Dua Kemuliaan dalam Bersabar

Dua Kemuliaan dalam Bersabar

Dua Kemuliaan dalam Bersabar

Orang sabar disayang Tuhan. Menghadapi pandemi virus Corona di berbagai penjuru dunia, tidak baik dihadapi dengan kecemasan berlebih. Tetap tenang dan menjaga kewaspadaan adalah cara terbaik. Karena ada rencana baik Allah di balik suatu musibah.

Dengan bersikap tenang, Allah akan memberikan hambanya akal pikiran yang jernih. Karena, seperti kata pepatah Arab, “Tidaklah mungkin engkau melihat rupamu di air yang mendidih. Sama tidak mungkinnya ketika engkau dapat melihat suatu hakikat saat kau marah.”

Oleh karena itu, Sayyidah Aisyah meriwayatkan hadis, “Seorang mukmin tidak akan ditimpa suatu kesulitan barang tertusuk duri atau yang lebih, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” Dengan bersabar atas musibah yang kita alami, Allah akan memberi salah satu dari dua kemuliaan: diangkat derajat atau dilebur dosa.

Dalam kitab Umdah Ash-Shabirin karya Ibnu Qayyim, diutarakan atsar Sayyidina Ali bahwa ada tiga tingkatan sabar. Pertama, sabar kala menghadapi musibah, yang memiliki tiga ratus derajat. Kedua, sabar menjalani perintah agama, derajatnya enam ratus. Ketiga, sabar menjauhi larangan agama, ini yang derajatnya paling besar: sembilan ratus derajat.

Maka, sabar bisa dikatakan ilmu tingkat tinggi. Karena cara mempraktikkannya begitu sulit. Yakni, belajarnya setiap hari, latihannya setiap saat, dan ujiannya sering mendadak.

Tertimpa musibah bukan berarti dihinakan. Abu Hurairah meriwayatkan hadis yang berbunyi, “Musibah turun kepada mukminin dan mukminat pada dirinya sendiri, anaknya atau pada hartanya. Sehingga (dengan musibah itu) seorang mukmin tersebut beetemu Allah dalam keadaan tanpa dosa.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Seorang muslim berjalan di kalangan manusia dalam keadaan tanpa dosa.” Ada yang penasaran bertanya pada Abu Bakar, “Bagaimana bisa begitu?” “Orang muslim tidak punya dosa karena dosanya telah dilebur sebab tertimpa musibah,” jawab Abu Bakar. Dialog ini dinukil dari kitab Syu’ab Al-Iman.

Baca juga  Berilmu, Beramal, dan Berdakwah

Bahkah, hadis lain dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan, “Siapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka Ia akan menimpakan musibah padanya.” Artinya, kita harus sabar dan tabah dalam menjalani suatu musibah. Karena itu berarti Allah menghendaki kebaikan di dalamnya.

Dengan begini, maka setiap tindakan seorang muslim senantiasa berada dalam kondisi terbaik. Bersyukur kala mendapat nikmat dan bersabar kala musibah datang. Di sini lah Allah akan menurunkan rahmat terhadap hambanya.

(Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: