Haul Ke-7: Dua Sahabat Kiai Badruddin Anwar Mengisi Tausiah

Rabu, 13 Desember 2023, Haul Ke-7 Almaghfurlah R. KH. M. Badruddin Anwar telah terselenggara dengan lancar. Para wali santri dan alumni turut hadir dalam acara ini. Bahkan area makam dan Masjid An-Nur II yang menjadi lokasi utama tidak bisa menampung seluruh jemaah. Sebagiannya menempati jalan naik ke area masjid depan kantor pusat. Meski begitu, acara tetap berlangsung sesuai rencana.


Acara bermula dengan penutupan tahlil 40 hari pada sore hari bersama santri metro. Pembacaan tahlil terakhir ini langsung dipimpin oleh majelis keluarga. Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., membacakan tawasul, Drs. Gus H. Khairuddin, Ak., M.S.I., memimpin pembacaan surah Yasin, Kiai Achmad Syamsul Arifin M.Pd.I., memimpin bacaan tahlil, dan Kiai Ahmad Zainuddin, Lc., M.M., membacakan doa.


Berlanjut pada bakda Magrib, pengajian hikam Kiai Zainuddin bersama para alumni. “Ini akan dilaksanakan setiap setelah Magrib sebelum haul pada tahun-tahun berikutnya,” ucap Ustaz Jauhar, sie. Acara Haul ke-7. Pengajian berakhir dengan pelaksanaan salat Isya berjemaah.


Rangkaian Acara Haul Ke-7 Kiai Bad


Bakda Isya, tim Banjari An-Nur II menabuh rebana dan menyanyikan selawat-selawat sembari menunggu kedatangan para jemaah. Selang beberapa waktu, Agus Helmi Nawali, S.S., M.Ag., selaku MC (Master of Ceremony) membuka rangkaian acara.


Rangkaian pertama, pembacaan surah Yasin dan tahlil bersama. Pembacaan tawasul oleh Kiai Husni Mubarok, M.Pd.I., surah Yasin oleh Drh. Gus H. Didik Nur Ahsani, M.Pd., tahlil dari Gus Khoiruddin, kemudian doa dibacakan oleh Kiai Syamsul Arifin dan Habib Mauladawilah.


Setelah itu, Ustaz Jauhar pun mengumumkan rangkaian acara Haul ke-7. Terdapat pembacaan tahlil 40 hari mulai Sabtu, 4 November – 13 Desember 2023 dan khataman Al-Quran dan tahlil oleh alumni sejak Senin, 27 November –11 Desember 2023. Selain itu, juga terdapat LBM internal, Semaan Al-Quran dan Dzikrul Ghofilin Majelis Jantiko Mantab, dan rapat kerja kedua IKSAN (Ikatan Santri Alumni An-Nur II) periode 2022-2026.


Sesi selanjutnya, pembacaan manaqib oleh Kiai Zainuddin. Beliau membacakan nazam-nazam karangan sendiri yang berjudul Badrun Bada. Nazam ini berisi biografi dan kisah Almaghfurlah Kiai Badruddin sejak lahir hingga wafat. Setiap selesai membaca satu bait, Kiai Zainuddin menyampaikan terjemahannya dengan bahasa yang mudah dipahami.


Kemudian, sambutan dari Kiai Fathul Bari. Beliau mengucapkan terima kasih kepada para jemaah yang bisa hadir dalam Haul ke-7 Kiai Badruddin Anwar. Kiai Fathul juga meminta maaf atas kekurangan yang ada dalam acara tersebut.


Dalam sambutan tersebut, beliau juga menceritakan sedikit sejarah tahlil 40 hari yang mana pembacaan tersebut terselenggara sebelum kewafatan Kiai Badruddin dulu. Sesuai kisah itu, Kiai Fathul menyampaikan, “Ini adalah persiapan santri-santri untuk kepada beliau (Kiai Badruddin).” Setelah kewafatan Kiai Badruddin, para santri membacakan tahlil lagi selama 40 hari.


Di akhir sambutan, Kiai Fathul Bari me-launching sebuah karya santri dari tim lajnah tahqiq yaitu kitab tahqiq dari Az-Zajr ‘an Tarki Ash-Sholah karangan Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Kemudian beliau memberikan kitab tersebut kepada KH. Achmad Muchtar Ghozali dan Habib Mauladawilah.

Ketawaduan Kiai Anwar ke Kiai Bad


Usai penyampaian sambutan, berpindah ke sesi mauizah hasanah. Yang pertama disampaikan oleh KH. Achmad Muchtar Ghozali, pengasuh PPAI. Darun Najah. Sebenarnya beliau mengaku masih sakit dan beberapa hari yang lalau sempat opname. Tetapi beliau memberikan alasan sampai bisa datang ke An-Nur II. “Karena mahabbah ke Kiai Anwar, mahabbah ke Kiai Bad,” tutur beliau.


Lalu Kiai Muchtar menceritakan ketawaduan KH. Anwar Nur, abah Kiai Badruddin, bahwa beliau sering berkunjung ke rumah Kiai Muchtar pada tahun 1980. Pada saat itu Kiai Muchtar masih berumur 35 tahun, sedangkan umur Kiai Anwar jauh lebih tua. Namun, Kiai Muchtar belum pernah mengetahui Pondok Pesantren An-Nur. “Niki tawadu e Kiai Anwar dhateng kiai. Mulane mboten heran menawi anak cucune kabeh podo duwe pondok, mboten heran kulo (Begitulah ketawaduan Kiai Anwar kepada kiai lain. Makanya tidak heran jika semua keturunan beliau memiliki pondok, saya tidak heran),” ucap Kiai Muchtar.


Kiai Muchtar mengungkapkan bahwa beliau akrab dengan Kiai Anwar Nur dan Kiai Badruddin. Oleh karena Kiai Badruddin suka dengan taman, setiap beliau akan membeli bunga pasti mampir ke rumah Kiai Muchtar. Begitu juga ketika Kiai Muchtar berkunjung ke Kiai Badruddin ketika menanam bunga.

Hidup Indah dengan Mencintai Allah


Setelah mauizah dari Kiai Muchtar, Prof. Dr. KH. Ahmad Mujayyid, MA., pengasuh Pondok Prestasi Ibadurrahman sekaligus sahabat Kiai Badruddin, memberikan tausiah kedua. Dalam tausiahnya, Kiai Mujayyid juga menyatakan dekat dengan Kiai Badruddin, “Saya kenal betul siapa beliau (Kiai Badruddin). Bahkan sejak abah beliau, Romo Kiai Anwar.”


Kiai Mujayyid mengisahkan bahwa kehidupan Kiai Badruddin selalu mendapat kemudahan. Hal ini menjadikan beliau senang dan tenteram. Kiai Mujayyid menerangkan bahwa Kiai Badruddin bisa seperti itu karena kecintaan beliau kepada Allah itu besar, sehingga mempermudah kehidupan beliau. “(Kiai Badruddin) ndak pernah mengalami susah. Urusan dianggap gampang, sepele,” Jelas Kiai Mujayyid.


Selain itu, Kiai Mujayyid menjelaskan bahwa perbuatan Kiai Badruddin sehingga bisa hidup dengan tenang adalah karena mengikuti Allah dan rasul-Nya. Sebagaimana dalam surah Ali ‘Imran ayat 31 yang artinya, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dengan itu, Allah akan memberikan kemudahan dalam hidup orang tersebut. Usai penyampaian tausiah, menuju ke sesi penutupan dengan doa dari KH. Amiruddin Mu’in, pengasuh Pondok Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad Sidoarjo.


(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU