Halal bi Halal yang Menyatukan 01 dan 02

Halal bi Halal yang Menyatukan 01 dan 02

Keramaian Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Äl-Murtadlo

Bertepatan dengan Pembukaan Pengajian Rutin Ahad Legi, santri baru Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Äl-Murtadlo, datang dengan wajah berseri-seri. Hari ini, 30 Juni 2019, adalah hari kedua masuknya santri baru. “Selamat datang santri baru Pondok Pesantren An-Nur II yang jumlahnya mencapai seribu tujuh ratus,” kata pembawa acara pengajian Ahad Legi di awal pembukaan.

Lalu lalang kendaraan kembali padat meski sebagian santri baru datang tempo hari, Sabtu, 29 Juni 2019. Namun kepadatan jalan yang dipenuhi santri baru dan jamaah Ahad Legi masih dapat dikendalikan dengan baik oleh petugas gabungan.

Suara deru kendaraan yang bercampur deringan peluit petugas tak sedikitpun mengganggu kekhusyuan jamaah. Mulai dari pengajian Sahih Bukhari hingga dibukanya acara oleh MC, acara yang diselenggarakan di depan Masjid An-Nur II itu berjalan lancar.

penyambutan dari Kiai Zainuddin Badruddin

Dalam suasana di bulan Syawal ini, Kiai Zainuddin Badruddin membawakan sambutan mewakili majelis keluarga. Dan yang pertama, beliau meminta maaf atas segala kekurangan. “Semoga pembukaan yang juga menjadi Halal Bi Halal ini menjadi awal yang baik bagi kita semua,” harap beliau.

Tentang Halal Bi Halal, Kiai Zainuddin sedikit mencuplik cerita sejarah istilah yang hanya ada di Indonesia. “Halal bi Halal hanya ada di Indonesia, Sampeyan (Anda) ke Arab tidak akan menemukan istilah ini,” kata beliau.

Mengapa? Karena istilah ini dibuat oleh KH. Wahab Hasbullah, asal Jombang. Istilah ini muncul ketika keadaan Indonesia sedang dilanda banyak pemberontakan pasca kemerdekaan. Karena situasi politik demikian, Presiden Sukarno meminta KH. Wahab untuk memberikan istilah untuk acara silaturahmi usai hari raya. “Bung Kano saat itu minta nama acara yang ‘tidak biasa,’” ujar Kiai Zainuddin.

Akhirnya tercetuslah istilah Halal bi Halal yang dikenal hingga sekarang. Asal kata dari istilah ini adalah Tholabu Al-Halal bi Tharikin Al-Halal, mencari kehalalan dengan jalan yang halal. “Yaitu dengan bersilaturahmi ,” pesan beliau.

Tidak perlu lagi berdebat 01 dan 02

Permusuhan politik di masa tersebut dapat diselesaikan dengan silaturahmi yang dikemas dalam istilah halal bi hala. Maka persaingan politik yang baru-baru ini masih menjadi sorotan media, harus bisa menurun tensinya di bulan syawal ini. Terlebih MK telah mengetok palu hasil sengketa pemilu tersebut.

Dandim Kota Malang Kodim 0833, Letkol. Inf. Tommy Anderson memberikan sedikit sambutan sebelum KH. Fathul Bari membawakan Mauidloh Hasan. Dandim yang baru diangkat tersebut menggantikan Letkol. Inf. Bagus Tayo, Dandim sebelumnya.

“Kontestasi politik telah usai, saatnya kita untuk fokus dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat,” beliau berpesan kepada ribuan jamaah yang hadir. Kelompok pendukung dari masing-masing paslon harus sudah saling berkumpul seperti sedia kala.

“Tidak ada lagi istilah 01 dan 02, sekarang waktunya semua bergabung memajukan bangsa ini,” pesan beliau. “Akan jauh lebih baik kalau kita fokus pada kegiatan yang bermanfaat dan fokus beribadah, supaya selamat dunia akhirat,” tutupnya.

(Mediatech An-Nur II/MFIH)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: