Empat Peristiwa Penting Bulan Syakban

syakban, Empat Peristiwa Penting Bulan Syakban, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

                Bulan Syakban dalam penamaan Jawa disebut Ruwah. Sebab, dalam tradisi Jawa, bulan ini merupakan momen krusial untuk kirim doa kepada arwah-arwah keluarga yang sudah meninggal. Tradisi ruwahan ini tak lepas dari tradisi yang dibawa Walisanga saat menyebarkan Islam di tanah Jawa. Selain itu, dalam bulan kedelapan hijriah ini terdapat beberapa peristiwa penting yang patut diingat.

1. Penyerahan rekapitulasi amal.

                Sudah masyhur diketahui kalau di bulan Syakban seluruh amal kita direkap, dikumpulkan, oleh malaikat. Kemudian hasil rekapan amal tersebut diserahkan kepada Allah. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki mengutip sebuah hadis riwayat An-Nasa’i tentang peristiwa rekapitulasi ini.

                Hadis ini merupakan dialog antara Usamah bin Zaid dengan Nabi Muhammad SAW. “Wahai nabi, aku tidak pernah melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain sebagaimana engkau puasa di bulan Sya’ban?” tanya Usamah.

                Lantas rasulullah menjawab, “Banyak Manusia yang lalai di bulan Syakban. Pada bulan itu semua amal diserahkan kepada Allah SWT. Dan aku senang kala amalku diberikan pada Allah, sedang aku dalam keadaan puasa.” Agaknya, tujuan nabi sering berpuasa penuh di bulan Syakban agar umat Islam tahu kalau bulan Syakban juga termasuk bulan mulia.

2. Peralihan arah kiblat.

                Di Madinah terdapat masjid yang masyhur selain masjid Nabawi. Masjid itu bernama masjid Qiblatain, masjid dua kiblat. Sebelumnya masjid tersebut bernama masjid Bani Salamah. Kemudian namanya diubah seperti itu untuk mengingat peristiwa peralihan kiblat, yang semula menghadap Baitu Al-Maqdis dialihkan ke masjid Al-Haram. Dan ini, menurut Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami’ li Ahkami Al-Qur’an, terjadi di bulan Syakban. Meski, di riwayat lain disebutkan kalau ayat tersebut turun pada bulan Rajab.

3. Penurunan ayat anjuran selawat.

                Ibnu Abi Shai Al-Yamani mengatakan, bulan Syakban adalah bulan selawat. Karena pada bulan itulah ayat tentang anjuran selawat diturunkan. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengatakan ayat ini turun pada bulan Syakban tahun dua hijriah. Anjuran selawat dalam Al-Qur’an termaktub dalam surah Al-Ahzab ayat 56 yang berbunyi,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sungguh Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, selawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

4. Malam Nishfu Sya’ban.

                Imam As-Subki dalam tafsirnya menyebutkan kalau malam nishfu Sya’ban menghapus dosa-dosa setahun, malam Jumat menghapus dosa seminggu, dan malam lailatu Al-Qadar menghapus dosa seumur. Sehingga, menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan amal-amal kebaikan sangat dianjurkan untuk memperoleh keutamaan tersebut. Wa Alahu a’lam.

*Diolah dari beberpa artikel NU Online dan Alif.id

(Muhammad Miqdadul Anam/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: