annur2.net – Sore Sabtu, 7 Maret 2026 di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” tengah terdapat kegiatan Mushafahah Santri Luar Jawa untuk berpamitan kepada pengasuh sebelum berlibur. Hari itu merupakan bagian untuk santri area luar Jawa yang dilaksanakan di Makam pendiri Pondok Pesantren yakni Almaghfurlah Romo KH. M. Badruddin Anwar. Kepulangan santri luar Jawa lebih dulu memang disengaja karena mengingat tempat tinggal yang jauh maka butuh waktu untuk menempuh.
Acara ini dimulai pasca salat Asar dimulai dengan pembacaan tahlil. Tahlil ditujukan kepada pendiri pondok pesantren juga sembari menunggu santri yang mulai berdatangan. Hingga pembacaan tahlil selesai dan santri telah memenuhi seisi makam acara akan dilanjut dengan nasihat oleh pengasuh yakni Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. Beliau mengawali dengan selamat atas liburan kepada santri.
Beliau mengatakan bahwasanya kebahagiaan orang Islam dalam puasa itu ada dua. Pertama, datangnya waktu berbuka dan kedua adalah ketika mereka telah bertemu dengan Allah Swt. Akan tetapi, untuk para santri ini berbeda karena ketambahan satu yakni ketika telah sampai di rumah. Ketika sampai di rumah, para santri harus membantu dan tidak menyusahkan orang tua.
Pengasuh: Senantiasa Menjadi Santri
“Di pondok santri, di jalan santri, di rumah santri.” Ucap Kiai Fathul Bari, bahwasanya santri harus menerapkan ilmu di manapun kita berada. Dari hal itu, sebagai santri dapat membuat orang tua bahagia dan tidak kesusahan. Jangan terlalu banyak meminta-minta kepada orang tua, tapi harus banyak membantu orang tua.
رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ
“Rida Allah, tergantung rida orang tua dan murka-Nya tergantung pada murka keduanya” (HR. Tirmidzi, No. 1899)
Beliau juga mengingatkan bahwasanya santri di rumah sedang melaksanakan puasa. Dari hal itu, sebaiknya santri mengkhatamkan Al-Qur’an dan pergi ke musala untuk menjadi imam serta merawatnya. Orang tua akan bangga jika anaknya melakukan hal tersebut. Kalau orang tua rida, Allah pun rida, ketika semua rida hal atau cita-cita yang kita inginkan akan mudah tercapai.
Akhir kata beliau mengingatkan, “Ingat! Tatkala kamu pulang sampai rumah cari orang tua kamu kemudian minta maaf kepada orang tua, terima kasih kepada orang tua dan minta doa supaya kamu punya cita-cita dimudahkan Allah Swt.” Dengan demikian, sambutan dari Kiai Fathul Bari selesai dan santri akan berpamitan dan bersalaman dengan beliau secara bergantian.
(Zihni Maurizio/Mediatech An-Nur II)