Fastabiqul Khorat, Sebuah Kompetisi??

 

lombaKehidupan di dunia fana ini memberikan kita berbagai pilihan. Maka sudah menjadi suatu kepastian bagi seorang manusia untuk memilih salah satu dari pilihan tersebut, karena tidak akan mungkin suatu yang wujud akan menyandang 2 perkara yang bertolak belakang sekaligus. Menjadi hitam atau putih, memilih senang atau sedih, berbudi baik atau menjadi seorang pekerti buruk, itu semua beberapa pilihan yang disodorkan oleh sang kholiq untuk para hambanya di panggung dunia ini. termasuk juga memilih menjadi seorang pemenang atau malah menjadi

seorang yang bertekuk lutut berlabel pecundang. Berbagai macam pilihan tersebut seolah-olah juga meengisyarahkah tentang berlangsungnya sebuah kompetisi yang terjadi apabila pilihan kita jatuh pada hal-hal positif, karena sudah menjadi ketentuan, bahwa sesuatu yang positif tersebut tidak akan kita dapatkan tanpa adanya perjuangan, dan juga berlaku sebaliknya, apabila hanya berdiam saja tanpa melaukan apa-apa maka harus terima dengan label seorang pecundang.

Sebagai umat islam tentu tidak asing bagi kita istilah Fastabiqul Khoirat ( berlomba-lomba pada hal kebaikan) kompetisi dalam memperebutkan sebuah kebaikan merupakan sebuah perintah dari Allah SWT. Yang terdapat jelas pada sebuah firmannya dalam Al Qur’an al karim. Perintah berlomba kepada kebaikan mengandung ajakan agar seseorang berusaha dan bersemangat menjadi orang pertama yang berbuat kebaikan. Barang siapa             yang ketika di dunia bersegera kepada kebaikan berarti ia adalah orang yang terdepan di akhirat menuju surga-surga Allah. Dengan demikian, orang-orang yang berlomba atau terdepan dalam kebaikan adalah hamba-hamba yang tinggi derajatnya.

Tidak seperti kompetisi lainnya yang menggunakan kekuatan fisik sebagai tolak ukur pemenangnya, bukan pula seperti olimpiade sains yang menuntut para pesertanya mempunyai kelebihan kejeniusan otaknya, juga bukan pula seperti judi yang mengandalkan keberuntungan serta kelicikan pemainnya, menjadi juara dalam perlombaan amal soleh hanya mengandalkan keikhlasan tinggi dalam menjalaninya serta kemauan besar untuk memperoleh ridho Allah dan juga kemurnian cinta padaNya, merupakan modal utama dalam kompetisi kebaikan ini. Bumi yang menjadi tempat tinggal manusiapun seolah menjadi sebuah stadion yang sangat besar yang disiapkan oleh Allah SWT. Demi menghelat kompetisi dahsyat ini.

Rasulullah SAW. yang mulia pun telah menganjurkan kita agar bersegera dalam beramal. Anjuran ini didapatkan pada sabda beliau yang tersampaikan lewat sahabat yang mulia, Abu Hurairah RA:

بادروا بالأعمال فتناً كقطع الليل المظلم يصبح الرجل مؤمناً ويمسي كافراً ويمسي مؤمناً ويصبح كافراً يبيع دينه بعرضٍ من الدنيا

Artinya:“Bersegeralah kalian beramal saleh sebelum kedatangan fitnah (ujian) yang seperti potongan malam. Seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman (mukmin) namun di sore harinya menjadi kafir; dan ada orang yang di sore hari dalam keadaan beriman namun di pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim)

 

Ujian syubhat dan syahwat akan datang seperti malam yang gelap gulita. Tidak ada cahaya sama sekali. Karena fitnah yang terjadi, dalam hari yang sama seseorang keluar dari Islam, pagi hari ia masih beriman namun sore hari telah kafir atau sebaliknya. Mengapa demikian? Ia menjual agamanya dengan dunia, baik berupa harta, kedudukan, jabatan, wanita, maupun selainnya. Hadits di atas berisi anjuran untuk bersegera mengerjakan amal saleh sebelum datang waktu yang menyebabkan seseorang tidak bisa mengerjakannya. Waktu yang seseorang tidak bisa mengerjakannya karena fitnah yang besar dan bertumpuk-tumpuk, seperti tumpukan gelapnya malam yang gulita tanpa cahaya sedikitpun.

Pada zaman Nabi, ada seorang sahabat yang dapat kita ambil keteladanannya dalam semangat bersegera kepada kebaikan, bersegera kepada surga Allah yang amat luas. Ketika terjadi perang Uhud, seorang sahabat tersebut bertanya kepada Rasulullah SAW.:

أرأيت إن قتلت فأين أنا؟ قال: في الجنة فألقى تمراتٍ كن في يده ثم قاتل حتى قتل

Apa pendapat Anda jika aku terbunuh, di manakah tempatku?” “Di surga,” jawab Rasulullah. Orang itu pun membuang beberapa butir kurma yang ada di tangannya. Ia kemudian maju berperang hingga terbunuh. (HR. Bukhari dan Muslim).

indexSudah menjadi tuntutan bagi kita semua untuk segera melaksanakan sebuah kebaiakan tanpa menundanya, karena banyak sekali batu penghadang yang dapat mencegahnya, seperti halnya datangnya kematian secara tiba-tiba. Apalagi perbuatan menunda-nunda (mengatakan nanti… nanti) adalah tidak terpuji. Tanamkan di hati anda bahwa kesempatan tidak datang berulang kali pada orang yang menyia-nyiakannya, tetapi akan datang berulang kali pada orang mengambil kesempatan tersebut meskipun akhirnya mendapatkan kegagalan, dan akan menghilang ketika orang tersebut telah mencapai keberhasilan.

Dalam kompetisi kebaikan tidaklah mengenal kata malu ataupun merasa lebih rendah, siapa yang lebih cepat maka dialah yang akan menjadi juaranya. Maha bijaksana Allah yang menciptakan baik dan buruk, semoga Allah SWT. Berkenan memberikan kita umur panjang supaya dapat menjadi seorang pemenang dalam segala hal kebaikan.

والله اعلم…

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: