Terbaru

ANAK YANG SHOLEH; HARTA YANG SEBENARNYA

By on 21 Agustus, 2015 0 27 Views

IMG_5094Namanya Mbok Ijah, janda beranak satu. Suaminya telah meninggal sejak anaknya masih dalam timangan. Jadi selama ini dialah yang mencari nafkah untuk kehidupan dirinya dan satu anaknya. Dia bekerja sebagai pemulung yang berpenghasilan 20 ribu sehari. Badannya kurus kering karena kurang makan, mungkin.

Waktu ku lihat sekeliling, aku tak melihat anaknya sama sekali. Kukira anaknya bekerja entah kemana guna membantu tuntutan ekonomi. Untuk memastikan hal tersebut, aku bertanya kepada mbok ijah.

“Anakku berada di pesantren nak, dia sedang menimba ilmu agama”, jawabnya.

“Lho.. kenapa dia tak membantu mbok Ijah kerja? Kan jika bekerja bisa membantu ekonomi dan bisa menabung. Tentunya kehidupan ekonomi mbok Ijah akan sedikit mapan dan tak harus hidup susah begini. Syukur-syukur jadi orang kaya mbok. Hehehe”, kataku sedikit bercanda.

“Aku sekarang sudah ‘kaya’ nak. Aku sudah ‘menabung’. Dan kelak in shaa Allah aku akan mendapatkan hasil dari tabunganku itu”, jawab mbok Ijah.

Jawaban yang menurutku aneh, susah difahami dan tak masuk akal. Dengan penghasilan 20 ribu sehari, buat makan saja mungkin kurang. Belum lagi untuk membiayai anaknya yang katanya masih di pesantren. Aku tak habis fikir, logikaku sebagai wartawan ‘tak terima’ dengan hal itu. Akhirnya mendorongku untuk bertanya meminta penjelasan. Lalu, apakah jawaban apa yang kudapatkan?

“Aku memang TAK MENABUNG HARTA UTK DUNIAKU nak. Aku tak terlalu butuh dunia. Dunia itu TEMPAT YG TAK ENAK, aku tak terlalu betah sebenarnya di sini. Andai aku di izinkan, aku ingin di beri umur yang pendek saja. Tapi mungkin Allah TAHU KEKURANGANKU, aku tak mungkin berangkat ke hadapaNYA tanpa bekal. DIA ingin aku memiliki TABUNGAN UTK AKHIRATKU, sehingga DIA memanjangkan umurku”.

“Mungkin kehidupanku memang terlihat sulit bagi yang melihat. Tapi bagiku yang menjalani, INI ADALAH BERKAH. Aku bisa BERLATIH SABAR, aku bisa BERLATIH SYUKUR dan aku selalu bisa BELAJAR IKHLAS. Jika kau fahami, TAK ADA YG ABADI DI DUNIA INI. Jangankan harta, NYAWA SAJA ADA BATASNYA. Lalu buat apa kau mencari begitu banyak harta yang kelak akhirnya akan kau tinggal mati. Harta yang (bisa saja, -ed) hanya akan membuat anak cucumu lupa untuk berdo’a dan malah berebut harta warisan”.

“Kau tak akan bisa membayar orang dengan hartamu AGAR ORANG MENEMANIMU di dalam kuburmu. Kau DI KUBUR SENDIRI dan mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu sendiri. Mungkin kehidupanku terlihat berat, karena sebenarnya aku ini SEDANG BERJUANG. Bukan berjuang untuk hidup, tapi aku sedang BERJUANG UTK MENDAPATKAN “KEMATIAN YG TERBAIK”. Aku sedang menanam investasi untuk kehidupan akhiratku. Aku sedang berusaha “MEMBELI” anak yang soleh dengan harta yang kumiliki. Agar kelak BILA AKU MATI, aku bisa menikmati LANTUNAN DO’A dari anak cucuku, sebagai teman dan pelitaku di.liang kubur ku. Itulah HARTAKU YANG SEBENARNYA”.

Jawaban itu, membuat mulutku tercekat.

Kisah muslimah hebat ini kontan membuat hatiku MALU. MALU KPD ALLAH, malu kepada diriku, MALU KEPADA AGAMAKU dan malu pada wanita itu.

Si wanita tua yang miskin bahkan mampu membiayai anaknya dengan susah payah demi menjadi ANAK YG SHALIH. Sedangkan aku ?

Aku hidup berkecukupan. Tapi kenapa aku tetap MEMILIHKAN SEKOLAH utk anak-anakku yang TUJUANNYA HANYA MENGEJAR DUNIA? Seakan-akan aku mengajari mereka menjadi anak-anak yang ‘serakah’ pada dunia. Lalu, mana hartaku ketika mati kelak? Tak ada. Hanya akan menyisakan sesal yang tak dapat kuulang.

Alhamdulillah…
Allah mengingatkan aku sebelum aku benar-benar lupa. DIA memberiku nasehat yang dibungkus dalam balutan kisah muslimah hebat ini. DIA telah menyadarkan aku, arti dari makna HARTA YANG SEBENARNYA…

“Jika mati anak cucu Adam, TERPUTUSLAH SEMUA AMALNYA kecuali tiga perkara, (salah satunya, -ed) ; “ANAK SHALIH YANG SELALU MENDO’AKANNYA” (Hadits Shahih)

MARI BERHATI-HATI DALAM MEMILIHKAN PENDIDIKAN UTK ANAK-ANAK KITA…

Semoga semua anak keturunan kita, menjadi orang-orang yang shalih. Aamiin

Penulis : Anonim. Sahabat WA

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: