Terbaru

HARI SIAL

By on 29 November, 2016 0 10 Views

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi saw bersabda :

قال الله عز وجل : يؤذيني ابن آدم يسب الدهر وأنا الدهر بيدي الأمر أقلب الليل والنهار

“Allah azza wajalla berfirman : “Anak adam (manusia) menyakiti Aku, mereka mencaci masa, padahal Akulah (pemilik) masa, Akulah yang menjadikan malam dan siang silih berganti”. [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Banyak orang ketika tertimpa sesuatu yang tidak mengenakkan maka ia berujar “dasar, hari sial!”. Ujaran seperti ini ternyata sudah ada sejak zaman jahiliyah. Imam An-Nawawi mengatakan bahwa orang Arab dahulu biasanya mencela masa (waktu) ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti kematian, kepikunan, hilang (rusak)-nya harta dan lain sebagainya sehingga mereka mengucapkan ’Ya khaybatad dahr’ : Duhai  sialnya waktu ini dan ucapan celaan lainnya yang ditujukan kepada waktu. [Syarh Shahih Muslim] atau perkataan “ Bu’san Lid Dahr, Tabban Liddahr [Fathul Bari]

Orang yang menyalahkan waktu tatkala terjadi hal yang buruk menimpanya sama halnya ia mengkambing-hitamkan waktu dan ia lari dari kesalahan yang diperbuatnya sendiri. Tipe orang demikian tidak akan mengambil hikmah dari apa yang terjadi, karena ia tidak instropeksi diri namun malah mencari pembenaran dan ini adalah perilaku negatif.

 

Mengapa tidak boleh mencela dan menyalahkan waktu atas peristiwa buruk yang terjadi? Pertanyaan ini dijawab dalam hadits utama tadi “Allahlah yang mengatur masa”. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah SWT. Ia menuduh Allah tidak cakap mengatur waktu sehingga ada waktu (hari) yang mendatangkan celaka.

 

Lantas bagaimana dengan pernyataan “Hari Nahas” yang ada dalam Al-Qur’an? Menjawab pertanyaan ini al-Khatthabi berkata : Tidak terjadi kontradiksi antara hadits ini (larangan mencela masa) dengan firman Allah :

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ

“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus”. [QS Al-Qamar : 19]

 

Karena kesialan (hari nahas) dalam ayat ini ditujukan kepada Kuffar kaum ‘Ad bukan kepada harinya (waktu). Maka sudah maklum, jika kesialan itu hanya menimpa orang kuffar kaum ‘Ad saja dan hari itu justru menjadi hari pertolongan dan dukungan kepada kaum Mukminin. [Fathul Bari]

 

Perilaku mencela masa tertentu telah terjadi pada masa jahiliyah. Banyak orang saat itu meyakini bahwa bulan Shafar adalah bulan sial atau bala bencana. Kepercayaan ini bermula dari anggapan bahwa bulan Shafar merupakan bulan yang penuh bencana dan musibah, sehingga mereka menunda segala aktivitas karena takut tertimpa bencana. Untuk menolak kepercayaan salah seperti ini maka sebagian ulama menamakan bulan shafar dengan nama “Shafarul Khair” yang berarti bulan Shafar yang penuh kebaikan.

 

Rasul SAW sejak dahulu sudah menolak keyakinan yang keliru seperti ini. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :

لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر

“Tidak ada “adwa” penularan penyakit, tidak diperbolehkan “tiyarah” meramalkan adanya hal-hal buruk, tidak boleh “hammah” berprasangka buruk dan tidak ada keburukan dalam bulan Shafar.” [HR Bukhari Muslim]

 

Dalam hadits ini, Rasul bersabda : “Walaa Shafara” yang arti lettelijk nya “tidak ada bulan Shafar. Asyhab berkata: Malik suatu saat ditanya mengenai hadits ini maka beliau menjawab :

سَمِعْتُ أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ يَسْتَشْئِمُونَ بِصَفَرٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صَفَرَ

Aku mendengar bahwa orang-orang jahiliyah menganggap sial dengan bulan shafar maka Nabi SAW bersabda demikian. [HR Abu Daud]

 

Jadi menurut ajaran Islam, semua bulan dan hari itu baik, masing-masing mempunyai sejarah, keistimewaan dan peristiwa sendiri-sendiri. Jika bulan tertentu seperti bulan Ramadlan memiliki keistimewaan dengan adanya peristiwa Nuzul al-Qur’an dan Lailat al Qadar, dan bulan Rajab ada Isra’ dan Mi’raj serta bulan Rabi’ul Awwal ada peristiwa Maulid Rasulullah SAW bukan berarti bulan yang lain merupakan bulan yang buruk. Jikalau ada peristiwa yang memilukan dalam sebuah bulan, itu bukan berarti bulan tersebut merupakan bulan musibah yang penuh kesialan. Namun itu semua mestinya lebih mendorong kepercayaan kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk dan kita tidak mengaitkannya dengan kesialan suatu hari atau bulan tertentu.

 

Tidak hanya bulan shafar, Orang-orang Jahiliyah juga meyakini bulan Syawal sebagai bulan wabah penyakit karena pernah terjadi banyak orang mati pada bulan syawal khususnya dari kalangan pasangan pengantin pada bulan itu, dan beberapa pasangan tidak memiliki keturunan. Maka sejak itu Alvers, mereka tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal karena terkena musibah. Keyakinan seperti ini ditentang Nabi Muhammad SAW. Sayyidah Aisyah RA berkata:

تزوجني رسول الله صلى الله عليه وسلم في شوال وبنى بي في شوال فأي نساء رسول الله صلى الله عليه وسلم كان أحظى عنده مني

“Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal, berkumpul (membina rumah tangga) dengan saya pada bulan Syawal, maka siapakah dari isteri beliau yang lebih beruntung daripada saya?”  [HR Muslim]

 

Al-Imam Ibn Hajar al-Haitami berpendapat dalam kitabnya Fatawa Al-Haditsiyah jika ada orang mempercayai adanya hari nahas (sial) dengan tujuan berpaling darinya atau menghindarkan suatu pekerjaan pada hari tersebut dan menganggapnya terdapat kesialan,

وَأَن ذَلِك من سنة الْيَهُود لَا من هدي الْمُسلمين المتوكلين على خالقهم وبارئهم الَّذين لَا يحسبون وعَلى رَبهم يَتَوَكَّلُونَ،

maka sesungguhnya yang demikian ini termasuk tradisi kaum Yahudi dan bukan sunnah kaum muslimin yang selalu tawakkal kepada Allah dan tidak berprasangka buruk terhadap Allah. Sedangkan jika ada riwayat yang menyebutkan tentang hari yang harus dihindari karena mengandung kesialan, maka riwayat tersebut adalah bathil, tidak benar, mengandung kebohongan dan tidak mempunyai sandaran dalil yang jelas, untuk itu jauhilah riwayat seperti ini. [Fatawa Al Haditsiyah]

 

Jadi kesimpulannya alvers, bahwa dalam ajaran islam semua hari adalah baik, dan masing-masing ada keutamaan tersendiri maka hari di mana kita menjaganya dan mengisinya dengan kebaikan dan ketaatan itulah hari yang sangat menggembirakan bahkan menjadi hari raya buat kita. Seperti dikatakan oleh Sayyidina Ali KW :

وكل يومٍ لانعصي الله فيه فهو لنا عيد

setiap hari dimana aku tidak bermaksiat kepada Allah pada hari itu, itulah hari rayaku.[Ihya Ulumuddin]

 

Dan sebaliknya alvers, kesialan kita sesungguhnya adalah hari dimana kita melalaikan kewajiban bahwa melakukan maksiat kepada sang khaliq Allah swt. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menjadikan setiap hari dari sisa umur kita bernilai karena ketaatan kita dan keberkahanNya.

 

Salam Satu Hadith,

DR.H.Fathul Bari, Malang, Ind

 

Kajian Hadits Sistem SPA

(Singkat, Padat, Akurat)

BUKU ONE DAY ONE HADITH SERIAL 2

(Motivasi Bahagia dari Rasul SAW) Telah Terbit

ISBN : 9786026037909

Pesan Antar : 08121-674-2626

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: