Dua Perkara Berkesinambungan, Kunci Kesuksesan

, Dua Perkara Berkesinambungan, Kunci Kesuksesan, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Suatu ketika para malaikat mengelilingi suatu majelis. Mengetahui hal itu, Allah bertanya kepada Malaikat Jibril, “Wahai Jibril Apa yang kamu lakukan di sana?” Jibril menjawab, “Mereka sedang mengagungkan nama-Mu di sebuah majelis Ya-Allah.” Mendengar jawaban dari Malaikat Jibri,l Allah bertanya kembali, “Apa yang mereka harapkan?” Jibril menjawab “Mereka mengharapkan rahmatmu wahai Tuhanku.”

Karena mereka mengagungkan nama-Nya, Allah memberikan rahmat-Nya kepada seluruh jemaah yang menghadiri majelis tersebut tanpa terkecuali. Begitu lah cerita yang Kiai

Bahrul Aziz ceritakan pada ceramah Pengajian Rutin Ahad Legi (Internal Santri) di pelataran Masjid Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata), 6 Desember 2020. Selain itu, dalam ceramahnya, beliau juga menyampaikan dua perkara penting yang saling

berkesinambungan. Perkara pertama adalah, “Banggalah menjadi santri!” Beliau berkata di depan para jemaah pengajian tersebut yang terdiri dari para santri. Beliau memberikan cerita tentang perkara pertama tersebut. Cerita tersebut berasal dari pengalaman seorang penggali kubur di Baghdad yang menjadi ulama terkenal di daerahnya, beliau adalah Syekh Abdurrahman Al-Haffar (Tukang Penggali Kubur).

*Dari Penggali Kubur Menjadi Ulama Masyhur*

Cerita itu bermula ketika Abdurrahman (Sebelum Menjadi Ulama) didatangi oleh seorang wanita, wanita itu berkata kepada beliau, “Bisakah aku mememesan satu kuburan untuk nanti siang,” mendengar permintaan dari wanita tersebut, beliau mengiyakan dan langsung menggali sebuah kuburan.

Tak lama kemudian jenazah dari keluarga wanita tersebut datang. Tidak banyak orang yang ikut mengiringi jenazah tersebut. Singkat cerita, jenazah tersebut pun di turunkan ke liang lahat. Abdurrahman lah yang menerima jenazah tersebut untuk dikebumikan, beliau menerimanya seorang diri karena mayat tersebut adalah mayat dari anak remaja.

Ketika menerima mayat tersebut, beliau melihat liang lahat yang akan ditempati mayat itu menjadi taman yang sangat indah. Tak lama setelah itu, datang seseorang yang membawa dua kuda. Seketika, mayat yang masih berada di tangan beliau pun bangun sebelum ia menaiki kuda lalu pergi bersama orang tersebut.

Karena belum dapat mencerna kejadian yang baru saja ia lihat, Abdurrahman pun pingsan. Setelah terbangun, beliau di tanya oleh orang-orang, “Ada apa denganmu?” Beliau menceritakan kejadian yang ia alami kepada orang-orang. Mendengar cerita dari penggali kubur itu mereka tidak percaya.

Beberapa hari setelahnya, perempuan yang sama memintanya untuk membuatkan kuburan lagi dan kejadian yang sama terulang kembali. Karena penasaran, akhirnya beliau mencari tahu, siapa kedua orang yang telah beliau kuburkan itu. Setelah mencari tahu, beliau mendapatkan informasi bahwasanya kedua orang tersebut adalah anak dari seorang ibu, sebut saja namanya Ibu Fulanah.

Beliau bertanya pada Ibu Fulanah, “Apa kedua anak anda memiliki sebuah amalan?” Ibu itu pun menjawab bahwasanya mereka tidak memiliki amalan apapun, mereka hanya seorang kakak dan adik, “Ada sesuatu yang membuatnya berbeda dari anak yang lainya, anak pertama bekerja sebagai tukang kayu untuk membiayai adiknya mencari ilmu.”  

Mendengar cerita dari ibu tersebut beliau mendapatkan kesimpulan bahwasanya, orang yang mencari ilmu dan yang membiayai seseorang yang mencari ilmu dimuliakan oleh Allah. Setelah itu beliau pergi ke Baghdad untuk mencari ilmu.

Sesampainya di sana beliau ditanya oleh calon gurunya, “Kamu sudah tua kenapa masih mau belajar.” Mendengar pertanyaan dari calon gururnya itu beliau menjawab dengan menceritakan kejadian yang ia alami. Setelah mendengar cerita dari calon muridnya itu beliau pun menjawab, “Ya, ayo kita mulai pembelajarannya.”

“Setelah beberapa tahun menuntut ilmu, beliau pun menjadi ulama besar,” pungkas Kiai Bahrul, “Jadi kita harus bangga menjadi santri (Penuntut Ilmu) karena dimuliakan oleh Allah,” imbuh beliau sebelum beranjak ke perkara yang kedua.

Perkara kedua adalah, ketika seseorang telah mendapatkan ilmu ia tidak boleh sombong. Bukan hanya pada perkara pertama saja, pada perkara yang kedua ini beliau juga memberikan cerita tentang seseorang pencari ilmu yang sombong.

*Ilmu Yang Tertinggal*

Dahulu kala ada seorang santri yang sangat pintar, saking pintarnya ia hafal kitab yang sedang dikaji oleh gurunya yang bernama Syekh Abdullah As-Syatiri, pengasuh Pondok Pesantren Rubath Tarim, Yaman. Suatu ketika santri tersebut mendapat undangan ceramah ke luar kota. Karena merasa lebih pintar dari gurunya, santri tersebut pergi ke luar kota untuk memenuhi undangan tersebut tanpa meminta izin kepada gurunya terlebih dahulu.

Mengetahui santrinya pergi sebelum mendapatkan izin darinya, Syekh Abdullah berkata, “Jasadnya berada di sana, tetapi ilmunya berada di di sini.” Guru tersebut berujar. Apa yang dikatakan gurunya pun terbukti, santri tersebut terdiam saat ia berada di podium.

Setelah kejadian yang memalukan itu ia pun kembali ke pesantrennya. Sesampainya di sana, santri tersebut dihampiri oleh temannya, “kamu tadi dicari oleh Kiai, beliau marah lalu berkata ‘Jasadnya di sana Tetapi ilmunya di sini’.” Mendengar apa yang dikatakan oleh temannya itu ia marah, “Jadi itu penyebab aku terdiam di podium tadi.” Setelah itu santri tersebut pulang ke rumah tanpa pamit kepada kiainya.

Beberapa tahun setelah itu terdengar kabar bahwa santri yang sangat pintar itu menjadi penjual arang. Dari cerita tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwasanya untuk mendapatkan ilmu yang manfaat santri harus menghormati guru atau kiainya.

Walaupun guru tak lebih pintar dari muridnya, hukum menghormatinya masih tetap ada. di akhir ceramahnya, Kiai Bahrul berharap agar para santri diberikan ilmu yang manfaat dan dihindarkan dari sifat sombong.

(Ryan Winawan/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: