Garis Keras Bukan Islam yang Berkelas
annur2.net – Lafaz takbir sudah berubah menjadi seruan perengut jiwa suci bukan lagi penenang hati. Banyak orang terbelenggu oleh golongan pemecah bangsa berpangkal nilai Islam, katanya. Secara tegas mereka yang masuk golongan tersebut memberontak, mencaci hingga memerangi orang yang berseberangan dengan mereka. Begitu teganya mereka dengan sesama muslim lain, hanya karena yakin surga yang menjadi balasannya.
Golongan keras itu gencar sekali dalam menyebarkan fatwanya. Mereka mulai menyusup di dunia maya dan pemukiman orang-orang awam agar menjadi bidak permainannya. Doktrinasi kekerasan dengan embel-embel jihad untuk menegakkan agama Allah terus mereka asupkan. Agama menjadi tali pengekang bukan sebagai tali pegangan. Apakah seperti ini agama Islam sebenarnya?
لَا تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا , وَلَا تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا , أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ , أَفْشُوْا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah keselamatan di antara kalian.” (HR. Muslim)
مَنْ لَا يَرْحَم لَا يُرْحَم
“Barangsiapa yang tidak menyayangi, niscaya ia tidak akan disayangi.” (HR. Al-Bukhari)
Kedua hadis di atas sangat jelas bahwa agama Islam adalah agama penuh rahmah. Bahkan seseorang bisa beriman saat ia bisa menebarkan kasih sayang. Surga menjadi balasan yang pasti bukan sekedar iming-iming.
Karena itu, garis keras bukan Islam yang berkelas. Mereka hanya berasumsi jalan satu-satunya dakwah adalah memerangi yang tak sejalan. Tanpa perang tiang kebenaran tidak bisa digalahkan. Hanya karena melihat adanya hadis yang berseru perang berkobar hatinya untuk itu. Kepulan asap yang pekat menghalangi mata hatinya melihat secara lengang.
Bisa kita lihat bagaimana dakwah para Wali Songo dahulu. Bukan kekerasan yang mereka pilih melainkan berbaur dengan masyarakat sekitar. Adat istiadat yang sudah ada bukan mereka rampas dan haram-haramkan malah mereka arahkan ke jalan kebenaran. Justru hal seperti itu lebih relevan dengan bangsa Indonesia yang heterogen.
Wanita Jalang yang Bertemu Tuhan
Kasih sayang dan saling mengasihani bukan hanya untuk sesama manusia, hewan dan tumbuhan pula. Memang sudah keharusan setiap individu untuk menebar kasih sayang. Nabi Muhammad sempat berkisah bahwa Allah memberi hidayah-Nya kepada seorang wanita karena anjing.
Wanita itu adalah pelacur, bersenang-senang demi uang. Suatu hari ketika ia berjalan bertemu seekor anjing yang sangat kehausan. Lidah anjing tersebut tampak menjulur mengharap ada yang memberinya minum. Karena kasihan, hatinya tergerak untuk memberi anjing itu minum. Ia lepas sepatunya untuk mewadahi air dari sumur agar anjing itu dapat meminum air di dalamnya. Tak lama setelah kejadian itu, wanita tersebut menemukan jalan menuju tuhan yang Maha Penyayang.
Mulai sekarang sebisa mungkin kita menebarkan kasih sayang kepada manusia, tumbuhan, dan hewan. Jalan terbaik menggapai rida-Nya saat ini adalah saling menyayangi bukan saling sikut sana-sini. Kita tunjukkan agama Islam adalah agama cinta damai dan mengayomi. Karena ciri-ciri orang soleh dan beriman ketika di dalam hatinya tumbuh rasa kasih sayang, sebagai firman Allah Surah Maryam ayat 96:
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمٰنُ وُدًّا ٩٦
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (dalam hati) mereka.”
Sebab itu, rasa kasih sayang harus mengakar kuat di lubuk hati setiap orang. tanpa itu kehidupan akan bergoncang. Seorang ibu yang tega membunuh anaknya sendiri karena takut kelaparan. Seorang murid yang berani membacok gurunya sebab nilainya tidak memuaskan. Semangat memberantas kekafiran dengan pengeboman hingga nyawa-nyawa tak berdosa turut melayang. Hanya orang celaka yang kasih sayangnya hilang. Rasulullah pernah berujar,
لا تُنْزَعُ الرحمةُ إلاّ مَنْ شَقِيَ
“Tidaklah kasih sayang itu dicabut kecuali dari orang yang celaka.”
(Ahmad Basunjaya I.K.F./Mediatech An-Nur II)
