“Melupakan Allah itu dosa. Melupakan orangtua, itu durhaka. Melupakan An-Nur, mana bisa.” Selasa malam (29/03/2022), Sambil tersenyum, Kiai Miftah Maulana Habiburrahman atau yang kerap disapa Gus Miftah mampu memecah suasana. Di pelataran Masjid An-Nur, para santri bersorak dengan ucapan terakhir dalam tausiyahnya itu.
Meski tempat acara sempat diguyur hujan deras beberapa saat sebelum dimulainya acara dan sedikit becek, tak menghalangi niatan santri An-Nur II dalam menghadiri acara kunjungan perdana Kiai pengasuh Ponpes Ora Aji, Kalasan, Sleman, Jogjakarta tersebut. “Mau mencari keberkahannya. Tak peduli tempat basah habis hujan,” ujar Firuddin, santri kelas enam diniyah.
*Sambutan dan Perjuangan Menyambut Sunan Kalijogo Milenial*
Ditemani lantunan selawat dan tabuhan rebana yang dipersembahkan tim Al-Banjari An-Nur II sejak usai jemaah Isya di panggung acara, para santri putra yang berada di pelataran masjid dan santri Putri di area maqbarah KH. M. Badruddin Anwar pun tidak habis semangat menunggu kehadiran kedatangan Gus miftah.
Pukul 09.30 WIB. Berjalan santun, lengkap dengan blangkon Jawa, hem biru, kacamata hitam dan membawa tongkat, sosok yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh para santri dan masyayikh An-Nur II itupun hadir dan menaiki panggung acara. Ustaz Badri Ihya, MC (Master of Ceremony) seketika membuka acara pada malam hari itu seusai menapaki kedatangan beliau.
Sesi pertama, Kiai Ahmad Zainuddin Badruddin, M.M. mewakili keluarga besar Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” pun kebagian mandat untuk memberikan sambutan. “Semoga para santri mendapat dakwah yang merangkul, bukan memukul,” ucap Kiai Zainuddin, mengingat Gus Miftah adalah sosok yang penuh toleransi dan memiliki cara unik dalam berdakwah.
“Kalau boleh saya katakan, beliau adalah perwujudan Sunan Kalijogo di era milenial saat ini,” kata Kiai Zainuddin. Bagi Kiai Zainuddin, Gus Miftah adalah sesosok ulama yang memiliki kemapuan dan keunikan tersendiri di setiap dakwahnya layaknya Sunan Kalijogo beberapa abad silam. Beliau selau mengajak, bukan selalu mengejek.
Setelah sambutan dari Kiai Zainuddin usai, sesi pun dilanjut ke acara inti: tausiyah Gus Miftah di area Masjid An-nur II.
*Keunikan, Sisi Langka nan Berniai Mahal*
“Nasab itu penting, tapi nasib lebih penting,” tegas beliau di tengah tausiahnya disusul gelak tawa para santri. Bagi cucu ke-9 Kiai Ageng Besari itu, sebaik apapun nasab seseorang, tidak akan mejamin sepenuhnya naib seseorang tersebut. Begitu pula sebaliknya.
Maka dari itu, diperlukan usaha yang menyertai pemberdayaan nasib bagi setiap orang untuk memenuhi tantangan kehidupan. Salah satunya adalah menjadi beda dan langka. Bagi beliau, “Beda” itu adalah sesuatu yang mahal. Dan uniknya, beliau sangat yakin, dalam jati diri setiap santri memiliki keunikannya masing-masing yang bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang mahal.
“Otak kita boleh mendunia, tapi hati kita tetap harus membumi,” ucap Gus Miftah dalam wawancara eklusifnya bersama tim Mediatech An-Nur II. Setelah memberikan saran akan krusialnya mencari ilmu dan potensi keunikan kepribadian, tak lupa, beliau tetap menjelaskan satu hal yang beliau tekankan dan tak boleh dilupakan: di balik ilmu yang harus ditunjang, ada akhlak yang tak boleh hilang.
(M. Arif Rahman Hakim/Mediatech An-Nur II)