Haul ke-6: Ajaran Nabi Muhammad di Hati Kiai Bad  

“Kiai Bad itu juga sama dengan kita.” Ucap Dr. Habib Segaf Baharun, M.H.I. pengasuh Pondok Pesantren Dalwa Pasuruan dalam mauizahnya di acara Haul keenam Almaghfurlah KH. Muhammad Badruddin Anwar, pengasuh pertama Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”. Hari Sabtu (24/12/2022) di Raudah (makam pengasuh pertama).

Hanya saja, ada suatu hal tertentu kenapa Kiai Bad ini memiliki kemuliaan yang berbeda dengan yang lain. Ialah lantaran pintarnya beliau dalam mengambil kesempatan yang tidak ada duanya. Bijaknya beliau memahami kehidupan yang hanya sekali saja ini harus mengarak ke mana. Oleh karenanya, beliau mendapat tempat derajat yang lebi tinggi dari lainnya.

Beliau mengerti, kehidupan yang hanya sekali saja ini haruslah sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW yang telah mengajarkan etika sehari-hari dengan intens. Jadi, tidak heran Kiai Bad menempati tempat yang lebih tinggi dari makhluk lainnya. Sehingga-kata Habib Segaf-perlu dalam acara kali ini untuk mengambil hikmah dari Kiai Bad.

Ada suatu hadis yang menjadi motivasi dari para ulama, wali Allah seperti Kiai Bad. Hadis-hadis ini juga sering tampil di kitab-kitab anak pesantren. Hadis tersebut memiliki arti sebagaimana berikut, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah pahamkan baginya perihal agama.”

Berarti orang seperti Kiai Bad ini memiliki pemahaman ilmu agama yang dalam. Apa saja yang Nabi ajarkan akan mereka telaah. Kemudian sampailah mereka pada tingkatan akhlak sehari-harinya begitu baik.

Ada juga hadis lain yang menjadi landasan. Hadis itu memiliki arti yang berbunyi, “Jadilah seorang alim. Jika tidak memungkinkan jadilah seorang santri. Kalaupun tidak bisa, jadilah seorang mustamik di majelis-majelis ilmu. Seumpama masih tidak bisa, jadilah orang yang mencintai golongan orang-orang tadi.”

Habib Segaf, menekankan kalau tidak ada lagi golongan kelima. Tidak boleh menjadi selain dari empat tadi. Jika tidak, maka orang seperti itu dari rahmat akan binasa. Ada hadis yag memperjelas, “Semua manusia pasti akan binasa.”

Akan tetapi, ada satu orang di Indonesia-kata beliau-yang kehormatannya tidak pernah putus-putus. Seorang pejabat suatu hari nanti akan lengser dari jabatannya. Artis suatu hari nanti ketenaran akan tergantikan dengan artis lain. Hal itu tidak berlaku untuk satu manusia itu. Bahkan dalam kematiannya, banyak yang mengenangnya.

Ialah, seorang ulama. Kehormatan miliknya itu tidak bisa terkikis dengan waktu. Contohnya saja, Kiai Badruddin ini. Setelah wafatnya beliau, banyak orang yang ingin mengerti sejarahnya. Buktinya banyak orang yang mendatangi haul keenam beliau.

Memang, dari segi luar alias lahiriahnya saja, Kiai Bad adalah sosok yang tidak ada bedanya dengan manusia biasa. Beliau makan, minum, menikah, dan pernah sakit. Namun, dalam hatinya itu, ada sebuah pembeda yang signifikan. Yakni, ilmu-ilmu ajaran baginda Rasul. Ilmu inilah yang membuat sosok beliau berada dalam kebaikan.

Ilmu merupakan pengendali diri manusia. Selama mereka ilmu, akan ada rambu-rambu dalam kesehariannya. Tatkala orang seperti Kiai Bad ini ingin melakukan kemaksiatan, ilmunya akan menyalakan lampu merah, menyuruhnya untuk berhenti. Jika ingin melakukan kebaikan, maka ilmunya akan membantunya menjadi lebih baik lagi.

Ada tiga kelompok orang yang bisa memberikan syafaat pada orang lain. Tiga orang itu adalah para nabi, ulama, dan syuhada.  Sedangkan Kiai Bad merupakan seorang yang alim. Maka, ucap beliau, pantas untuk mendatangi haul Kiai Bad keenam ini dengan harapan mendapat syafaat dari beliau.

(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU