24 September, 2018
  • 24 September, 2018
hari nahas

Hari Nahas Dalam Islam

By on 16 Desember, 2014 0 227 Views
Alvers, Tahukah anda bahwa istilah hari nahas ternyata ada dalam al-quran dan hadits. Simak firman Allah swt :

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ

“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada HARI NAHAS YANG TERUS MENERUS.” (Q.S al-Qamar (54:19)
Imam al-Bagawi dalam tafsir Ma’alim al-Tanzil berkata :

قيل: كان ذلك يوم الأربعاء في آخر الشهر.

Dikatakan: hari nahas tersebut adalah hari Rabu akhir bulan.
Simak Juga Haditsnya :

آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ.

“Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya sial terus.” (Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Jami’ al-Shaghir, juz 1, hal. 4)
Begitu juga dalam kitab Mujarrabat al-Dairabi al-Kabir :
“Sebagian orang-orang yang ma’rifat kepada Allah menyebutkan, bahwa dalam setiap tahun akan turun tiga ratus dua puluh ribu malapetaka, semuanya terjadi pada Rabu terakhir bulan Shafar, sehingga hari tersebut menjadi hari tersulit dalam hari-hari tahun itu.
“Barangsiapa yang menunaikan shalat pada hari itu sebanyak 4 raka’at, dalam setiap raka’at membaca al-Fatihah 1 kali, Surat al-Kautsar 17 kali, surat al-Ikhlash 15 kali dan mu’awwidzatayn 1 kali, lalu berdoa dengan doa berikut ini, maka Allah akan menjaganya dari semua malapetaka yang turun pada hari tersebut.”

 

NAMUN TAHUKAH ALVERS,

 

Pertama,

Bahwa Ayat HARI NAHAS YANG TERUS MENERUS. (Q.S al-Qamar (54:19) itu konteksnya adalah ancaman kepada kaum Ad yang berupa adzab angin topan.

Kedua,

Perkataan Imam al-Bagawi dalam tafsir Ma’alim al-Tanzil di atas, cuman menukil pendapat yang lemah sekali sehingga beliau mengatakan QIILA (Katanya, Jarene) dan itupun tanpa mengaitkannya dengan bulan shofar

Ketiga,

Hadits dalam al-Jami’ al-Shaghir tadi statusnya (dlo’if) lemah. Karena dalam mata rantai sanadnya terdapat perowi yang bernama ibrahim bin abi hayyah yang dikatakan oleh al-bukhari bahwa haditsnya munkar.

Redaksi yang sama ditemukan dari jalur lain yaitu yahya bin a-ala’ seorang pembuat hadits palsu. Hadits dengan redaksi yang mirip juga kami temukan namun haditsnya palsu, haditsnya sbb:

ويومُ الأربعاءِ يومُ نحسٍ ، قَرِيبِ الخُطَا ، يَشِيبُ فِيهِ الولدانُ ، وفيهِ أَرْسَلَ اللَّهُ الرِّيحَ عَلَى قومِ عَادٍ ، وفيه وُلِدَ فرعونُ ، وفيه ادَّعى الرُّبوبيَّةَ ، وفيه أهلكَهُ اللَّهُ

 

Hari rabu adalah hari nahas (sial) langkah-langkah keki menjadi dekat (berat), Anak-anak jadi beruban, pada hari itu Allah menghancurkan kaum ad dengan angin topannya, hari itu dilahirkan fir’aun dan pada hari yg sama ia menndakwakan dirinya sebagai tuhan dan pada hari rabu juga Allah membinasakan fir’aun.

Keempat,

Keterangan kitab di atas alvers, bertentangan dengan hadits shahih “La Shofara” (tidak benar kepercayaan hari sial dalam bulan shofar) sebagaimana telah kami tulis pada artikel sebelumnya. Menurut anda mana yang lebih layak diikuti? Nabi atau penulis kitab tersebut?

MAKA DENGAN ARGUMENTASI DIATAS

Menurut hemat kami, Sholat yang dilakukan pada malam rabu terakhir bulan shofar, apapun namanya apakah itu sunnah mutlaq, sholat tasbih dll. selagi didasari kepercayaan hari sial bulan shofar maka tidaklah baik dilakukan mengingat yang dilarang adalah masalah aqidah ; kepercayaan pada hari nahas bukan hanya sekedar masalah fikih; status sholatnya.

Kesimpulan kami menjadi semakin kuat karena ada fatwa dari Rais Akbar Syaikh Hasyim Asy’ari, Pendiri NU : Tidak boleh melakukan sholat Rebo Wekasan karena tidak masyru’ah dan tidak ada dalil syar’i, juga tidak boleh memberi fatwa, mempromosikannya dan mengajak orang lain melakukannya..
Wallahu A’lam

Fathul Bari, Alvers

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: