Haul Kelima: dari Acara Khataman sampai Keajaiban Wafatnya Ulama

Haul

“Memang, beliau adalah sosok yang sangat karismatik dan dikenal baik oleh kebanyakan orang. Tak heran jika banyak yang bersimpati kepada beliau,” ujar Ustaz Jauhar Nahari, sie acara Haul Kelima Al-Maghfurlah Romo Kiai Badruddin Anwar dalam wawancaranya bersama kru Mediatech An-Nur II malam itu.

Agaknya, simpati masyarakat terhadap Kiai Badruddin tak hanya berlaku ketika beliau masih dapat mengawasi santrinya secara dhohir. Bahkan, setelah beliau berpulang ke hadapan Ilahi pun, simpati seluruh khalayak tetap tak lekang dan semakin merata. 

Detail Perlengkapan untuk Haul Kiai Bad

Selasa, 4 Januari 2022 malam, para jemaah mulai memasuki gerbang biru Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata). Mulai dari alumni, walisantri sampai banyak jemaah dari berbagai kalangan pun turut menghadiri Haul Kiai Badruddin yang diadakan secara eksternal. Layaknya nostalgia, haul kali memang terasa sedikit berbeda dan memiliki kemiripan dengan haul-haul pertama yang mempersilakan ribuan jemaah dari luar pondok untuk turut menghadiri acara. 

Ketika jemaah baru memasuki gerbang, mereka langsung disambut dan diarahkan oleh mahasantri STIKK (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning) dan Ma’had Aly An-Nur II menuju ke lokasi acara. Dalam pengarahannya, para jemaah dihimbau untuk tetap mematuhi prokes (protokol kesehatan) yang ada. Untuk memaksimalkan itu, selain menyambut dan mengarahkan, para santri yang bertugas juga membagikan masker dan memberikan cairan sanitasi (hand sanitizer) lengkap dengan konsumsi yang telah disediakan untuk tiap jemaah.

Di dekat gerbang pesantren, terpampang ucapan-ucapan selamat dari berbagai pihak atas terlaksananya Haul kelima Al-Maghfurlah Romo Kiai Badruddin yang seakan menyambut datangnya ribuan jemaah tersebut. Tak hanya itu, penempatan pengeras suara yang diletakkan di berbagai titik, juga langsung memberikan nuansa kemeriahan acara kepada para jemaah.

Pada saat jemaah memasuki pintu acara, di tempat tersebut akan terlihat stan yang berdiri menjual produk-produk milik pesantren. Mulai dari buku, kaos, kalender dan lain sebagainya. Tenda acara telah berdiri kokoh dan karpet juga telah digelar luas di pelataran antara makam Kiai Bad dan masjid An-Nur II.

Rangkaian untaian bunga menggantung-gantung menghiasi makam Kiai serta ndalem para pengasuh. Yang paling menarik, di atas makam Kiai Badruddin terlihat jelas tulisan Haul kelima KH. M. Baruddin Anwar yang disusun dari rangkaian bunga dengan apiknya. 

Diawali dengan Khataman, Dibuka dengan Yasin, Tahlil, dan Doa

Sebelum ke inti acara, semenjak sore kegiatan telah diisi dengan khataman Al-Qur’an yang dibacakan oleh para Huffadz An-Nur II dengan metode bil ghoib. Setelah itu, usai salat Magrib tim Al-Banjari yang terdiri dari Mahasantri STIKK dan Ma’had Aly mulai menyambut para jemaah yang berdatangan ke pondok pesantren dengan lantunan selawat sampai azan Isya berkumandang.

Sampai lekasnya salat Isya, sesi acara berlanjut dengan dibacakannya Surah At-Takasur hingga An-Nas yang dibacakan oleh Gus Fazlur Rahman Rahawarin. Tak lama kemudian, pembacaan kalam Ilahi pun ditutup dengan doa khatmil Quran yang sekaligus dibacakan oleh beliau.

Selepasnya, Gus Helmi Nawali berkesempatan untuk membuka inti acara pada malam yang penting itu. Dalam pembukaannya, beliau menuturkan sangat berterimakasih atas para tamu undangan dan masyayikh yang hadir pada acara Haul Kelima Kiai Badruddin tersebut. Seusai pembukaan, sesi acara berganti dengan pembacaan tawasul, Yasin, tahlil, dan doa yang langsung dibacakan oleh para masyayikh An-Nur II.

Dua Sambutan Kiai An-Nur II

Tak berselang lama, Kiai Zainuddin diberi mandat untuk menyampaikan sambutan mewakili majelis keluarga pesantren. Dalam sambutannya, beliau membacakan syair Badrun Bada beserta makna yang terkandung di dalamnya sebagai persembahan khusus untuk Al-Maghfurlah Kiai Bad.     

Setelah Kiai Zainuddin usai membawakan sambutan, kini gantian Dr. KH. Fathul Bari, S.s, M.Ag, memberikan sambutan atas nama pengasuh. “Jujur, sampai saat ini saya sangat kagum terhadap beliau,” ungkap Kiai Fathul malam itu.

Beliau berujar, bahwa Kiai Badruddin bukan hanya sosok yang luas kealimannya, tapi beliau juga selalu memperhatikan detail kecil kehidupan santri-santrinya. Bahkan dengan sudut pandang yang berbeda dari pendapat umum dan tidak disangka-sangka.

Menariknya, Para Ulama akan Semakin Sakti setelah Pergi Menemui Ilahi

Memasuki inti acara, Gus Reza Ahmad Zahid dari Lirboyo dipersilakan untuk mengisi tausiyah di acara puncak Haul tersebut. Sebelum memulai tausiyah, Gus Helmi Nawali memperkenankan ulama yang lahir pada 22 September 1980 itu untuk maju dan menempati kursi yang telah disediakan panitia yang langsung menghadap ke para jemaah.

“Seperti kata pepatah Turki, doa orang yang telah tiada, sama halnya dengan pedang yang telah lepas dari  sarungnya,” ucap Gus Reza dalam tausiyahnya. Dari pepatah tersebut, beliau meyakini bahwa saat ini, Kiai Badruddin tidak sedang diam-diam saja di alam sana. Melainkan beliau selalu mendoakan pesantren dan seluruh santrinya dengan cara yang tidak kita ketahui.

Hal ini dapat dibuktikan dan dilihat dengan jelas. Selepas sepeninggal beliau, perkembangan ponpes tak menjadi surut. Malah, kini An-Nur II telah dikenal luas sampai ke mancanegara. Inilah sisi yang menarik dari kewafatan ulama.

Selain bercerita tentang para ulama, di tengah tausiyahnya Gus Reza juga menyinggung tentang amalan yang tak bisa putus setelah kematian menimpa, serta sudut pandang dari sifat alami manusia baik dari basyariyah, maupun dari segi khususiyah.

Uniknya, pada akhir tausiyah beliau menekankan kepada para jemaah, bahwa tempat terbaik untuk memahami  dan mengasah materi yang beliau sampaikan sejak awal, adalah tempat di mana beliau dan para jemaah berada saat ini “Insyaallah, pondok  pesantren adalah tempat yang yang paling pas untuk mendidik anak menjadi pribadi yang sholeh dan sholihat.”

(Arif Rahman/Mediatech)    

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU