Habib Ja’far: Miliki Hati yang Bersih, Amal Berfaedah, Kaya Nan Dermawan
Pengajian Rutinan Ahad Legi 19 April 2026
Oleh: Habib Ja’far bin Utsman Al-Jufry, Khadimul Majelis JMC (Ja’far Mania Community)
annur2.net – Zaman dewasa ini, kegiatan harian sudah sangat beragam. Terlebih dengan kemajuan teknologi yang pesat memunculkan plus dan minus dari berbagai sisi. Syukur kalau kegiatan tersebut positif dan bermanfaat, tapi bermasalah kalau sebaliknya.
Di antara banyaknya kegiatan ada yang menambah keimanan dan ketaatan kita. Tentu itu adalah kegiatan yang positif dan ibadah, entah yang berhubungan dengan Allah maupun manusia. Meskipun hanya senyuman, itu sudah cukup menjadi amal baik. Nabi Muhammad pun memiliki akhlak seperti itu. Para sahabat menyatakan Nabi lebih banyak tersenyum.
Sebab Nabi pernah bersabda,
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. At-Turmudzi)
Namun melakukan kegiatan yang membangkang Allah, seperti maksiat, tanpa kita sadari iman terkikis. Sampai-sampai melakukan dosa yang sangat besar menandakan Allah menghilangkan iman hamba tersebut. Maka dari itu, jangan pernah meremehkan keburukan sedikit apapun.
Kadang beberapa orang malam melakukan kebaikan. Habib Umar bin Hafidz, guru Habib Ja’far, “Kalau terbesit rasa malas untuk hadir ke majelis ilmu, hati-hati, bisa jadi bukan kita yang malas, tapi ruhani majelis itu yang malas kepada kita.”
Padahal yang termasuk faedah dari menghadiri majelis ilmu itu menhindarkan kita dari perkara-perkara yang tidak pantas. Nabi Muhammad saw., pernah bersabda, “Suatu kegiatan yang terbaik adalah meninggalkan hal-hal yang unfaedah.” Pantas, semua kegiatan beliau 1×24 jam memiliki faedah seluruhnya.
Akan tetapi yang ditakutkan adalah ketika seseorang malah terjerumus melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat. Bahkan kadang ada orang yang mulutnya bagus, ucapannya baik, tapi tangannya berlaku sebaliknya. Secara tidak sadar melakukan scrolling dan share konten yang tidak memberikan manfaat kepada orang lain.
Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki kebencian kepada hal-hal yang tidak berfaedah. Supaya tidak mengatakan hal-hal yang merugikan, beliau mengambil kerikil halus dan mengulumnya. Ketika ingin mengatakan sesuatu yang bermanfaat beliau mengeluarkan keikil dan berbicara.
Setelah mengatakannya dan takut ucapannya menyakiti orang lain, Abu Bakar memasukkan kerikil itu lagi ke mulut beliau. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan, “Seandainya ucapan merupakan perak, maka diamnya dari melukai seseorang adalah emas.”
Hati yang Bersih Pengantar Masuk Surga
Selain itu dalam sebuah riwayat, ada seseorang yang naik derajatnya karena menjaga dari hal-hal yang merugikan. Suatu ketika, Nabi berkata, “Wahai para sahabat, aku tunjukkan sesuatu. Orang yang pertama kali masuk ke pintu itu adalah penghuni surga.” Para sahabat pun semakin penasaran. Apalagi para sahabat sangat bersyukur bisa hidup bersama Nabi Muhammad saw. rasa bahagianya melebihi bahagia kepada harta kekayaan. Mereka hanya mengharapkan surga.
Ternyata yang pertama kali masuk ke pintu adalah Abdullah bin Salam. Para sahabat pun bertanya kepadanya, “Wahai Abdullah bin Salam, apa amalan yang paling engkau cintai yang memasukkanmu ke surga?” Abdullah menjawab, “Amalku itu biasa saja.” Abdullah bin Salam merasa biasa saja dengan amalnya. Para sahabat meminta, “Beritahu kami, wahai Abdullah.” Abdullah, “Mungkin karena hatiku bersih. Aku tidak pernah dendam dan dengki kepada orang orang lain. Tidak pernah menyakiti orang lain. Aku tidak pernah suudzon kepada oang lain. Juga tidak pernah melakukan hal- hal yang tidak berfaedah.”
Jadi perkara yang mengantar Abdullah bin Salam ke surga adalah karena hatinya bersih dari hal yang unfaedah. Bukan karena ribuan puasa sunah dan salat sunah maupun amal baik lainnya. Beliau saling memaafkan dan jarang sekali melakukan kegiatan yang tidak ada manfaatnya.
Maka kalau ingin masuk surga: pertama hati yang besih dan kedua tidak melakukan perkara yang unfaedah. Misalnya healing naik sepeda motor. Tidak hanya makan angin, tapi kalau bertemu teman, silaturahmi kepada mereka. Itu sudah ibadah dan berfaedah.
Kedermawanan Abdurrahman bin Auf Tidak Menghabiskan Kekayaannya
Seorang sahabat bernama Abdurrahman bin Auf terkenal saudagar yang kaya raya di antara para sahabat. Suatu ketika beliau masuk ke rumah Nabi bersama sahabat yang lain, Nabi menyebutkan nama-nama sahabat yang masuk surga sambil menunjuk mereka.
Tapi nama Abdurrahman bin Auf disebutkan paling akhir dan ada tambahan “bi fudhuli amwalihi” (). Sebab beliau memiliki harta yang banyak dan harus dihisab terlebih dahulu. Akhirnya beliau berdoa, “Wahai Rasulullah, aku ingin masuk surga bersamamu. Harta ini tidak ada apa-apanya kalau tidak bersamamu.” Namun Nabi menegaskan kalau Abdurrahman tidak bisa masuk surga lebih awal karena hartanya harus dihisab dulu.
Akhirnya Abdurrahman bin Auf pulang dan mengumpulkan semua hartanya hingga menyisakan satu keledai dan dua helai baju untuk dua musim. Semua hartanya disedekahkan kepada para muslim terutama fakir miski dan baitul mal.
Namun Nabi pernah mengatakan, “Tidak ada sedekah itu berkurang kecuali bertambah, bertambah, dan bertambah.” Awalnya beliau bangga bisa miskin. Nyatanya harta beliau justru semakin bertambah.
Saat Abdurrahman bin Auf pulang, beliau berdoa, “Ya Allah, hidupkan aku dalam keadaan miskin. Matikan aku dalam keadaan miskin. Bangkitkan aku bersama orang-orang miskin.” Beliau memegang teguh ucapannya.
Suatu ketika terjadi paceklik yang menyebabkan semua pertanian kurma gagal dan membusuk. Para petani mengeluh. Akhirnya Abdurrahman mengambil kesempatan itu untuk membeli kuma-kurma busuk itu dengan harta dua kali lipat hingga hartanya habis. Beliau bangga sudah miskin lagi dan menemui Nabi lagi. Beliau sampai tiga hari dalam keadaan miskin.
Saat itu ada segerombolan kafilah dari Yaman dan negara-negara lainnya menemui Nabi. Mereka mentakan, “Ya Rasulullah, di wilayah kami ada sebuah penyakit kulit yang obatnya hanya kurma busuk. Kami rela Ya Rasulullah akan bayar empat kali lipat untuk mendapatkannya.”
Mendengar itu, Abdurrahman bin Auf murung lagi. Beliau ingin miskin. Tapi takdir membuatnya sebagai orang yang kaya raya. Akhirnya kafilah-kafilah tersebut membeli semua kurma busuk dai Abdurrahman bin Auf dengan harga empat kali lipat. Abdurrahman murung karena ia menjadi kaya lagi. Akhirnya beliau tetap menjadi sahabat Nabi yang kaya raya.
Pesan Habib Ja’far untuk Muslim Zaman Ini
Namun untuk zaman ini, Habib Ja’far bin Utsman Al-Jufry berpesan agar orang-orang muslim harus kaya. Tidak hanya kaya secara zahir, yakni harta, tapi juga kaya secara batin, yaitu dermawan. Setelah memiliki kekayaan, harus memperhatikan pondok pesantren, TPQ, ustaz, dan guru agar kebutuhan tercukupi. Mestinya ada sedekah kepada mereka agar tidak terjerat kemiskinan.
Maka dari itu, Habib Ja’far juga menambahi pesan, “Pondok-pondok pesantren diperhatikan, ustaz-ustaz, TPQ-TPQ, kampung-kampung itu diperhatikan. Yak nopo berase, yak nopo sembakone, yak nopo kehidupane. Diperhatikan, wahai orang yang kaya raya! Ojok sampek wayahe guru ngaji niku tulis Ba’ keliru Ta’. Soale eleng ambek tahu goreng, macem-macem.”
(Riki Mahenda Nur C./Mediatech An-Nur II)