya mewakili santri pondok pesantren ini untuk kampanye itu,” kata Hakam Mabruri, beberapa saat sebelum berangkat.

Butuh waktu 12 bulan untuk mencapai Benua Afrika. Dari Jakarta nantinya ia akan terbang ke Mesir. Dari Mesir ia akan bersepeda melewati 14 negara hingga Afrika Selatan. “Hakam ini memang santri yang luar biasa,” ujar Kiai Zainuddin membawakan sambutan.

Dalam perjalanan jauh ini, Hakam mendapat banyak dukungan, mulai dari lembaga NU hingga beberapa media lokal Malang. Dan dari An-Nur II, pengasuh, Dr. KH. Fathul Bari memberikan bekal yang terpenting baginya, takwa. “Sebaik-baiknya bekal adalah takwa,” pesan beliau ke pada Hakam saat memberikan sambutan sebelum pemberangkatannya di Aula Yakowi.

Tanggal sepuluh Muharram menjadi hari di mana ia memulai perjalanan. KH. Fathul Bari menerangkan bahwa pada hari ini adalah hari yang penuh berkah. Dalam sejarahnya, hari yang dikenal dengan hari Asyura ini merupakan hari dimana Nabi Musa mengalahkan raja Namrud dan Nabi Yunus keluar dari perut Ikan Paus. “Dan semoga Cak Hakam ini nantinya senantiasa diberikan pertolongan oleh Allah SWT.,” do’a beliau.

Bagi Hakam, selain do’a, kekuatan mental adalah bekal yang tak kalah penting dari bekal materi. Tekad yang ia bawa untuk terus maju pada perjalanan ini adalah santri dan bangsa Indonesia untuk perdamaian. “Saya berangkat bersama kalian,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Mengapa Afrika,

Bukan Amerika, Eropa atau pun Australia? Hakam punya alasan tersendiri memilih benua beriklim ekstrem ini. Ia ingin menerjang stigma banyak orang tentang Afrika.

Hakam memang belum pernah bersepeda ke Amerika maupun Eropa. Perjalanan pertamanya menyusuri Asia Tenggara. Dan setelah menikah, ia berpetualang ke timur tengah bersama istrinya untuk melaksanakan ibadah umrah. Dan menuju Afrika ini menjadi Holy Journey yang ke-dua.

“Afrika itu sexy,” katanya. Jarang orang membayangkan Afrika itu Indah. Namun, Afrika menyimpan keindahan tersendiri baginya. “Afrika itu seksi. Bisa dikatakan sebagai Ibu Bumi. Banyak permasalahan yang muncul di negara ini. Selama ini memang terkenal serem, tapi Saya ingin menggali (membuktikan) bahwa Afrika juga indah,” ungkapnya.

Selain itu, benua terbesar kedua di dunia ini merupakan awal. Dimana para peneliti mengatakan bahwa spesies Homo Sapiens pertama ada di Afrika. Yang jelas, ia memilih Afrika, “Biar anti mainstream,” katanya dalam sebuah obrolan dengan Mediatech An-Nur II beberapa waktu lalu.

Holy Journey

Isu tentang Islam Radikal seolah “mengusik” jiwa kesantriannya. Dalam misi suci ini ia ingin memberitakan ke pada dunia tentang agama Islam yang sebenarnya, yang tidak radikal. “Islam itu kan agama yang rahmatan lil ‘alamin,” pesannya.

Di empat belas negara yang ia lewati nantinya, ia akan mengunjungi beberapa tempat peribadatan lintas agama. Ia akan bertemu para pemuka agama dan berdialog dengan mereka.

Pesan yang dibawanya adalah Islam untuk Perdamaian (Islam for Peace). Ia ingin mengenalkan terhadap dunia bagaimana umat muslim Indonesia hidup damai sebelum datangnya kelompok-kelompok ekstrimis.

Hakam berharap aksinya yang seorang diri ini dapat mewujudkan perdamaian dunia dan menghilangkan stigma Islam agama radikal. “Setidaknya saya telah berperan dalam perjuangan (perdamaian) ini,” katanya.

Bekal Ja’ad Lida’

Banyak cerita hidup di negri orang. Dari yang mengesankan hingga mengenaskan telah ia alami. Dan di antara kisah mengenaskan itu, ia selalu mendapat pertolongan. Bekal spiritual yang dibawanya berasal dari KH. M. Badruddin Anwar semasa mondoknya di An-Nur II.

“Kuncinya adalah ja’ad lida’,” ceritanya. Dengan zikir yang rutin ia baca semasa di pesantren itu, banyak hal di luar dugaannya semasa perjalanan Holy Journey pertama yang ia lakukan dengan istrinya ke Makkah untuk umrah, beberapa bulan lalu.

“Kiai Badruddin adalah sosok paling berpengaruh bagi spiritualitas saya,” katanya lanjut bercerita. Hakam mengaku semasa mondok ia sering dihukum Kiai Badruddin membaca selawat Burdah. Dari situ kecintaannya terhadap Burdah tumbuh di hatinya. “Kenapa sih kiai selalu menghukum membaca burdah? Di situ saya yakin kalau Burdah yang diberikan kiai punya ajian yang besar,” ujarnya.

Dan dalam misi ini, ia punya keyakinan bahwa do’a Kiai Badruddin terus mengalir padanya. Sesuai dengan pesan pengasuh, ia akan mengibarkan bendera Pesantren Wisata di 14 negara yang akan dilewatinya.

Berangkat dari Gerbang Biru, Hakam Mabruri, santri alumni An-Nur II bersepeda ke Afrika membawa pesan perdamaian.

(MFIH/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: