Fitalis Agung, Katolik yang Masuk Islam di Hadapan Ribuan Jamaah Ahad Legi

Seorang Katolik duduk di depan KH. Fathul Bari ketika beliau memberikan sambutan pada Pengajian Rutin Ahad Legi (10/02). Dibimbing Kiai Fathul, ia melafalkan dua kalimat syahadat di hadapan ribuan jamaah yang hadir. Ia pun resmi menjadi seorang muslim.

Mualaf itu dilahirkan dengan nama Fitalis Agung. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Kiai Fathul memberikannya nama Mukhlis Akbar. Tinggal di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, ia hidup di tengah-tengah keluarga Katolik. Namun sebenarnya, ia punya nenek seorang muslim.

Karena neneknya itulah ia bertekad untuk masuk Islam. Mahasiswa jurusan Administrasi Negara itu mengaku keluarganya memberikan restu atas keislamannya. Karena baginya, Islam adalah agama yang baik. “Saya berharap dengan agama yang baik ini, saya bisa menjadi lebih baik lagi,” ujarnya ketika ditemui usai pengajian siang itu.

Dalam do’a yang dirapalkan, Kiai Fathul berharap Mukhlis Akbar dan semua jamaah senantiasa diberikan nikmat iman hingga akhir haya nanti. Karena “Wong urip iku gurung mesti (Orang hidup itu belum pasti),” terang beliau.

Berharganya Nikmat Islam

Di kehidupan ini, Allah mencukupi semua urusan dunia seluruh mahluknya. Akan tetapi, nikmat iman dan Islam hanya diberikan kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya. “Semoga kita termasuk dalam hamba yang dicintai oleh Allah,” doa Kiai Fathul mengharap hidayah.

Di awal sambutannya Kiai Fathul telah menceritakan seorang mubaligh yang sudah terkenal di Malang. Namun sayangnya di masa hidupnya mubalig tersebut berpindah agama. Bahkan jasadnya pun tidak dikubur, melainkan dikremasi dan dibuang ke laut.

Setelah ditelusuri, ternyata orang tersebut berpindah agama lantaran mengagumi orang non-Islam yang telah menyembuhkan penyakitnya. “Tentu ini adalah sebuah musibah yang besar bagi kita semua,” ujar Kiai Fathul.

Mengutip sebuah hadis sahih, Kiai Fathul menyampaikan bahwa kita tidak boleh mudah kagum kepada seseorang hingga kita melihat bagaimana akhir hayatnya. “Kalau orang itu masih hidup, kita tidak tahu akhirnya nanti Khusnul Khatimah atau Su’ul Khatimah,” jelas beliau.

Karena itulah hati, yang dalam bahasa Arab berarti Al-Qolbu. Kata itu sendiri diambil dari kata kerja Qolaba yang berarti berbalik-balik. “Tidak dinamakan hati kecuali ia selalu berbalik-balik,” terang beliau.

Dalam melihat orang, kita harus melihat hatinya, bukan dari penampilannya. Kiai Fathul mencontohkan dengan sandal Fir’aun yang terbuat dari emas. Namun meskipun begitu, sandal itu masuk ke neraka bersama pemiliknya. Berbeda jauh dengan bangkiak Bilal bin Rabbah yang hanya terbuat dari kayu. Tetapi dalam sebuah riwayat hadist, bunyinya terdengar di surga.

Selain itu, orang juga tidak dilihat dari masa lalunya. Kiai Fathul mencontohkan Sayyidina Umar yang dulunya pernah ingin membunuh Nabi, namun justru setelah meninggal ia dikuburkan di sebelah makam Nabi SAW. Begitu pula Khalid bin Walid. Sebelum masuk Islam, ia sangat membenci Nabi. Walakin setelah Allah memberikan hidayah, ia memeluk Islam dan menjadi panglima perang Islam yang bertempur di garis depan.

Maka dari itu, beliau mengajak seluruh jamaah, baik yang hadir maupun yang menonton lewat Live streaming di YouTube, untuk senantiasa berdoa memohon nikmat iman hingga akhir hayat. “Ya Allah tetapkanlah kami pada jalan yang lurus, yaitu agama Islam.”

(MFIH/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: